Sisi Lain Profesi Kusir Andong Malioboro, Ikon Budaya yang Minim Jaminan Sosial

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 15:20 WIB
Andong di kawasan Malioboro. (Threads/sintawijaya_21)
Andong di kawasan Malioboro. (Threads/sintawijaya_21)

 


RADAR JOGJA -  Sekitar 50 kusir andong di kawasan Malioboro menerima bantuan sosial berupa paket sembako, Minggu (9/8/2026).

Bantuan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas peran para kusir dalam melestarikan transportasi tradisional sekaligus mendukung wisata ramah lingkungan tanpa bahan bakar minyak.

Pembina Yayasan Bersama Berlimpah Berkah selaku pelaksana kegiatan, Moch Arif Toto Rahardjo, menjelaskan andong punya peran ganda.

Untuk menjaga budaya sekaligus mendukung pariwisata yang lebih hijau.

Baca Juga: Harga BBM Agustus 2026 Berubah, Ini Daftar Harga Pertamina hingga Shell

Pembagian bansos ini kebetulan bertepatan dengan momentum Reuni Akbar Pegadaian Angkatan 1992 yang digelar dua hari, 8-9 Agustus 2026.

Bansos untuk 50 kusir andong tersebut bukan berasal dari program pemerintah, melainkan inisiatif sosial peserta reuni alumni Pegadaian angkatan 1992.

Bentuk apresiasi seperti ini tentu patut diapresiasi.

Tapi jika ditelusuri lebih jauh, kondisi kusir andong Malioboro sebenarnya menyimpan persoalan yang jauh lebih struktural dibanding sekadar butuh bansos sesekali.

Baca Juga: Sultan Brunei Cabut Gelar Kehormatan Menantu, Berlaku Mulai Sekarang


Sebuah kajian dari Jurnal Paradigma Universitas Gadjah Mada yang meneliti kelayakan kerja kusir andong Malioboro dari perspektif politik ekonomi dan menemukan hal yang cukup mengkhawatirkan.

Dengan memakai indikator kerja layak dari International Labour Organization (ILO), penelitian ini menyimpulkan bahwa keamanan kerja, kesempatan kerja, perlakuan yang setara, dan jaminan sosial bagi kusir andong masih berada di bawah standar layak.

Dengan kata lain, di balik citranya sebagai ikon budaya yang dibanggakan, profesi kusir andong sebenarnya minim perlindungan formal, tidak punya jaminan sosial yang memadai, dan pendapatannya sangat bergantung pada jumlah wisatawan harian.

Baca Juga: Petani Jateng Mulai Tinggalkan Pompa Diesel, Tenaga Surya Bikin Biaya Produksi Lebih Irit

Sebelumnya, upaya membantu kusir andong lebih banyak berbentuk modernisasi sistem pembayaran lewat QRIS, hasil kolaborasi Pemkot Yogyakarta, Bank Indonesia, dan Bank BPD DIY, dengan tujuan membangun rekam jejak transaksi (credit profile) yang bisa membantu meningkatkan pendapatan kusir secara lebih terstruktur.

Namun baik bansos sembako maupun modernisasi pembayaran, keduanya sama-sama menyentuh gejala, bukan akar masalah.

Rekomendasi dari kajian akademik UGM justru mengarah ke hal yang lebih mendasar.

Yaitu diperlukannya intervensi pemerintah berupa penyediaan jalur khusus andong demi keselamatan dan kenyamanan kusir maupun penumpang.

Baca Juga: PSSI Minta Maaf Timnas Indonesia Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026

Di luar minimnya jaminan sosial, kusir andong juga menghadapi tekanan zaman yang terus berubah.

Seperti kehadiran ojek online dan transportasi modern lain yang mengubah kebiasaan wisatawan.

Usia sebagian kusir juga banyak yang sudah lanjut namun tetap harus bekerja karena belum ada sistem pensiun atau jaminan hari tua yang jelas bagi mereka.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Profesi Kusir Andong Moch Arif Toto Rahardjo kusir andong malioboro jaminan sosial ikon budaya