JOGJA – Seni, budaya, dan kearifan lokal dinilai memiliki peran strategis dalam menghadapi krisis iklim yang semakin nyata. Gagasan tersebut mengemuka dalam Mini Symposium "Art, Ecology & Climate Futures" yang digelar di Ruang Seminar Pdt. Dr. Rudy Budiman, Gedung IAMA Lantai 3 Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Rabu (29/7/2026).
Forum diskusi publik ini mempertemukan seniman, akademisi, peneliti, dan masyarakat untuk membangun dialog lintas disiplin mengenai hubungan antara seni, ekologi, serta masa depan iklim. Simposium menjadi ruang berbagi gagasan sekaligus mencari pendekatan baru dalam merespons tantangan perubahan iklim melalui perspektif budaya dan kreativitas.
Acara ini turut dihadiri seniman kontemporer, aktivis, dan pionir seni performa Arahmaiani Feisal. Ia ikut menyuarakan tentang keresahan dengan kondisi lingkungan. Bagaimana anak muda khawatir dengan kondisi lingkungan.
Akademisi UKDW Yogyakarta, Dr. Sn. R. Tosan Tri Putro, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa isu perubahan iklim tidak semestinya hanya dipandang melalui perspektif Barat. Menurutnya, masyarakat Jawa telah lama memiliki filosofi ekologis yang relevan dengan tantangan lingkungan masa kini.
"Kalau bicara soal climate, sering dianggap selalu berasal dari Barat. Padahal dari Timur kita memiliki pijakan yang sangat kuat," ujar Dr. Tosan.
Ia menjelaskan, terdapat tiga falsafah utama Jawa yang menjadi fondasi etika dalam menjaga keseimbangan alam.
Pertama, Hamemayu Hayuning Bawana, yakni prinsip yang menempatkan manusia sebagai penjaga sekaligus pemelihara keharmonisan dunia. Dalam konteks krisis iklim, menjaga lingkungan bukan sekadar kebutuhan bertahan hidup, tetapi menjadi kewajiban moral dan spiritual.
Kedua, Sangkan Paraning Dumadi, yang mengajarkan manusia memahami asal-usul dan tujuan hidup sehingga mampu menghormati siklus alam, mulai dari musim, air, hingga kesuburan tanah yang kini menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.
Baca Juga: Jaran Kepang Papat, Tarian Sakral Saparan di Lereng Andong Magelang yang Tidak Boleh Absen
Ketiga, Manunggaling Kawula Gusti, yang menempatkan alam sebagai bagian dari manifestasi Ilahi. Karena itu, merusak lingkungan berarti mengganggu harmoni kehidupan yang telah ditata Sang Pencipta.
Selain ketiga falsafah tersebut, Dr. Tosan juga menyoroti praktik sacredness-based conservation atau konservasi berbasis nilai kesucian yang telah lama dipraktikkan masyarakat Jawa. Melalui penghormatan terhadap ruang-ruang sakral dan siklus alam, masyarakat tradisional mampu membangun sistem adaptasi lingkungan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Dr. Michael Chew, Coordinator CFI Project sekaligus Director Ecoimagine Australia, memaparkan pendekatan berbeda dalam membangun kesadaran iklim melalui gerakan Creative Climate Futures.
Menurutnya, masyarakat lebih mudah memahami perubahan iklim melalui pengalaman, cerita, dan keterlibatan langsung dibanding hanya menerima data ilmiah.
Baca Juga: Real Madrid Hubungi Manchester City untuk Transfer Rodri, Siapkan Tawaran Menarik
"Kita merasakan perubahan iklim melalui cerita dan tempat, bukan sekadar angka derajat suhu," ungkapnya.
Ia menjelaskan, Creative Climate merupakan konsorsium organisasi seni komunitas di Australia yang mengajak masyarakat membayangkan masa depan melalui praktik seni partisipatif. Gerakan ini mempertemukan seniman, komunitas, peneliti, hingga pembuat kebijakan dalam menciptakan solusi bersama terhadap krisis iklim.
Pendekatan tersebut mengedepankan nilai empati, keterbukaan, kolaborasi lintas generasi, serta kepemimpinan masyarakat adat atau First Nations. Menurut Michael, proses kreatif bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga membangun cara berpikir baru yang mampu bertahan jauh setelah program selesai.
Ia mengakui tantangan terbesar program semacam ini adalah keterbatasan waktu untuk membangun keterlibatan komunitas secara mendalam. Namun, justru melalui ruang dialog kreatif masyarakat dapat menemukan posisi dan peran mereka dalam menghadapi perubahan iklim.
Pandangan serupa disampaikan seniman M. Fauzul Kiram. Ia menilai seni kini telah berkembang menjadi media penelitian yang mampu melahirkan pengetahuan baru, bukan sekadar menghasilkan karya visual.
Dalam presentasinya bertajuk "Membaca Masa Lalu, Meneroka Masa Depan", Fauzul mengangkat pengalaman dari pameran tunggalnya Museum Masa Depan. Ia memadukan artefak masa lalu dengan imajinasi masa depan sebagai cara membaca perubahan sosial dan lingkungan.
Menurut Fauzul, kolaborasi antara praktik seni dan dunia akademik memungkinkan lahirnya gagasan yang lebih matang, kontekstual, serta mampu mengidentifikasi berbagai celah pemikiran yang belum tersentuh.
Ia juga melihat adanya perubahan positif dalam ekosistem seni. Industri seni mulai membuka ruang lebih luas bagi artistic research dan practice-based research, sehingga seni tidak lagi dipandang hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai instrumen riset untuk menjawab persoalan global, termasuk perubahan iklim.
Baca Juga: Hasil Drawing FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia Satu Grup dengan Malaysia, Singapura, dan India
Melalui Mini Symposium Art, Ecology & Climate Futures, UKDW Yogyakarta berharap seni, budaya, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal dapat terus dipertemukan dalam ruang kolaborasi. Forum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai gagasan inovatif yang memperkuat aksi kolektif masyarakat menghadapi krisis iklim, sekaligus membuktikan bahwa solusi masa depan dapat berakar dari nilai-nilai lokal yang telah diwariskan selama berabad-abad. (iwa)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja