JOGJA - Sekretariat DPRD Kota Jogja kini resmi memiliki e-Kunker, sebuah aplikasi penerimaan tamu dewan yang mengarahkan kunjungan ke kampung-kampung wisata (kamwis). Inovasi tersebut ditarget bisa mendongkrak perekonomian wilayah.
Ketua DPRD Kota Jogja FX Wisnu Sabdono Putro mengatakan, penerimaan tamu dewan yang selama ini hanya di kantor memang belum memberikan dampak bagi masyarakat. Namun, jika kunjungan kerja (kunker) diarahkan ke kampung-kampung wisata, ia yakin perekonomian wilayah akan terdongkrak.
“Minimal bisa memberikan pasar bagi pelaku UMKM,” ujar Wisnu di sela peluncuran e-Kunker, Kamis (30/7/2026).
Hingga pertengahan tahun ini, diketahui sudah ada 25 kampung wisata yang digandeng dalam program tersebut. Total pemasukan yang diterima oleh pelaku UMKM disebut telah menyentuh Rp 91 juta.
Wisnu berharap, program e-Kunker nantinya tidak hanya menjadi pasar bagi pelaku UMKM. Namun juga merambah pada promosi seni dan budaya di masyarakat.
“Pasalnya, Jogja ini punya banyak kreasi seni budaya yang sangat layak untuk dikenalkan atau ditampilkan secara lebih luas bagi pengunjung luar daerah,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.
Baca Juga: Pemkot Jogja Larang Penggunaan Properti Plang Replika Jalan Malioboro untuk Foto Baju Adat
Sekretaris DPRD Kota Jogja Antonius Bambang Agung Adrijanto mengungkapkan, Jogja cukup sering menjadi tujuan kunker. Sepanjang 2025 tercatat ada 281 lembaga legislatif dengan total 41 ribu orang dari berbagai daerah di Indonesia yang berkunjung.
Menurutnya, potensi tersebut sedang dicoba dikelola melalui aplikasi e-Kunker. Pihaknya pun menggandeng sejumlah organisasi perangkat daerah untuk pengembangan aplikasi tersebut.
“Misal dinas komunikasi informatika dan persandian untuk pengembangan teknologi, dinas koperasi dan UKM terkait pembinaan UMKM, dinas pariwisata menyangkut kesiapan kampung wisata, serta dinas kebudayaan perihal karya seni dan budaya,” beber Bambang.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Setda Kota Jogja Dedi Budiono menyebut, inovasi tersebut merupakan yang pertama kali di Indonesia.
Sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya juga bisa menjadi percontohan bagi daerah lain. Oleh karena itu pengembangan aplikasi akan terus dilakukan.
“Kami di eksekutif tentu harus mengimbangi dengan intervensi produk. Dan saya kira, tamu juga akan senang dengan pola seperti ini karena ada nuansa baru dan inspiratif,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita