JOGJA - Latar belakang pendidikan Surya Ananta tak pernah mengarahkannya menjadi pengelola pusat perbelanjaan. Insinyur Pertanian lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) itu mengawali karier selama 11 tahun sebagai banker, sebelum akhirnya bergabung dengan Plaza Ambarrukmo pada Maret 2005.
Namun justru perjalanan yang tidak lazim itu menjadi modal terbesarnya. Bagi Surya, seseorang tidak boleh membatasi dirinya hanya karena latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja.
"Orang jangan statis. Jangan merasa nasib saya hanya seperti ini. Background saya bertolak belakang, tetapi ternyata semuanya bisa dipelajari kalau memang mau belajar," ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Dari Bak Mandi ke Panggung Final Piala Dunia, Lionel Messi: Foto Itu Sangat Luar Biasa
Prinsip tersebut terus ia pegang hingga kini, saat menjabat sebagai Mall Cluster General Manager yang menaungi Plaza Ambarrukmo dan Plaza Malioboro, sekaligus Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY.
Saat pertama kali bergabung di Plaza Ambarrukmo, laki-laki yang kini berusia 56 tahun itu menangani divisi accounting dan finance.
Tugasnya mengelola arus kas pembangunan mal yang saat itu belum resmi beroperasi. Namun setelah grand opening pada 5 Maret 2006, manajemen justru memintanya berpindah ke divisi operasional, bidang yang sama sekali belum pernah ia tekuni.
Baca Juga: MANAJER ANYAR PSIM JOGJA: Iksan Mahar, Wartawan yang Kini Pimpin Laskar Mataram
Alih-alih menolak, Surya memilih mempelajarinya dari nol.
Dalam empat tahun berikutnya, ia berpindah-pindah menangani hampir seluruh divisi, mulai dari operasional, engineering, human resources, leasing, legal, hingga general affair.
Seluruh proses tersebut dijalaninya melalui learning by doing.
"Kalau industri hotel ada sekolahnya, industri penerbangan juga ada. Tapi pengelolaan mal tidak ada sekolahnya. Jadi semua ilmunya otodidak," katanya.
Menurut Surya, kemampuan teknis sebenarnya relatif mudah dipelajari. Yang jauh lebih sulit justru kemampuan untuk memimpin manusia.
Karena itu, ia selalu menekankan kepada seluruh kepala divisi bahwa tugas seorang pemimpin bukan sekadar memastikan pekerjaan selesai, tetapi juga membangun orang-orang yang bekerja bersamanya.
Baca Juga: Gary Neville Kritik Keras Komentar Thomas Tuchel tentang DNA Sepak Bola Inggris
"Kalau anak buah bermasalah jangan langsung dikirim ke HRD. Itu anakmu. Kamu yang harus membimbing dan membangun mereka," pesannya.
Bagi Surya, seorang pemimpin harus hadir sebagai leader, bukan sekadar boss. Secara pribadi, ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa pemimpin yang baik harus ditakuti bawahannya.
"Lakukanlah tegas, lakukanlah fair, dan tetap disukai. Kalau akhirnya ada yang tidak suka, itu dampak dari keputusan, bukan tujuan kita memimpin," ujarnya.
Filosofi lain yang terus ia pegang adalah selalu memasang standar pencapaian setinggi mungkin. Ia mengaku tidak pernah memaknai kegagalan sebagai sesuatu yang benar-benar jatuh, melainkan ketika hasil yang diraih masih berada di bawah target yang sudah ditetapkan.
"Kalau pencapaiannya baru 60 persen, menurut saya itu sudah gagal. Bukan karena tidak ada hasil, tetapi karena kita belum mencapai yang terbaik," tuturnya.
Diakuinya, cara berpikir tersebut turut mendorong dirinya untuk terus belajar, berdiskusi, dan melakukan evaluasi sebelum mengambil keputusan.
Baca Juga: Gary Neville Kritik Keras Komentar Thomas Tuchel tentang DNA Sepak Bola Inggris
Ia juga mengadaptasi filosofi Jawa alon-alon waton kelakon. Menurutnya, makna ungkapan tersebut bukan bekerja lambat, melainkan menjalani setiap tahapan secara matang hingga tujuan benar-benar tercapai.
"Alon-alon itu step by step. Kelakon itu berhasil. Jadi setiap langkah harus membawa kita menuju keberhasilan," katanya.
Setelah hampir dua dekade berkecimpung di industri pusat perbelanjaan, Surya mengaku ukuran keberhasilan yang paling membahagiakan bukanlah angka penjualan semata.
Baginya, kepuasan terbesar justru ketika pengunjung atau customer merasa aman, nyaman, dan ingin kembali datang ke mal.
"Kebahagiaan saya ketika customer merasa happy, merasa aman, nyaman, dan mereka ingin datang lagi. Itu artinya apa yang kami kerjakan berhasil," ujarnya.
Prinsip-prinsip tersebut pula yang kini ia terapkan saat memimpin dua pusat perbelanjaan dengan karakter berbeda.
Plaza Ambarrukmo yang secara karakteristik berfokus pada pelanggan lokal yang datang berulang kali, sementara Plaza Malioboro lebih banyak melayani wisatawan.
Baca Juga: Pengamat Ekonomi UPB Kebumen Jelaskan Tantangan KDMP, Konsep Bagus tapi Butuh Manajemen yang Baik
Menurut Surya, perbedaan karakter itu menuntut strategi pelayanan, komposisi tenant, hingga pengalaman pengunjung yang berbeda pula.
Meski tantangannya terus berubah, ia meyakini satu hal tidak pernah berubah, yakni kemauan untuk terus belajar.
"Bagi saya, selama seseorang tidak berhenti berkembang, tidak ada latar belakang yang menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva