Dampak Musim Kemarau Panjang, Kasus Kebakaran di Kota Jogja Meningkat

Zakki Mubarok • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 21:35 WIB
Petugas pemadam kebakaran memeriksa kondisi di dalam bangunan saat proses pendinginan setelah kebakaran yang melanda sebuah tempat biliar dan kafe di Jalan Kolonel Sugiyono, Kota Jogja, Jumat (3/7/2026). Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja.
Petugas pemadam kebakaran memeriksa kondisi di dalam bangunan saat proses pendinginan setelah kebakaran yang melanda sebuah tempat biliar dan kafe di Jalan Kolonel Sugiyono, Kota Jogja, Jumat (3/7/2026). Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja.

 

 JOGJA - Dampak musim kemarau mulai memicu peningkatan potensi bencana di Kota Jogja. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) mencatat adanya lonjakan kasus kebakaran selama dua bulan terakhir. Seiring tingginya suhu udara dan cuaca yang cenderung kering.

Kepala Dinas Damkarmat Kota Jogja Taokhid mengungkapkan, kasus kebakaran dalam dua bulan terakhir lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Mulai Januari hingga Mei, misalnya, kasus kebakaran tertinggi hanya tujuh kali dalam sebulan. Itu pun terjadi pada Maret dan April. Memasuki Juni dan Juli tercatat ada sembilan kasus per bulan.

“Kemudian di awal Agustus ada tambahan 2 kejadian kebakaran lahan,” ujar Taokhid di Balai Kota, kemarin (4/8).

Baca Juga: Kemarau Panjang, Sejumlah Wilayah di Sleman dan Bantul Mengalami Krisis Air Bersih

Ia menyebut, tingginya kasus kebakaran di dua bulan terakhir ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Lantaran pada musim kemarau vegetasi seperti rumput dan tanaman liar pada lahan kosong mengering dan dapat memicu kebakaran jika ada sumber api.

Taokhid mengungkapkan, salah satu kejadian kebakaran lahan terbaru terjadi Minggu (2/8). Berlokasi di lahan kosong yang ditinggalkan pemiliknya di Kelurahan Muja Muju, Kemantren Umbulharjo dengan luas 32 meter persegi. Pemicu kebakaran diduga karena aktivitas pembakaran sampah yang ditinggalkan begitu saja.

Guna mencegah kasus kebakaran terus terjadi, ia menyatakan bahwa pihaknya terus mengedukasi masyarakat untuk tidak membakar sampah atau membuang pemicu api pada lahan kosong. Lantaran api bisa saja merembet ke wilayah pemukiman lalu menimbulkan korban jiwa serta materi.

Baca Juga: Gunungkidul Masuki Puncak Kemarau, Ini Langkah PDAM dan BPBD Mencegah Krisis Air

Lebih lanjut, Taokhid menyatakan bahwa pihaknya juga akan lebih mengintensifkan peran Satuan Tugas Relawan Pemadam Kebakaran di masing-masing kelurahan. Guna mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak membakar sampah.

"Karena disamping mengganggu lingkungan, juga berpotensi menimbulkan kerawanan kebakaran,” katanya.
Sementara itu, Kepala Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Mamenun mengungkapkan, kemarau tahun ini diprediksi bisa terjadi hingga bulan Desember 2026. Lantaran El Nino atau fenomena peningkatan suhu muka laut yang menjadi penyebab kemarau akan bertahan hingga akhir tahun.

“Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau,” pesannya. (inu/zam)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
kebakaran lahan el nino Kebakaran musim kemarau Damkarmat