Sembilan Kapanewon Lebih Dua Bulan tanpa Hujan, BMKG: Potensi Kekeringan Masuk Kategori Awas di DIY

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:28 WIB
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

JOGJA - BMKG Yogyakarta menetapkan status awas potensi kekeringan meteorologis di seluruh wilayah DIY. Sebanyak sembilan kapanewon bahkan telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, sehingga masyarakat dan pemerintah daerah diminta mengantisipasi dampak kekeringan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Mamenun mengatakan, peringatan tersebut berlaku bagi seluruh wilayah DIY. Antipasi dampak kekeringan bisa dengan pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien.

“Akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian pertama dan kedua bulan November,” ujar Mamenun dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).

Baca Juga: Terperosok ke Tebing Saat Cari Rumput di Bukit Klangon, Warga Glagaharjo Meninggal Dunia 

Potensi kekeringan ekstrem di wilayah Yogyakarta dipicu adanya aktivitas El Nino yang masih dalam kategori kuat. Fenomena tersebut diprediksi terjadi hingga Desember 2026.

Sehingga membuat kondisi musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Berdasarkan pengamatannya, sejumlah wilayah diketahui sudah mengalami cukup lama hari tanpa hujan. Untuk yang sudah masuk kategori kekeringan ekstrem atau lebih dari 60 hari tanpa hujan di antaranya Kapanewon Bambanglipuro, Bantul, Imogiri, Jetis, Pajangan, Pandak dan Pundong (Bantul), Kapanewon Rongkop (Gunungkidul), dan Temon (Kulon Progo).

Baca Juga: Tembok Sekolah di Ngaglik Ambruk Timpa Peserta Senam, Sepuluh Orang Terluka

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Agustinus Ruruh Haryata kepada wartawan menyampaikan, dalam menangani bencana kekeringan sudah berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) di tingkat kabupaten/kota.

Menurutnya di tingkat daerah masih bisa tertangani karena statusnya masih siaga darurat bencana kekeringan.

Ruruh menegaskan, akan turun tangan apabila pemerintah kabupaten/kota tidak mampu menanggulangi bencana kekeringan. Misalnya dengan bantuan anggaran dropping air bersih melalui skema belanja tidak terduga (BTT).

Baca Juga: Suhu Dingin Jadi Penyebab Kulon Progo Berkabut Setiap Pagi

Senyampang dengan itu, juga terus berkoordinasi dengan sektor swasta untuk membantu penyaluran air bersih ke daerah terdampak.

“Kami di level provinsi siap mem-backup,” tegasnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
tanpa hujan bmkg yogyakarta Awasi DIY potensi kekeringan