Pameran Dark Garden, Menghadapi Krisis Iklim Lewat Kolaborasi Seni Indonesia-Australia di Yogyakarta

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 20:01 WIB
Seniman, kurator, dan project manager yang terlibat dalam pameran “DARK GARDEN: Living in Paradox, Growing in Networks”, di Loka Carita, Nitiprayan, Yogyakarta, Minggu 19 Juli 2026. (Foto: iwa ikhwanudin/Radar Jogja)
Seniman, kurator, dan project manager yang terlibat dalam pameran “DARK GARDEN: Living in Paradox, Growing in Networks”, di Loka Carita, Nitiprayan, Yogyakarta, Minggu 19 Juli 2026. (Foto: iwa ikhwanudin/Radar Jogja)

 JOGJA - Rumah perubahan iklim bukan lagi cerita abstrak tentang data emisi dan kenaikan suhu. 

Lewat pameran “DARK GARDEN: Living in Paradox, Growing in Networks”, House of Natural Fiber (HONF) mengajak publik merasakan, merenungkan, dan membayangkan masa depan ekologis melalui bahasa seni.

Pameran yang menjadi puncak dari program Climate Futures Incubator (CFI) 2026 ini resmi dibuka pada 19 Juli 2026 pukul 19.00 WIB di Loka Carita, Yogyakarta, dan berlangsung hingga 2 Agustus 2026. 

Menjelang pembukaan, HONF menggelar Media Gathering & Artist Talk pada hari yang sama pukul 16.00–17.30 WIB sebagai ruang dialog antara media, kurator, dan para seniman.

Baca Juga: Begini Kronologi Bus Pariwisata Tabrak Motor di JJLS Saptosari, Dua Pelajar Asal Paliyan Alami Luka Serius

CFI 2026 adalah program inkubasi, residensi, dan pameran seni yang mempertemukan praktisi seni, peneliti, akademisi, dan komunitas dari Indonesia dan Australia dalam sebuah ruang kolaborasi berbasis climate justice. 

Program ini memandang perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga isu sosial, budaya, ekonomi, dan keadilan yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara tidak merata.

"Ini adalah kolaborasi asli Australia-Indonesia yang dirancang bersama dengan kolektif seniman Yogyakarta House of Natural Fiber, dan terhubung dengan situs serta komunitas lokal," ujar Dr Michael Chew, koordinator proyek CFI. 

"Alih-alih memperlakukan perubahan iklim sebagai isu abstrak, inkubator ini melampaui kerangka teknis untuk mengangkat lingkungan nyata, pengetahuan budaya lokal, praktik artistik inovatif, dan hubungan ekologis bersama."

Baca Juga: BKPSDM Minta Warga Jogja Awasi ASN Bolos Kerja dan Ngopi, Masyarakat Bisa Lapor lewat Kanal Aduan Ini

CFI 2026 melibatkan 16 seniman internasional, terdiri atas 3 seniman Indonesia dan 3 seniman Australia yang mengikuti program inkubasi secara langsung di Yogyakarta, serta 10 seniman daring dari Indonesia, Australia, dan Italia. 

Keberagaman latar belakang ini memperkaya pertukaran pengetahuan dan perspektif dalam merespons tantangan perubahan iklim.

Kurator pameran, Arami Kasih, menjelaskan bahwa Dark Garden berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di tengah paradoks: ketika pengetahuan dan kepedulian terhadap perubahan iklim terus berkembang, berbagai tindakan yang memperparah krisis juga terus berlangsung.

Terinspirasi oleh gagasan dark ecology, pameran ini mengajak publik memahami manusia sebagai bagian dari jejaring ekologis yang saling terhubung dengan spesies lain, material, teknologi, sejarah kolonial, serta sistem ekonomi-politik.

Baca Juga: Tak Hanya Khusus untuk Sepak Bola, Stadion Candradimuka Kebumen Bakal Miliki Trek Balap Motor

"Dark Garden mengajak kita mengakui bahwa kita hidup dalam sebuah paradoks. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim, kita juga menyaksikan berbagai tindakan yang terus memperparah krisis. Pameran ini tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan membuka ruang dialog untuk membayangkan berbagai kemungkinan masa depan melalui jejaring relasi, perawatan, dan solidaritas," ujar Arami Kasih.

Para seniman yang terlibat di antaranya Hana Hanraisy, Ragil Dwi Putra, Jahan Xanlü, Panda Wong, Sarah Taylor, Paul Kiram, dan Lisa Speed. 

Para seniman yang terlibat membawa perspektif unik dari riset lapangan di berbagai lokasi. 

Hana Hanraisy dari Majalengka merespons perubahan lanskap akibat konversi komoditas dan hilangnya identitas lokal. 

Baca Juga: Dua Kebakaran Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Damkarmat Imbau Warga Waspadai Penggunaan Api

Ragil Dwi Putra dari Jakarta mengangkat isu ekstraksi batu gamping untuk pembangunan kota. 

Paul Kiram dari Bukittinggi menyoroti kearifan masyarakat tradisional dalam berinteraksi dengan alam.

Pameran Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks dapat dikunjungi publik mulai 19 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Loka Carita, Nitiprayan, Yogyakarta. 

Melalui beragam instalasi, media baru, dan karya partisipatif, pameran ini mengundang masyarakat untuk merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungan.

Sekaligus membayangkan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Kolaborasi Indonesia Australia Climate Futures Incubator HONF Krisis Iklim pameran seni