Aksi HMI Yogyakarta di Balai Kota Ricuh, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo Janji Perbaiki Pengelolaan Sampah

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 19:45 WIB
RICUH: Suasana ricuh aksi yang digelar oleh HMI Cabang Yogyakarta di Balai Kota Timoho pada Selasa (28/7). Massa aksi menuntut agar wali kota menyelesaikan permasalahan sampah. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RICUH: Suasana ricuh aksi yang digelar oleh HMI Cabang Yogyakarta di Balai Kota Timoho pada Selasa (28/7). Massa aksi menuntut agar wali kota menyelesaikan permasalahan sampah. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

JOGJA - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa di Balai Kota Timoho, Selasa (28/7). Aksi tersebut sempat memanas hingga terjadi kericuhan sebelum massa akhirnya ditemui oleh Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo.

Kericuhan terjadi sekitar pukul 15.48 WIB. Massa aksi terlibat aksi saling dorong dengan aparat kepolisian dan Satpol PP setelah petugas mencegah mahasiswa membakar ban. Situasi semakin tegang saat gerbang balai kota ditutup, sementara sejumlah peserta aksi berupaya masuk dengan mendorong dan memanjat pagar.

Situasi berangsur kondusif setelah pihak Pemerintah Kota Jogja memastikan perwakilan mahasiswa dapat bertemu langsung dengan wali kota. Pertemuan berlangsung di halaman depan Graha Pandawa.

Baca Juga: PSIM Jogja Genjot Persiapan Pasca-Sepekan Latihan, Kerangka Skuad Baru Terbentuk 60-70 Persen

Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait persoalan sampah di Kota Jogja. Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Isra Boi mengatakan, berdasarkan hasil investigasi organisasinya, persoalan sampah di Kota Jogja masih belum sepenuhnya terselesaikan.

Menurut Isra, masih ditemukan sejumlah depo sampah yang menimbulkan bau tidak sedap. Selain itu, pihaknya juga menyoroti adanya pungutan kepada warga untuk layanan pembuangan sampah melalui transporter serta mendorong pemerintah membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di wilayah Kota Jogja.

“Bagi banyak orang, isu sampah ini sudah usang. Namun karena masalahnya masih terus terjadi, persoalan ini harus terus kami sampaikan untuk diselesaikan oleh wali kota sebagai pimpinan tertinggi di Kota Jogja,” ujar Isra.

Ia juga menilai kebijakan pengelolaan sampah yang diterapkan pemerintah kota belum sepenuhnya menjawab kondisi di lapangan. Menurutnya, kebijakan seharusnya menjadi solusi, bukan justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.

Baca Juga: Bupati Mengaku Belum Tahu soal Laporan Walhi Dugaan  TPPU 13 Industri Pariwisata di Gunungkidul; Akan Pelajari Subtansinya Dulu

“Padahal, kebijakan dibuat untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menambah masalah baru,” katanya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyatakan pemerintah kota terbuka terhadap masukan masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa. Ia menegaskan pemkot terus melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah.

Hasto menjelaskan, salah satu langkah yang dilakukan adalah mengurangi penumpukan sampah di depo melalui sistem pengangkutan langsung. Sampah yang dikumpulkan penggerobak dari rumah warga akan segera diangkut dari depo untuk kemudian diproses lebih lanjut.

Terkait pungutan sampah kepada warga, Hasto mengatakan kebijakan tersebut merupakan kesepakatan di tingkat wilayah karena warga menggunakan jasa penggerobak yang mengambil sampah langsung dari rumah.

“Kita harus terus mengkomunikasikan dan mensosialisasikan penanganan sampah ini kepada semua pihak. Sebagian mahasiswa mungkin belum sempat melihat progresnya dari setahun yang lalu sampai sekarang,” ujar Hasto.

Baca Juga: PSIM Jogja Sudah Kantongi 9 Pemain Asing; Franco Ramos Bertahan dan Nermin Haljeta Masih Dievaluasi

Meski demikian, Hasto mengakui masih terdapat sejumlah titik permukiman yang terdampak aroma tidak sedap akibat persoalan sampah. Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan perbaikan agar sistem pengelolaan sampah berjalan lebih optimal.

Mengenai usulan pembangunan TPA di Kota Jogja, Hasto menyebut konsep pengelolaan sampah saat ini telah berubah. Pemerintah tidak lagi mengutamakan pembangunan TPA konvensional, melainkan mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi.

“Masukan dari mahasiswa itu konstruktif. Tinggal kita sesuaikan dengan program yang ada. Konsep yang dibangun sekarang bukan TPA konvensional, tetapi sistem pengelolaan terpadu yang sudah kita gagas,” jelas Hasto. (inu)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta HMI Yogyakarta Sampah Pemerintah Kota Jogja Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo