Kurator Pertama Nasirun Kenang 33 Tahun Persahabatan, Suwarno Wisetrotomo: Sejak 1993 Saya Yakin Dia Akan Menjadi Seniman Besar

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 13:16 WIB
Kurator Seni Suwarno Wisetrotomo. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Kurator Seni Suwarno Wisetrotomo. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 

 

JOGJA - Bagi kurator, kritikus seni, sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja Suwarno Wisetrotomo, kabar meninggalnya maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026), bukan sekadar kehilangan seorang pelukis besar.

Ia merasa kehilangan sahabat, kolega, dan sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi contoh bagaimana seorang seniman harusnya menjalani hidup.

Hubungan Suwarno dengan Nasirun bukan hubungan yang lahir ketika nama Nasirun telah mendunia.

Suwarno merupakan orang pertama yang menjadi kurator pameran tunggal pertama Nasirun pada 1993, ketika pelukis kelahiran Cilacap itu masih belum dikenal luas.

Saat itu, pameran digelar di Mirota Kampus Godean.

Suwarno masih menjadi kurator muda, begitu pula Nasirun yang baru memulai perjalanan profesionalnya sebagai perupa.

Baca Juga: Kini Bekalista Bisa Dipesan via Aplikasi JogjaKita, Simak Caranya!

"Saya mulai dekat dengan Nasirun itu 1993, saya orang pertama yang menguratori pameran tunggalnya. Tahun itu Nasirun belum siapa-siapa. Saya juga kurator yang baru latihan. Kami sama-sama sedang memulai perjalanan," kenangnya.

Suwarno sendiri masih mengingat percakapan dengan promotor pameran saat itu, almarhum Siswanto.

Seusai melihat karya-karya Nasirun, Siswanto sempat melontarkan pertanyaan pada Suwarno bagaimana masa depan pelukis muda tersebut.

Alih-alih memberi jawaban normatif, Suwarno mengatakan dirinya tidak sedang meramal, melainkan membaca indikator yang dimiliki Nasirun.

"Saya bilang, saya tidak bisa meramal. Tapi kalau lihat indikatornya, dia pekerja keras, saleh, ide-idenya bagus, menguasai tema. Dugaan saya dia akan jadi seniman masa depan yang hebat. Itu bukan ramalan, tapi analisis karena indikatornya sudah sangat banyak," ujarnya.

Baca Juga: Bukan Hanya Maestro Seni, Nasirun Dikenang Karena Kebaikan dan Kerendahan Hatinya

Prediksi itu terbukti.

Kurator Seni Suwarno Wisetrotomo membagikan momen terakhir saat ia berfoto dengan koleganya, termasuk almarhum Nasirun. (Dokumen Suwarno Wisetrotomo)
Kurator Seni Suwarno Wisetrotomo membagikan momen terakhir saat ia berfoto dengan koleganya, termasuk almarhum Nasirun. (Dokumen Suwarno Wisetrotomo)

 

Karier Nasirun melesat. Pada tahun 2000, Suwarno kembali dipercaya menjadi kurator pameran tunggal Nasirun di Galeri Nasional Indonesia.

Sejak saat itu hubungan keduanya berkembang jauh melampaui relasi kurator dan seniman.

"Secara akademik dia selalu menganggap saya guru karena memang saya lebih tua dan mengajar. Tapi dalam keseharian kami teman dekat. Saya menulis tentang Nasirun berkali-kali, menguratori pamerannya, bahkan tiap semester saya bawa mahasiswa S-2 dan S-3 ISI atau UGM belajar langsung di rumahnya," katanya.

Baginya, rumah Nasirun bukan hanya tempat tinggal seorang pelukis, melainkan ruang belajar yang hidup.

Mahasiswa diajak berdialog langsung mengenai proses kreatif, perjalanan hidup, hingga cara seorang seniman membangun gagasan.

Baca Juga: Perdana Menteri Inggris Andy Burnham Serukan Pengunduran Diri Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA

"Kalau saya mendengar Nasirun cerita, waktunya selalu tidak cukup. Pergulatan hidupnya, keseniannya luar biasa. Itu sebabnya saya selalu bawa mahasiswa ke sini. Saya ingin mereka belajar bukan hanya dari lukisannya, tetapi juga perjalanan hidupnya," tuturnya.

Ironisnya, sehari sebelum Nasirun berpulang, Suwarno juga menghabiskan hampir setengah hari di rumah sahabatnya itu.

Mereka sedang menyiapkan sebuah pameran bertajuk Tonggak Ziarah yang dijadwalkan berlangsung pertengahan Agustus nanti.

Pameran tersebut akan mengangkat arsip para pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

Dalam proyek itu, Nasirun berperan penting karena selama bertahun-tahun merawat arsip seni yang kemudian disimpan di bangunan khusus di rumahnya.

Baca Juga: Vozinha Mendapatkan Persetujuan untuk Gunakan Nama Julukan di Jerseynya saat Perkuat Colo-Colo di Liga Chile

"Saya sedang menyiapkan pameran yang pakai arsip-arsip koleksi Nasirun. Saya sangat hormat cara dia merawat arsip. Sampai dibuat area khusus untuk menyimpannya. Kemarin kami sedang memastikan banyak hal untuk pameran itu," ujarnya.

Saat tiba sekitar pukul 09.30 WIB di hari Jumat, (31/7/2026).

Suwarno melihat wajah Nasirun tampak lebih pucat dibanding biasanya.

Nasirun kemudian bercerita baru pulang dari Rumah Sakit malam sebelumnya karena mengeluhkan sesak napas.

"Dia bilang semalam ke Panti Rapih karena sesak. Katanya dicek darah dan ternyata asam lambung. Tapi ya tidak ada firasat apa pun," tuturnya.

Baca Juga: Mahasiswa Polbangtan Kementan Sulap Salak dan Singkong, Ciptakan Olahan Pangan Kaya Gizi dan Bernilai Jual Tinggi

Mereka tetap berdiskusi mengenai konsep pameran.

Bahkan, keduanya sudah menyepakati jadwal wawancara khusus yang akan direkam pada 7 Agustus mendatang sebagai bagian dari dokumentasi pameran.

Menjelang salat Jumat, Suwarno pamit pulang.

Hal yang belakangan terus teringat olehnya adalah sikap Nasirun yang mengantar sampai ke area parkir.

"Biasanya dia tidak antar sampai depan. Kemarin dia antar saya sampai parkiran. Saya masuk mobil, dia masih menunggu. Saya bilang, 'Run, istirahat wae.' Dia jawab, 'Yo Mas, hati-hati.' Saya sama sekali tidak mengira itu jadi pertemuan terakhir kami," katanya.

Baca Juga: Kasus Dugaan Malapraktik RSUD Prambanan Berakhir Damai, Keluarga Korban Cabut Laporan Polisi dan Terima Tali Asih

Bagi Suwarno, kualitas Nasirun tidak hanya tampak pada kehidupan pribadinya, tetapi juga dalam karya-karyanya.

Ia menyebut Nasirun sebagai pelukis yang berhasil membangun identitas visual yang sangat kuat.

Menurutnya, Nasirun banyak bertumpu pada tradisi Jawa, mitologi, ritual, tahayul, hingga realitas sosial-politik yang kemudian diolah menjadi bahasa visual khas.

Ia tahu Nasirun memang banyak mengagumi Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat, hingga Fajar Sidik.

Namun, kekaguman itu tidak menjadikan Nasirun sebagai peniru.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Kulon Progo Terapkan Aturan Ketat Penggunaan Gadget

"Kalau melihat karya Nasirun, kita diingatkan pada Widayat, pada Affandi, pada Sudjojono, pada Hendra Gunawan. Tapi saat lihat keseluruhannya, itu bukan mereka. Itu tetap Nasirun. Dia bisa menginternalisasi semua yang dikaguminya dan melahirkan dirinya sendiri. Itu tidak dimiliki semua seniman," jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu kekuatan lain Nasirun terletak pada penguasaan teknik yang luar biasa.

"Lukisannya rumit, penuh detail. Hampir seluruh bidang kanvas disentuh dengan warna dan kuas. Craftsmanship-nya sangat tinggi. Dia benar-benar menguasai dasar-dasar seni rupa dengan sangat baik," katanya.

Namun demikian, ia menilai bahwa warisan terbesar Nasirun, menurut Suwarno, bukan sekadar ribuan karya yang telah dihasilkannya. Yang jauh lebih penting adalah integritasnya sebagai seorang seniman.

Baca Juga: Dua Penggawa PSIM, Ze Valente dan Yusaku Yamadera Perkuat Indonesia All Stars Hadapi Aston Villa di SUGBK

Nasirun tidak pernah memilih ruang pamer berdasarkan gengsi. Baginya, memenuhi undangan berpameran merupakan bagian dari membangun persaudaraan.

"Dia pernah bilang pada saya, pameran tingkat RT atau RW pun dia mau. Bagi dia itu sesrawungan. Pergaulan. Bukan soal level pameran. Itu menunjukkan keluasan jiwanya," ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap keluarga dapat terus menjaga rumah beserta arsip dan karya-karya yang telah dikumpulkan Nasirun selama puluhan tahun.

Baginya, rumah Nasirun telah menjadi museum yang merekam perjalanan salah satu maestro seni rupa Indonesia.

"Rumah ini sebenarnya sudah menjadi museum. Tugas kami bukan mengelus abunya, tapi merawat apinya. Nasirun sudah bahagia. Yang harus kami lakukan menjaga semangatnya tetap hidup dan terus menceritakannya pada generasi berikutnya," pungkasnya. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Kurator Pertama Nasirun Nasirun Seniman persahabatan SUWARNO WISETROTOMO