JOGJA - Kota Yogyakarta baru saja meraih prestasi peringkat satu tertinggi se-Indonesia tes kemampuan akademik (TKA) jenjang sekolah dasar (SD). Prestasi ini semakin lengkap dengan raihan standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan yang juga meraih tingkat pertama se-Indonesia.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengaku sangat bersyukur dengan capaian tersebut. Namun nilai yang tinggi tersebut tetap harus dibarengi dengan pemerataan kualitas layanan dan mutu di semua satuan pendidikan. “Langkahnya dengan mempertahankan SPM pendidikan,” tandas Hasto di Balai Kota Timoho pada Kamis (23/7).
Dikatakan, peringkat pertama pada SPM pendidikan sama artinya dengan merebut kembali prestasi itu. Sebab, di tahun-tahun sebelumnya tertinggal dengan daerah lain. Sebelumnya dengan Kota kalah. Demikian pula tahun lalu, 2025, dengan Kota Surakarta.
“Tapi sekarang sudah lebih menang,” ujarnya.
Mantan bupati Kulon Progo ini kembali mengingatkan, mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibandingkan meraihnya. Menyadari itu, dia terus mendorong para guru agar lebih optimal dalam mendidik siswa-siswinya. Di samping itu, Hasto juga menuntut Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta bisa meratakan kualitas pendidikan. Wujudnya dengan membuat sekolah yang belum unggul menjadi unggulan. “Saya khawatir kalau nanti ada sekolah-sekolah yang berturut-turut jeblok, bisa menjatuhkan rata-rata,” ingatnya.
Di sisi lain, ada sejumlah SD di Kota Yogyakarta yang masuk 10 besar nilai TKA tertinggi. Salah satunya SD Negeri Puro Pakualaman 1. Bahkan Tahun Ajaran 2025/2026, SD Puro Pakualaman 1 menempati peringkat kedua TKA terbaik se-Kota Yogyakarta. Sekaligus menjadi SD negeri dengan nilai TKA tertinggi di kota pelajar ini.
Guru kelas VI SD Puro Pakualaman 1 Mohamad Faruq Elmawa menceritakan, capaian itu bukan diperoleh secara instan. Menurut dia, keberhasilan sekolah merupakan hasil kolaborasi guru, sekolah, dan orang tua siswa sejak awal tahun ajaran. “Tiga komponen itu mitra utama dalam keberhasilan TKA. Kalau salah satunya tidak berjalan, hasilnya juga tidak akan maksimal," ujarnya.
Baca Juga: Imbas Rendahnya Peminat SD Negeri di Kota Jogja, Hasto Wardoyo Dorong Sekolah Tingkatkan Kualitas
Faruq menjelaskan, di awal tahun ajaran seluruh orang tua siswa kelas VI dikumpulkan untuk menyamakan persepsi mengenai target pembelajaran selama satu tahun. Tidak berhenti di situ, guru juga langsung melakukan asesmen awal di tiga mata pelajaran yang diujikan dalam TKA. Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA.
Di samping kemampuan akademik, sekolah juga memetakan karakteristik setiap siswa melalui tes IQ. Bekerja sama dengan psikolog. Hasil asesmen tersebut digunakan untuk mengetahui gaya belajar, kemampuan kognitif, hingga kebutuhan pendampingan masing-masing siswa.
Dukungan orang tua juga menjadi faktor menentukan keberhasilan siswa. Sekolah meminta komitmen orang tua melalui surat pernyataan untuk mendampingi anak belajar di rumah, termasuk mengatur penggunaan gawai.” Kalau tidak dibatasi, anak-anak jadi kurang fokus saat belajar di sekolah. Kami juga selalu mengingatkan pentingnya sarapan sebelum berangkat sekolah," katanya.
Prestasi serupa juga diraih SDN Ungaran I. Sekolah yang berada di kawasan Kotabaru ini berhasil mempertahankan tradisi sebagai salah satu sekolah dengan capaian TKA terbaik di Kota Yogyakarta.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SDN Ungaran 1 Giyoto mengatakan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara guru, sekolah, komite, dan orang tua. Selain menambah intensitas pembelajaran, sekolah juga membentuk tim khusus. Melibatkan guru kelas VI bersama guru kelas IV dan kelas V.
Langkah itu diambil setelah hasil uji coba TKA menunjukkan capaian siswa belum sesuai harapan. "Kami meminta guru kelas ikut terlibat karena mereka sudah kenal karakter anak-anak. Pendampingan bisa lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing siswa," kata Giyoto.
Diakui, keterlibatan orang tua menjadi faktor penting menjaga konsistensi prestasi sekolah. Komunikas terus dibangun, termasuk saat menentukan berbagai program pendampingan belajar. Budaya belajar yang tumbuh di lingkungan keluarga turut menentukan keberhasilan siswa. Banyak orang tua di SDN Ungaran 1 yang secara aktif mendampingi anak belajar di rumah. Bahkan mengikuti les tambahan sesuai kebutuhan.
"Yang kami bangun itu iklim belajar. Kalau anak sudah punya motivasi berkompetisi dan orang tua ikut mendukung, guru tinggal arahkan agar potensinya berkembang secara maksimal,” tuturnya. (inu/iza/kus)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja