Redam Dampak El Nino, BPBD DIY Usulkan Operasi Modifikasi Cuaca saat Status Darurat Kekeringan Ditetapkan

yusud bastiar • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 18:45 WIB
Siluet bocah bermain bola di lahan terbuka saat cuaca panas di Pakem, Sleman Selasa (28/7). BMKG Jogjakarta mengingatkan musim kemarau di DIY mulai memasuki fase mengkhawatirkan. Sejumlah wilayah di Bantul dan Gunungkidul bahkan telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan dan masuk kategori awas kekeringan. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Siluet bocah bermain bola di lahan terbuka saat cuaca panas di Pakem, Sleman Selasa (28/7). BMKG Jogjakarta mengingatkan musim kemarau di DIY mulai memasuki fase mengkhawatirkan. Sejumlah wilayah di Bantul dan Gunungkidul bahkan telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan dan masuk kategori awas kekeringan. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

JOGJA - BPBD DIY menyiapkan skenario operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai antisipasi jika kemarau akibat El Nino berlanjut hingga akhir tahun. Operasi akan diajukan saat awan hujan mulai terbentuk pada November untuk memicu hujan di wilayah yang masih mengalami kekeringan.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIYTito Wicaksono mengatakan, pelaksanaan OMC harus diawali dengan penetapan status siaga darurat hidrometeorologi kekeringan. Status tersebut menjadi syarat bagi pemerintah daerah untuk mengajukan bantuan kepada BMKG maupun BNPB.

"Provinsi maupun kabupaten bisa mengusulkan ke BMKG atau BNPB. Syarat utamanya daerah sudah menetapkan SK darurat hidrometeorologi kekeringan," jelasnya saat dihubungi Selasa (28/7).

Baca Juga: Usai Putusan Praperadilan, Kuasa Hukum Langsung Proses Pembebasan Raudi Akmal dari Tahanan

Tito menambahkan, keberhasilan OMC bergantung pada kondisi cuaca. Seperti arah angin, potensi awan, hingga gangguan atmosfer harus diperhitungkan agar hujan turun di wilayah yang dituju.

"Kalau arah anginnya berubah, hujan yang dipicu di wilayah Jogja bisa saja justru turun di Klaten. Karena itu pelaksanaannya harus benar-benar melihat kondisi cuaca saat itu," bebernya.

Di sisi lain, BPBD DIY menghadapi keterbatasan anggaran penanganan kekeringan. Tahun ini tidak ada alokasi khusus untuk distribusi air bersih akibat efisiensi anggaran. BPBD DIY juga hanya memiliki dua truk tangki yang saat ini dipinjamkan ke BPBD Kulon Progo.

Baca Juga: ‎Usai Dilaporkan WALHI, Pemkab Gunungkidul Mulai Cermati Dugaan Pelanggaran 13 Industri Wisata

Karena itu, pemerintah daerah masih menunggu penetapan status darurat agar dapat menggunakan belanja tidak terduga (BTT).

"Kami baru bisa mengupayakan pergeseran BTT setelah status darurat ditetapkan. Itu juga harus melalui pembahasan sesuai mekanisme," ujarnya.

Selain keterbatasan armada, biaya distribusi air juga meningkat seiring naiknya harga bahan bakar. "Sekarang biaya operasional membengkak. Kami juga tidak bisa menggunakan solar bersubsidi," keluhnya.

BPBD DIY mendorong solusi jangka panjang melalui pembangunan sumur bor, pemanfaatan air permukaan, pembangunan bak penampung, serta jaringan perpipaan agar penanganan kekeringan tidak bergantung pada droping air setiap musim kemarau.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY Reni Kraningtyas mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Sedangkan awal musim hujan diprediksi mulai November. Namun, jika El Nino menguat hingga akhir tahun, musim hujan berpotensi mundur hingga Januari seperti pada 2023 silam.

"Saat ini perkembangan El Nino diperkirakan dari moderat menuju kuat hingga Desember. Kalau itu terjadi, musim kemarau akan terasa lebih panjang," ungkapnya. (bas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
plang jalan malioboro el nino BPBD DIY OMC