Kota Jogja Belum Ramah Difabel, Sejumlah Titik Trotoar Bahayakan Penyandang Tunanetra

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 14:52 WIB
Salah satu titik trotoar di Jalan Timoho, Gondokusuman, Kota Jogja yang belum ramah bagi penyandang disabilitas. Fasilitas trotoar di ruas jalan tersebut belum memiliki guiding block dan ada jalur yang menabrak pohon. (Foto: IWAN NURWANTO/Radar Jogja)
Salah satu titik trotoar di Jalan Timoho, Gondokusuman, Kota Jogja yang belum ramah bagi penyandang disabilitas. Fasilitas trotoar di ruas jalan tersebut belum memiliki guiding block dan ada jalur yang menabrak pohon. (Foto: IWAN NURWANTO/Radar Jogja)

JOGJA - Dewan Pengurus Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (DPD Pertuni) DIY mengungkap fasilitas umum di Kota Jogja belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Fasilitas trotoar di sejumlah ruas jalan protokol dianggap berbahaya dan menyulitkan mobilitas penyandang tuna netra.

Ketua DPD Pertuni DIY Dwi Nugroho mengatakan, trotoar yang sepenuhnya aman dan ramah bagi penyandang tunanetra baru di kawasan Malioboro, Alun-alun, dan Jalan Mangkubumi. Lantaran pembangunan trotoar sudah rata dan guiding block mudah terbaca.

Namun kondisi kontras ditemui di trotoar Jalan Parangtritis, Dwi menyebut, meskipun sudah ada guiding block, fasilitas trotoar justru menggunakan keramik. Sehingga ketika hujan cenderung licin dan membahayakan orang yang memiliki keterbatasan penglihatan. Selain licin, masalah lain seperti banyaknya lapak pedagang dan pepohonan juga menjadi kesulitan bagi penyandang tunanetra.

“Disitu sangat licin untuk kami, saya pernah kepleset disitu. Kadang juga ada pohon dan pedagang, kadang kami ada yang nabrak” ungkap Dwi kepada Radar Jogja, Kamis (23/7/2026).

Baca Juga: Resmi Menjadi Pemain Anyar PSIM Jogja, Ondrej Rudzan Terpikat dengan Sambutan Hangat Suporter

Selain di Jalan Parangtritis, menurutnya masih ada titik trotoar lain yang kurang memfasilitasi penyandang tunanetra. Misalnya di Jalan Timoho, pada titik tersebut ada sebagian yang belum dipasang guiding block. Kemudian guiding block di Jalan Jendral Sudirman tepatnya kawasan Galeria Mall juga cenderung sempit dan mepet dengan jalan raya.

Tidak hanya trotoar, aksesibilitas layanan transportasi umum seperti Trans Jogja juga mendapat catatan. Dwi mengeluhkan keberadaan halte yang hanya berupa garis batas di jalan tanpa bangunan shelter fisik maupun petugas jaga. Kondisi itu membuat calon penumpang tunanetra mengalami kesusahan untuk mengakses bus.

“Kalau cuma garis itu kami kesusahan. Karena kami kan penglihatannya terbatas,” ungkapnya.

Menanggapi berbagai kendala infrastruktur tersebut, Dwi berharap pemerintah daerah dapat merangkul serta mengajak komunikasi berbagai asosiasi penyandang disabilitas. Kolaborasi tersebut penting dilakukan sejak tahap perencanaan. Supaya alokasi anggaran pembangunan fasilitas umum tidak berujung sia-sia karena fasilitas tidak tepat guna.

Baca Juga: Ciptakan Proses Pembelajaran yang Efektif, Terapkan Kebijakan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan

"Kalau mau mengadakan pembangunan apa pun yang berkaitan dengan disabilitas, kalau bisa merangkul dan mengajak kami untuk memberikan masukan,” harap Dwi.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Hasri Nilam Baswari tidak menampik fasilitas trotoar di wilayahnya belum ramah difabel. Salah satu faktornya karena sebagian trotoar belum memenuhi standar lebar ideal bagi difabel.

Sampai saat ini, ungkap Nilam, baru 20 persen trotoar di Kota Jogja yang memiliki lebar 1,1 meter atau angka minimal yang nyaman bagi difabel. Namun untuk fasilitas guiding block ia mengklaim sudah 80 persen trotoar memiliki.

“Cuma masalahnya guiding block itu kemudian tertutup lapak PKL,” beber Nilam.

Baca Juga: Inter Milan Hajar SV Aasen 16-0, Pemain Muda Curi Perhatian di Debut Pramusim Cristian Chivu

Disinggung soal persoalan licin trotoar Jalan Parangtritis, ia mengakui karena menggunakan keramik dan memiliki kontur naik turun. Nilam tidak berdalih pembangunan trotoar di Jalan Parangtritis belum melibatkan penyandang disabilitas. Lantaran infrastruktur lama yang dibangun sekitar tahun 2010-2011 an.

Kemudian untuk di Jalan Timoho, diakuinya pada sisi timur memang tidak dipasang guiding block. Alasannya karena banyak pepohonan, sehingga berbahaya ketika dipasang jalur pemandu tuna netra. Karena itu, pemasangan guiding block hanya dilakukan di sisi barat.

Sebagai bentuk evaluasi, ia memastikan infrastruktur jalan yang baru dibangun akan disesuaikan dengan kebutuhan disabilitas. Contohnya di trotoar Jalan Dr. Sardjito (eks lapak penjahit jeans), Jalan Kahar Muzakir sisi utara jalan, Jalan Prau, Jalan I Dewa Nyoman Oka, dan sebagian Jalan Argolubang.

“Untuk guiding block, secara bertahap kami usahakan bisa terpasang di semua trotoar di Kota Jogja,” tegas Nilam. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
buta tunanetra Kota Jogja ramah difabel guiding block