640 Bentor Terancam Tergusur dari Malioboro, Konversi ke Betrik Belum Tuntas, Penertiban Akan Tetap Berjalan

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 19:15 WIB
Becak motor (bentor) yang melintas di kawasan Jalan Malioboro. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Becak motor (bentor) yang melintas di kawasan Jalan Malioboro. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Sebanyak 640 becak motor (bentor) masih beroperasi di kawasan Malioboro dan terancam tidak lagi bisa melintas saat kebijakan full pedestrian diberlakukan pada akhir 2026. Pemkot Jogja menegaskan penertiban akan tetap dilakukan setelah kebijakan tersebut resmi diterapkan.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya (PKCB) Dinas Kebudayaan Kota Jogja Fitria Dyah Anggraeni mengatakan, pihaknya hanya menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah sehingga tidak memiliki kewenangan menunda penerapan kawasan bebas kendaraan bermotor.

“Kami sebagai eksekutor yang melaksanakan apa yang kemudian sudah ditetapkan,” ujar Anggi saat dikonfirmasi, Jumat (31/7).

Baca Juga: Kisah Operator Sedot WC Kulon Progo, dari Mual 3 Bulan hingga Temukan Palu di Dalam Septic Tank

Menurutnya, jika Malioboro resmi menjadi kawasan full pedestrian, UPT PKCB bersama Dinas Perhubungan Kota Jogja dan Satpol PP Kota Jogja akan menertibkan bentor yang masih beroperasi. Sosialisasi mengenai aturan tersebut juga terus dilakukan. “Kami sifatnya pada saat bentor tidak diperbolehkan masuk misalnya, kami membantu menertibkan,” tegas Anggi.

Data Pemkot Jogja mencatat, terdapat sekitar 900 bentor yang beroperasi di Malioboro. Dari jumlah itu, baru 260 unit yang telah dikonversi menjadi becak listrik (betrik). Sehingga masih tersisa sekitar 640 bentor berbahan bakar minyak.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menargetkan, seluruh bentor beralih menjadi becak listrik pada 2028. Pemkot menyiapkan anggaran Rp 10 miliar hingga Rp 15 miliar pada APBD 2027 untuk mempercepat pengadaan betrik.

Baca Juga: Arsenal Hancurkan Girona 4-1, Max Dowman Bersinar saat Christos Tzolis Cetak Gol Debut

“Harga per unit becak sekitar Rp 35 juta, diperkirakan bisa mencakup pengadaan 300 hingga 400 unit becak listrik,” beber Hasto.

Sebelumnya, ratusan sopir bentor mendatangi Kantor Dinas Perhubungan DIY meminta kebijakan full pedestrian ditunda hingga seluruh armada mereka diganti menjadi becak listrik. Menurut Ketua Paguyuban Becak Motor DIY Parmin, bantuan konversi masih sangat terbatas.

“Kami mendukung full pedestrian demi tercapainya kerja pemerintah, tapi jangan kami dikorbankan,” harapnya. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
betrik becak motor (bentor) full pedestrian bentor Malioboro