JOGJA - Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026), tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi kalangan seniman.
Tetapi juga organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama (NU), kalangan pesantren dan masyarakat umum.
Sosoknya dikenang sebagai pribadi yang baik dekat dengan berbagai kalangan.
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) DIY Hairus Salim, mengaku sejatinya memiliki rencana bertemu dengan Nasirun pada Sabtu pagi ini.
Pertemuan yang telah dijadwalkan sejak beberapa hari sebelumnya itu batal karena kabar duka datang lebih dahulu.
"Saya jam sembilan pagi ini sudah janjian bertemu di rumah beliau. Lewat asistennya, karena Mas Nasirun memang tidak punya HP. Rencananya sekaligus sarapan dan ngobrol. Tapi ternyata hari ini justru kabar duka yang datang. Ini memang takdir," ujar Hairus di rumah duka.
Baca Juga: Perdana Menteri Inggris Andy Burnham Serukan Pengunduran Diri Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA
Secara pribadi, Hairus mengaku telah lama mengenal nama Nasirun sebagai pelukis besar Indonesia.
Namun, hubungan personal mereka baru terjalin sekitar satu dekade terakhir, tepatnya setelah pameran tunggal memperingati usia ke-50 Nasirun.
"Saya sudah lama mendengar nama beliau. Tapi mulai kenal secara dekat sekitar sepuluh tahun lalu, setelah pameran usia 50 tahun. Sejak itu kami sering berinteraksi," katanya.
Menurut Hairus, salah satu hal yang paling membekas dari sosok Nasirun adalah kebaikan dan keramahannya.
Meski telah menjadi seniman yang dikenal hingga mancanegara, Nasirun tetap rendah hati dan selalu lebih dahulu menyapa siapa pun yang dikenalnya.
"Beliau seniman besar, tapi pergaulannya tidak hanya di kalangan seniman. Orangnya humble, pintar, dan ramah. Bahkan ketika sibuk di sebuah acara, kalau melihat orang yang dikenalnya dari jauh, beliau pasti menyapa dulu. Itu yang selalu saya ingat," ungkapnya.
Lebih lanjut, Hairus menilai hal itu pula yang membuat rumah Nasirun nyaris tidak pernah sepi dari tamu. Seniman, budayawan, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat biasa diterima dengan tangan terbuka.
"Rumah Mas Nasirun memang terbuka. Tentu dengan janji sebelumnya, tapi beliau tidak pernah menutup diri pada siapa pun yang mau datang. Karena itu saya yakin yang hadir melayat hari ini bukan hanya seniman, tetapi juga banyak kalangan lain," ujarnya.
Di balik kesederhanaannya, Hairus menyimpan kenangan saat mendampingi Nasirun dalam perjalanan menuju Belanda untuk sebuah agenda kebudayaan.
Baca Juga: Seniman Jumaldi Alfi Kenang Almarhum Nasirun: Kemarin Masih Menyapu Halaman, Hari Ini Berpulang
Berbeda dengan kebanyakan orang yang mengabadikan perjalanan menggunakan telepon genggam, Nasirun justru memilih menggambar sketsa di setiap persinggahan.
"Mas Nasirun tidak punya HP. Saat orang lain memotret, beliau justru buat sketsa. Mulai dari menunggu pesawat, transit di bandara, sampai suasana perjalanan digambar. Menurut saya itu luar biasa, karena butuh ketajaman melihat objek secara mendalam," tuturnya.
Bagi Hairus, pengalaman itu menunjukkan cara pandang khas seorang seniman besar yang selalu merekam kehidupan melalui karya, bukan sekadar dari dokumentasi.
Selain dikenal sebagai pelukis, Hairus juga mengenang kemurahan hati Nasirun.
Baca Juga: Sentuhan Hijau dari Luwu, Cara Penyuluh Lokal Mengubah Masa Depan Kakao dan Padi Indonesia
Saat dirinya bersama sejumlah kolega merintis Pesantren Bumi Cendekia di Sleman, Nasirun menjadi salah satu orang yang membantu tanpa banyak pertimbangan.
Alih-alih memberikan bantuan dalam bentuk uang, Nasirun memilih menyumbangkan sebuah lukisan untuk dilelang demi mendukung operasional awal pesantren.
"Saya bilang kami sedang merintis pesantren dan butuh bantuan. Beliau langsung sumbang lukisan. Itu lalu dibeli seseorang dan hasilnya sangat membantu operasional awal pesantren. Itu jasa yang sangat besar bagi kami," kenangnya.
Kontribusi Nasirun, lanjut Hairus, tidak berhenti pada sumbangan karya seni.
Rumah dan museum pribadinya juga kerap dibuka sebagai ruang belajar bagi para santri.
"Santri-santri kami beberapa kali belajar langsung ke rumah beliau. Beliau selalu terbuka, mengajak berdialog, melihat museum pribadinya. Jadi beliau memang senang berbagi sesuai kapasitas yang dimiliki," katanya.
Menurut Hairus, itulah karakter Nasirun yang paling menonjol.
Ketika diminta membantu sesuatu di luar bidangnya, Nasirun tidak pernah berpura-pura mampu.
Namun, bila bantuan itu sesuai kapasitasnya sebagai seniman, ia akan memberikan dukungan secara maksimal.
"Beliau selalu bilang, 'kalau saya bisa membantu sesuai kapasitas saya sebagai seniman, saya bantu.' Entah menyumbang lukisan, melukis langsung di acara, atau mendukung kegiatan kebudayaan. Beliau tidak pernah mencari peran di luar keahliannya," bebernya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva