JOGJA – Fase rawan kekeringan mulai memasuki DIY seiring menguatnya fenomena El Nino pada musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus mendatang dengan suhu udara maksimum berpotensi mencapai 37 derajat Celsius serta hujan yang diperkirakan sangat minim.
Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, musim kemarau di DIY sebenarnya telah dimulai sejak April hingga Mei 2026.
Kondisi tersebut, diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Sementara, akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian pertama hingga dasarian kedua November.
Baca Juga: Tersangka Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Jogja Bertambah Lagi, Kini Jadi 32 Orang
"Musim kemarau sudah dimulai April-Mei. Puncaknya kami prediksi pada Agustus 2026, sedangkan akhir musim kemarau sekitar November dasarian pertama hingga kedua," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (27/7/2026).
Namun demikian, berakhirnya musim kemarau tidak serta-merta diikuti datangnya musim hujan. Sebab, setelah kemarau berakhir, wilayah DIY masih akan memasuki masa transisi atau pancaroba.
Apabila perkembangan El Nino semakin menguat, awal musim hujan bahkan berpotensi mundur hingga Januari 2027, seperti yang terjadi pada 2023.
"Kalau El Nino berkembang menjadi kuat, awal musim hujan bisa lebih mundur lagi. Prediksi terbaru menunjukkan El Nino berada pada kategori moderat mulai Juli dan berpotensi menjadi kuat pada Agustus hingga Desember," katanya.
Baca Juga: Kota Magelang Terancam Darurat Sampah, Mau Tidak Mau Pemkot Lanjutkan Proyek TPST Bojong
Menguatnya El Nino disebut akan menyebabkan musim kemarau terasa lebih panjang dan lebih kering. Kondisi tersebut juga mengurangi peluang terbentuknya awan hujan sehingga curah hujan semakin rendah.
Kendati demikian, Indonesia termasuk DIY, tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di sejumlah negara subtropis. Hal itu karena Indonesia berada di wilayah ekuator dan dikelilingi lautan yang berperan menstabilkan suhu udara.
"Yang dirasakan masyarakat bukan gelombang panas, tetapi suhu yang lebih terik karena langit cenderung cerah sehingga radiasi matahari diterima permukaan bumi secara maksimal," jelasnya.
Baca Juga: Siap Jalani Musim Kedua di PSIM Jogja, Jean Paul Van Gastel: Bertahan Dulu, Baru Bicara Prestasi
Pihaknya mencatat, suhu udara maksimum yang pernah terekam di DIY berada pada kisaran 36 hingga 37 derajat Celsius. Pada musim kemarau tahun ini, suhu tertinggi diperkirakan kembali berada pada kisaran tersebut.
"Kemungkinan besar suhu maksimum bisa mencapai 37 derajat Celsius," bebernya.
Pun, karakteristik musim kemarau tidak hanya ditandai suhu siang yang lebih panas. Sebaliknya, pada malam hingga pagi hari masyarakat justru akan merasakan udara lebih dingin atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai fenomena bediding.
Baca Juga: Reklame Ilegal di Kota Jogja Masih Tersisa 73 Titik, Target Dibabat Habis Tahun Ini
Di sisi lain, potensi kekeringan mulai meningkat di hampir seluruh wilayah DIY. Berdasarkan pemantauan hari tanpa hujan (HTH), sebagian besar wilayah telah berstatus waspada karena tidak mengalami hujan selama lebih dari 21 hari berturut-turut.
"Potensi hujan pada Agustus sangat kecil. Dari monitoring HTH, hampir seluruh wilayah DIY sudah berada pada status waspada kekeringan. Artinya, umumnya sudah lebih dari 21 hari tidak turun hujan," katanya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mulai mengantisipasi dampak musim kemarau, terutama terhadap ketersediaan air bersih, sektor pertanian, serta potensi kebakaran lahan akibat kondisi cuaca yang semakin kering dalam beberapa bulan ke depan. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita