Gowes di Jogja; Antara Gengsi, Edukasi, dan Minimnya Budaya Pesepeda Kantoran

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 20:47 WIB
Slamet Siswanto, Penjual Sepeda di Bantul. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
Slamet Siswanto, Penjual Sepeda di Bantul. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA - Predikat Jogja sebagai kota sepeda dinilai masih relevan. Kendati demikian, tren bersepeda di Kota Gudeg kini telah mengalami pergeseran fungsi. Jalur jalanan aspal tak lagi didominasi oleh para pekerja yang mengayuh pedal demi mencari nafkah. Kini bergeser menjadi ajang rekreasi, olahraga, bahkan tidak jarang menjadi ajang pembuktian gengsi sosial.


Pemilik toko sekaligus bengkel sepeda Gampang Speed di Bantul, Slamet Siswanto mengungkapkan geliat pasar sepeda di Jogjakarta sebenarnya sama sekali belum mati. Sebab, hingga saat ini peminat dan pembeli sepeda dinilai masih tergolong tinggi.

Baca Juga: Pembatasan JLFR di Kawasan Malioboro Dinilai Berisiko Kurangi Interaksi Sosial dan Budaya Bersepeda di Jogja 


"Masih banyak yang beli, pasar masih berjalan. Konsumennya dari anak-anak sampai orang tua. Tapi kalau yang (usia) dewasa, kebanyakan carinya yang bagus-bagus. Malah segmentasinya sekarang banyak dari kelas menengah ke atas," katanya, Minggu (19/7).


Disinggung mengenai motif para pembeli, Slamet mengungkapkan ada pergeseran gaya hidup. Pria 58 tahun ini menyebut faktor gengsi kerap kali melatarbelakangi keputusan para pembeli untuk membeli sepeda dengan spesifikasi tinggi.

Baca Juga: Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Moskow Hadiri Wisuda Mahasiswa Penerima Beasiswa BAZNAS, Ini Pesan Penting untuk para Lulusan


"Wah, kalau kalangan yang sugih-sugih itu, kelihatannya cuma buat gengsi-gengsian saja. Tapi kalau yang kelas yang biasa murni untuk olahraga," bebernya. 


Namun di balik masih tingginya animo pembeli di kalangan masyarakat, Slamet menyoroti redupnya semangat bike to work atau bersepeda untuk bekerja di Jogja. Menurut pantauannya sehari-hari, masyarakat yang memanfaatkan sepeda sebagai roda transportasi utama ke tempat kerja sudah bisa dihitung dengan jari.

Baca Juga: 41 Ribu UMKM Bantul Belum Terdata di Sidakui, Pemkab Dorong Pelaku Usaha Segera Mendaftar


"Alasannya karena mengejar waktu, ya. Jadi faktor kecepatan mobilitas membuat orang beralih dari sepeda untuk urusan kerja," cetusnya. 


Selain menyoroti minimnya pesepeda kantoran, Slamet juga menggarisbawahi pentingnya edukasi etika ketika bersepeda di jalan raya. Ia menyayangkan sikap segelintir pesepeda, terutama dari kalangan usia muda yang terkadang kurang mengindahkan keselamatan bersama dan memicu gesekan dengan pengguna jalan lain, seperti yang sempat memicu sorotan publik di kawasan Malioboro beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Begini Kronologi Bus Pariwisata Tabrak Motor di JJLS Saptosari, Dua Pelajar Asal Paliyan Alami Luka Serius


 "Pernah saya jumpai sendiri, ada anak-anak bersepeda bertiga jajar (berdampingan). Mau disalip mobil dan sudah diklakson, tapi mereka tidak mau mengalah. Malah teriak-teriak menantang. Padahal anak saya sendiri juga suka bersepeda, tapi saya edukasi kalau tindakan seperti itu tidak baik," ujarnya. 


Oleh karena itu, Slamet berharap esensi kenyamanan Jogja sebagai kota sepeda bukan hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur oleh pemerintah, melainkan juga dari kedewasaan para pesepeda itu sendiri.


 "Kota Magelang yang memberikan marka kuning penanda jalur sepeda di tepi jalan kota. Di Jogja, fasilitas serupa baru jamak ditemui berupa Ruang Henti Khusus (RHK) sepeda di area lampu merah," jelasnya. 

Baca Juga: Masuk Puncak Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Bediding Diprediksi Berpotensi Menguat


Bagi Slamet, keberadaan garis pembatas atau jalur khusus memang penting untuk menjaga ketertiban. Namun sikap saling pengertian antar-pengguna jalan jauh lebih krusial.


"Pokoknya dari pesepedanya sendiri yang harus menyadari. Jalan raya itu milik bersama, bukan milik pribadi atau kelompok pesepeda saja. Motor, mobil, becak, semua punya hak yang sama. Harus saling pengertian dan jangan dipakai untuk gagah-gahahan,"  tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
ANIMO PEMBELI Gaya Hidup sepeda mobilitas Malioboro