JOGJA - Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memastikan tidak ada pembatasan akses di Jalan Malioboro bagi pesepeda dalam gerakan Jogja Last Friday Ride (JLFR) bulan ini. Pemerintah kota (pemkot) bahkan membuka peluang untuk membersamai para pesepeda.
Ditemui di Balai Kota usai mengisi talksow di Mall Pelayanan Publik, Hasto menegaskan pada gelaran JLFR tidak ada pelarangan akses ke jantung kota. Pemkot akan menyambut baik gerakan tersebut dan tidak akan menerapkan pengamanan khusus.
“Tidak ada skema yang khusus. Yang jelas kita akan lebih banyak membersamai mereka,” ujar Hasto, Senin (20/6/2027).
Saat disinggung mengenai bentuk nyata dari istilah membersamai, Hasto mengungkapkan bahwa jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) yang bersinggungan dengan Malioboro kemungkinan akan ikut membaur langsung di lapangan dengan para pesepeda.
Baca Juga: Dishub DIY Gelontorkan Rp 9,37 Miliar Bangun Parkir Ketandan, Perkuat Mobilitas Kawasan Malioboro
“Mungkin dari teman OPD, Dinas Perhubungan, Dinas Kebudayaan, atau yang terkait dengan Malioboro bisa membersamai dengan naik sepeda bareng. Membarengi lah, gitu saja," bebernya.
Ketika ditanya apakah akan ikut bersepeda dalam JLFR, Hasto enggan memastikan. Dia mengaku akan melihat situasi terlebih dahulu.
“Nanti lihat situasi, tapi bagi kami memang kami akan membersamai,” katanya.
Sementara soal rute perjalanan bagi pesepeda saat JLFR, mantan Bupati Kulon Progo itu memastikan akses menuju Malioboro tetap dibuka dari segala arah tanpa ada pengalihan arus. Para peserta kegiatan tetap dapat masuk dari arah Bantul, Kulon Progo, maupun Sleman. Jalur utama Malioboro juga dipastikan akan tetap berfungsi seperti biasa.
Baca Juga: Perhatian Lur! Parkir Ketandan untuk Sementara Ditutup, Ini Batas Waktu Penutupannya
“Intinya itu (Malioboro) terbuka,” ucap Hasto singkat.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti memastikan pemerintah provinsi maupun kota tidak pernah melarang kawasan Malioboro untuk kegiatan bersepeda. Sebab seluruh pengguna jalan, termasuk pesepeda, juga punya hak untuk menggunakan ruas jalan di jantung kota tersebut.
Namun dia berharap, pesepeda yang ikut dalam kegiatan tersebut bisa tertib lalu lintas. Ia ingin dalam setiap kegiatan JLFR para pesepeda bisa memberikan hak bagi pengguna jalan lain yang tidak menggunakan sepeda.
“Jangan sampai tidak mentaati, kalau nanti satu stuck, crowded semua nanti,” tegasnya. (inu)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja