El Nino Menguat, BMKG Prediksi Ancaman Kekeringan di DIY Meningkat 

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 20:15 WIB
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

JOGJA - Ancaman kekeringan di DIY berpotensi meningkat pada musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut, penguatan indeks El Nino menjadi salah satu faktor yang membuat kemarau diprediksi lebih kering dan panjang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Mamenun mengatakan, fenomena pemanasan suhu permukaan laut tersebut diperkirakan masuk kategori kuat mulai Agustus hingga Desember 2026. Kondisi itu membuat musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kemarau panjang dapat memicu sejumlah bencana. Mulai dari kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.

Baca Juga: Rumah Warga Karangsambung Porak Porandoa usai Diseruduk Bus yang Hilang Kendali

Mamenun meminta, masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama karena Agustus menjadi periode puncak musim kemarau. “Diperlukan tindakan antisipatif dengan mempersiapkan pola tanam agar tidak mengalami gagal panen, serta pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien,” ujar Mamenun dalam keterangannya Minggu (2/8).

BMKG Yogyakarta memperkirakan curah hujan hingga Oktober berada pada kisaran 0–20 milimeter. Kondisi tersebut membuat peluang hujan sangat kecil, ditambah aktivitas angin monsun Australia yang membawa massa udara kering masih berlangsung.

Baca Juga: Ortu Korban Daycare Little Aresha Punya Bukti Anak Ketua Yayasan Terima Aliran Dana, Polisi Belum Tetapkan Tersangka 

Mamenun menyebut, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan mencapai 6 hingga 7 bulan. Lebih panjang dibanding tahun sebelumnya yang berkisar 4 sampai 5 bulan. “Akhir musim kemarau diprediksi pada dasarian satu dan dua bulan November,” bebernya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyiapkan skenario operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi. Hanya saja, OMC baru dapat dilakukan setelah daerah menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi kekeringan. "Provinsi maupun kabupaten bisa mengusulkan ke BMKG atau BNPB. Syarat utamanya daerah sudah menetapkan SK darurat hidrometeorologi kekeringan," jelas Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Tito Wicaksono. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Kekeringan el nino kemarau bmkg yogyakarta DIY