Panjang Umur Toko Sepeda di Jogja, Bertahan dari Tren hingga Bangun Komunitas

Yusuf Bastiar • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 20:56 WIB
Jeffrey Irawan Mulyadi, Head Store sekaligus pengelola Jogja Bike Gallery. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)
Jeffrey Irawan Mulyadi, Head Store sekaligus pengelola Jogja Bike Gallery. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

 
 

RADAR JOGJA - Di tengah naik-turunnya tren olahraga dan gaya hidup, toko sepeda di Kota Jogja masih mampu bertahan. Kuncinya bukan lagi semata mengandalkan penjualan unit sepeda, tetapi memperkuat layanan bengkel, membangun komunitas pesepeda, hingga rutin menggelar aktivitas bersama. Strategi itu menjadi salah satu alasan bisnis sepeda tetap memiliki napas panjang di Jogja.


Head Store sekaligus pengelola Jogja Bike Gallery Jeffrey Irawan Mulyadi mengatakan, pasar sepeda di Jogja cenderung stabil karena ditopang karakter kota yang cenderung ramah bagi pesepeda. Namun permintaan produk tetap mengalami siklus naik turun mengikuti tren hobi masyarakat.

Baca Juga: Tak Cukup Andalkan Destinasi, Sleman Bidik Event untuk Dongkrak Wisata


"Ini barang hobi, bukan kebutuhan primer. Ketika tren olahraga lain seperti lari sedang naik, otomatis ada sebagian pengguna sepeda yang beralih, sehingga berdampak terhadap penjualan maupun permintaan sparepart," ujarnya saat ditemui di Store Jogja Bike Gallery, Minggu (19/7).


Kendati demikian, menurut Jeffrey, bisnis sepeda tidak pernah benar-benar mati. Sebab, komunitas pesepeda terus tumbuh, mulai dari pemula hingga kalangan profesional. Hal itu membuat kebutuhan terhadap perawatan sepeda tetap tinggi. 

Baca Juga: PSIM Jogja Bantah Rumor Kiper Cahya Supriyadi Bergabung ke Persib Bandung; Manager Sebut Masih Terikat Kontrak dengan Laskar Matar


Dia menjelaskan, dibandingkan pembelian unit baru, mayoritas pelanggan yang datang ke Jogja Bike Gallery justru memanfaatkan layanan bengkel. Hampir seluruh kelompok usia, mulai pelajar, mahasiswa hingga pekerja rutin melakukan servis sepeda.


"Kalau pembelian produk memang tidak terlalu masif. Tapi kalau servis, hampir setiap hari selalu ada. Itu yang menjadi kekuatan kami," katanya.

Baca Juga: 41 Ribu UMKM Bantul Belum Terdata di Sidakui, Pemkab Dorong Pelaku Usaha Segera Mendaftar


Jogja Bike Gallery sendiri menyediakan berbagai paket perawatan sepeda. Mulai layanan pemeriksaan dasar seperti bike checking sebesar Rp 35 ribu, paket bike wash Rp 50 ribu, servis menengah Rp 100 ribu, hingga paket platinum Rp 200 ribu yang mencakup perawatan menyeluruh mulai pencucian, pengecekan, pelumasan ulang hingga penyetelan seluruh komponen di luar penggantian suku cadang.


Jeffrey menceritakan, usahanya dirintis sejak 2017. Bisnis itu bahkan berhasil melewati masa pandemi Covid-19 yang sempat menjadi momentum meningkatnya tren bersepeda sekaligus diikuti penurunan permintaan setelah pandemi usai. 

Baca Juga: Pameran Dark Garden, Menghadapi Krisis Iklim Lewat Kolaborasi Seni Indonesia-Australia di Yogyakarta


Menurutnya, agar toko sepeda mampu bertahan dalam jangka panjang, pelaku usaha harus mampu menyesuaikan strategi bisnis. Mulai dari menjaga harga tetap kompetitif, meningkatkan kualitas layanan, hingga terus mengikuti perkembangan teknologi komponen sepeda.


"Knowledge mekanik harus terus di-upgrade. Perkembangan groupset, teknologi baru, sampai teknik perawatannya harus selalu dipelajari supaya pelayanan ke pelanggan tetap maksimal," jelasnya.


Selain itu, membangun komunitas dinilai menjadi faktor penting menjaga keberlangsungan usaha. Di Jogja Bike Gallery, kegiatan bersepeda bersama rutin digelar setiap Sabtu dengan rute menuju kawasan Kaliurang hingga Pakem. Aktivitas itu menjadi ruang silaturahmi sekaligus menjaga kedekatan dengan pelanggan.

Baca Juga: PAW Lima Lurah Sleman Bisa Satu Calon, Pj Tetap Menjabat jika Kotak Kosong Menang 


"Kami tidak hanya jualan. Ada weekly ride setiap Sabtu, ikut berbagai event sepeda, supaya komunitas tetap hidup. Market akhirnya tumbuh secara organik karena orang datang bukan sekadar membeli, tapi juga merasa menjadi bagian dari komunitas," ungkap Jeffrey.


Ia menilai sepeda tidak hanya berfungsi sebagai alat olahraga maupun transportasi alternatif, melainkan juga memiliki nilai sosial yang kuat. Bersepeda mampu mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan membangun jejaring baru. 


"Sepeda itu connecting people. Dari bersepeda kita bisa bertemu banyak orang, membangun relasi, bahkan membuka peluang pekerjaan atau kerja sama. Itu yang membuat dunia sepeda selalu punya kehidupan sendiri," ungkapnya. (bas/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
servis sepeda Gaya Hidup hobi komunitas Jogja