JOGJA - Ancaman kekeringan di DIY berpotensi meningkat pada musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut, penguatan indeks El Nino menjadi salah satu faktor yang membuat kemarau diprediksi lebih kering dan panjang.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Mamenun mengatakan, fenomena pemanasan suhu permukaan laut tersebut diperkirakan masuk kategori kuat mulai Agustus hingga Desember 2026. Kondisi itu membuat musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, kemarau panjang dapat memicu sejumlah bencana. Mulai dari kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.
Baca Juga: Rumah Warga Karangsambung Porak Porandoa usai Diseruduk Bus yang Hilang Kendali
Mamenun meminta, masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama karena Agustus menjadi periode puncak musim kemarau. “Diperlukan tindakan antisipatif dengan mempersiapkan pola tanam agar tidak mengalami gagal panen, serta pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien,” ujar Mamenun dalam keterangannya Minggu (2/8).
BMKG Yogyakarta memperkirakan curah hujan hingga Oktober berada pada kisaran 0–20 milimeter. Kondisi tersebut membuat peluang hujan sangat kecil, ditambah aktivitas angin monsun Australia yang membawa massa udara kering masih berlangsung.
Mamenun menyebut, durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan mencapai 6 hingga 7 bulan. Lebih panjang dibanding tahun sebelumnya yang berkisar 4 sampai 5 bulan. “Akhir musim kemarau diprediksi pada dasarian satu dan dua bulan November,” bebernya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyiapkan skenario operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi. Hanya saja, OMC baru dapat dilakukan setelah daerah menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi kekeringan. "Provinsi maupun kabupaten bisa mengusulkan ke BMKG atau BNPB. Syarat utamanya daerah sudah menetapkan SK darurat hidrometeorologi kekeringan," jelas Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Tito Wicaksono. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita