JOGJAKARTA tidak lagi sekadar menjadi kota tujuan wisata budaya, tetapi telah berkembang sebagai kota yang hidup dengan denyut festival sepanjang tahun. Beragam penyelenggaraan event seni dan budaya yang berlangsung hampir setiap bulan telah membentuk ekosistem kreatif yang tidak hanya menghidupkan ruang berkesenian, tetapi juga membuka lapangan kerja, melahirkan seniman baru, hingga menggerakkan sektor ekonomi kreatif.
Promotor event sekaligus Direktur Utama ARTJOG Heri Pemad mengatakan, Jogjakarta saat ini layak disebut sebagai kota festival. Menurutnya, festival di Jogja bukan sekadar agenda tahunan, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dan pelaku seni.
Baca Juga: ArtJog Bukan Sekadar Pesta Seni: Kritik Ekonomis vs Ideologis Mengemuka di Tengah Publik
Selain Jogja sudah membranding dirinya sebagai City of Festival, Heri menyebut ada lebih dari 70 festival yang rutin berjalan tiap tahunnya. "Saya kira memang layak karena jumlah festivalnya paling banyak dan paling aktif dibandingkan kota lain," ujarnya saat ditemui di Jogja National Museum, Jumat (17/7).
Berbeda dengan kota lain yang menjadikan event sebagai penggerak industri atau bisnis, Heri menilai festival di Jogja justru tumbuh secara organik dari kebutuhan para pelaku seni untuk berekspresi. Bahkan, penyelenggaraan festival kini berkembang sebagai profesi tersendiri di kalangan seniman.
Menurut Heri, kondisi itu tidak lahir secara instan. Ketika dirinya masih menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta pada akhir 1990-an, ruang pameran maupun event seni masih sangat terbatas.
Saat itu, lanjutnya, hanya sedikit agenda yang diselenggarakan pemerintah, sementara kesempatan seniman muda tampil juga sangat sempit. Berangkat dari kegelisahan itu, ia bersama sejumlah seniman muda mulai menggelar pameran secara mandiri di berbagai lokasi.
Berbagai ruang nonkonvensional kemudian disulap menjadi galeri, mulai dari gudang kosong, sekolah, kafe, restoran, hingga area persawahan. "Dulu ruang presentasi karya sangat terbatas. Event pemerintah hanya beberapa seperti Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY)," tuturnya.
Menurutnya, keterbatasan infrastruktur justru memunculkan kreativitas baru. Ketika ruang pamer resmi tidak mencukupi, para pelaku seni menciptakan alternatif ruang presentasi yang lebih fleksibel dan dekat dengan masyarakat. Di situlah festival menggantikan keterbatasan ruang yang tidak disediakan pemerintah.
Ekosistem itu kemudian berkembang menjadi industri kreatif yang lebih luas. Heri mengaku dirinya bahkan mengurangi aktivitas melukis sejak awal 2000-an untuk fokus membangun manajemen seni melalui Heri Pemad Art Management. "Lama-lama ternyata kebutuhan manajemen seni sangat besar,” tambahnya.
Pengalaman itu kemudian turut menginspirasi lahirnya Program Studi Tata Kelola Seni di ISI Jogjakarta. Menurut Heri, keberadaan festival juga memiliki peran penting dalam regenerasi pelaku seni. Event seperti ARTJOG, kata dia, tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga menghadirkan program edukasi yang memperkenalkan seni kepada generasi muda sehingga memunculkan bibit-bibit kreator baru.
Baca Juga: 73 Hari Perayaan Seni, ARTJOG 2026 Resmi Digelar dan Tegaskan Seni Tetap Hidup Melintasi Generasi
ARTJOG sendiri tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-19. Selama hampir dua dekade, berbagai tantangan mulai dari pendanaan, kerja sama, persoalan hukum, hingga keterbatasan infrastruktur terus dihadapi. Namun, menurut Heri, seluruh tantangan itu dapat dilalui karena kuatnya dukungan publik.
"Ini investasi kebudayaan untuk masa depan. Selama masyarakat masih datang, mengapresiasi bahkan mengkritik ARTJOG, berarti kami masih dianggap penting. Publik adalah kekuatan terbesar festival," tandasnya. (bas/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja