Warga Wonogiri Penolak Pabrik Semen Pracimantoro Dihalangi Petugas Keamanan UGM Menuju Balairung

Yusuf Bastiar • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 20:55 WIB
DIHADANG: Petugas keamanan UGM menahan gerbang saat warga penolak tambang dan pabrik semen Pracimantoro, Wonogiri, bersama mahasiswa berupaya melintas menuju Balairung, Jumat (24/7/2026). (Foto: Yusuf Bastiar/Radar Jogja)
DIHADANG: Petugas keamanan UGM menahan gerbang saat warga penolak tambang dan pabrik semen Pracimantoro, Wonogiri, bersama mahasiswa berupaya melintas menuju Balairung, Jumat (24/7/2026). (Foto: Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

 JOGJA - Upaya Paguyuban Tali Jiwa bersama Serikat Mahasiswa (Sema) UGM menuju kawasan Balairung seusai meminta pertanggungjawaban publik terhadap dosen penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tambang semen Pracimantoro diwarnai ketegangan. Puluhan warga penolak pabrik semen asal Pracimantoro, Wonogiri, itu sempat dihalangi petugas keamanan kampus saat hendak melintas menuju Balairung untuk menggelar konferensi pers. Aksi tarik-menarik gerbang pun tak terhindarkan sebelum rombongan akhirnya memilih jalur lain.

Berdasarkan pantauan Radar Jogja, sekitar pukul 17.15 puluhan warga yang tergabung dalam Paguyuban Tali Jiwa berkumpul di gerbang sisi timur Fakultas Geografi UGM bersama Sema UGM dan sejumlah aktivis. Mereka baru saja rampung menuntut pertanggungjawaban publik salah seorang dosen Fakultas Geografi UGM yang terlibat sebagai tim penyusun Amdal rencana tambang dan pendirian pabrik semen di Pracimantoro.

Rombongan kemudian bersiap berjalan kaki menuju lapangan Balairung UGM untuk menggelar konferensi pers. Namun, gerbang yang dijaga sekitar 10 petugas keamanan kampus tidak dibuka. Gerbang besi setinggi pinggang orang dewasa itu tetap ditutup meski warga telah berbaris memanjang di depannya.

Baca Juga: Pep Guardiola Tolak Tawaran Timnas Italia, Fokus untuk Kehidupan Pribadi setelah Satu Dekade Bersama Manchester City

Sekitar 10 menit menunggu tanpa kepastian, sejumlah mahasiswa mencoba membuka gerbang. Aksi ini memicu tarik-menarik antara mahasiswa dan petugas keamanan. Kedua belah pihak bertahan pada posisinya, sementara warga terus menyampaikan permintaan agar gerbang dibuka.

Di tengah ketegangan, seorang warga mendatangi petugas keamanan dan mempertanyakan kepada siapa mereka harus meminta izin agar gerbang dibuka. "Saya harus menghubungi siapa supaya gerbang ini dibuka?" tanya warga. Petugas keamanan menjawab singkat, "Atasan, ya rektor."

Aksi saling dorong dan tarik gerbang berlangsung lebih dari 30 menit. Gerbang akhirnya sempat terbuka, tetapi hanya sebagian rombongan yang dapat melintas. Sebagian besar warga masih tertahan di area dalam kampus, sehingga rombongan memutuskan mengubah rute melalui akses lain yang terbuka untuk menuju lokasi konferensi pers.

Baca Juga: Warga Penolak Tambang Semen Pracimantoro Wonogiri Geruduk Fakultas Geografi UGM, Tuntut Pertanggungjawaban Publik Dosen Penyusun A

Perwakilan Serikat Mahasiswa UGM Jundi Daulah mengatakan, semula konferensi pers memang direncanakan berlangsung di kawasan Balairung sebagai simbol ruang publik kampus.

 "Sebelumnya kami ingin konferensi pers di Balairung. Memang ada halangan dari pihak keamanan UGM dengan alasan itu tidak masuk dalam skema atau agenda yang disepakati sebelumnya," ujarnya saat ditemui di sekitaran gedung Fakultas Geografi, Jumat (24/7/2026).

Menurut Jundi, aksi massa memiliki dinamika yang tidak selalu dapat dibatasi oleh skenario administratif. Ia menilai pihak keamanan menjalankan prosedur yang bersifat normatif. Meski demikian, penutupan akses itu dinilai membatasi ruang ekspresi warga yang hendak menyampaikan aspirasinya. "Kami hanya ingin lewat menuju Balairung. Balairung itu simbol rumah rakyat," katanya.

Baca Juga: Hasil Inspeksi Ileague Jelang Super League 2026/2027, Lampu di SSA Bantul Kurang Terang

Jundi juga menilai persoalan yang dibawa warga Pracimantoro merupakan isu yang patut mendapat perhatian dunia akademik. Menurutnya, keterlibatan sejumlah perguruan tinggi dalam penyusunan dokumen Amdal proyek-proyek ekstraktif seharusnya turut diikuti mekanisme evaluasi dan akuntabilitas ilmiah.

"Padahal pintu gerbang bisa saja dibuka, warga ingin lewat dan mendapatkan ruang simbolik untuk menyampaikan sikapnya. Itu yang akhirnya tidak diberikan," ungkap Jundi. (bas/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
pabrik semen Paguyuban Tali Jiwa bersama Serikat Mahasiswa wonogiri tambang pracimantoro