JOGJA - BPBD DIY menyiapkan skenario operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai antisipasi jika kemarau akibat El Nino berlanjut hingga akhir tahun. Operasi akan diajukan saat awan hujan mulai terbentuk pada November untuk memicu hujan di wilayah yang masih mengalami kekeringan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIYTito Wicaksono mengatakan, pelaksanaan OMC harus diawali dengan penetapan status siaga darurat hidrometeorologi kekeringan. Status tersebut menjadi syarat bagi pemerintah daerah untuk mengajukan bantuan kepada BMKG maupun BNPB.
"Provinsi maupun kabupaten bisa mengusulkan ke BMKG atau BNPB. Syarat utamanya daerah sudah menetapkan SK darurat hidrometeorologi kekeringan," jelasnya saat dihubungi Selasa (28/7).
Baca Juga: Usai Putusan Praperadilan, Kuasa Hukum Langsung Proses Pembebasan Raudi Akmal dari Tahanan
Tito menambahkan, keberhasilan OMC bergantung pada kondisi cuaca. Seperti arah angin, potensi awan, hingga gangguan atmosfer harus diperhitungkan agar hujan turun di wilayah yang dituju.
"Kalau arah anginnya berubah, hujan yang dipicu di wilayah Jogja bisa saja justru turun di Klaten. Karena itu pelaksanaannya harus benar-benar melihat kondisi cuaca saat itu," bebernya.
Di sisi lain, BPBD DIY menghadapi keterbatasan anggaran penanganan kekeringan. Tahun ini tidak ada alokasi khusus untuk distribusi air bersih akibat efisiensi anggaran. BPBD DIY juga hanya memiliki dua truk tangki yang saat ini dipinjamkan ke BPBD Kulon Progo.
Baca Juga: Usai Dilaporkan WALHI, Pemkab Gunungkidul Mulai Cermati Dugaan Pelanggaran 13 Industri Wisata
Karena itu, pemerintah daerah masih menunggu penetapan status darurat agar dapat menggunakan belanja tidak terduga (BTT).
"Kami baru bisa mengupayakan pergeseran BTT setelah status darurat ditetapkan. Itu juga harus melalui pembahasan sesuai mekanisme," ujarnya.
Selain keterbatasan armada, biaya distribusi air juga meningkat seiring naiknya harga bahan bakar. "Sekarang biaya operasional membengkak. Kami juga tidak bisa menggunakan solar bersubsidi," keluhnya.
BPBD DIY mendorong solusi jangka panjang melalui pembangunan sumur bor, pemanfaatan air permukaan, pembangunan bak penampung, serta jaringan perpipaan agar penanganan kekeringan tidak bergantung pada droping air setiap musim kemarau.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY Reni Kraningtyas mengatakan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Sedangkan awal musim hujan diprediksi mulai November. Namun, jika El Nino menguat hingga akhir tahun, musim hujan berpotensi mundur hingga Januari seperti pada 2023 silam.
"Saat ini perkembangan El Nino diperkirakan dari moderat menuju kuat hingga Desember. Kalau itu terjadi, musim kemarau akan terasa lebih panjang," ungkapnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita