Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pedagang PASTHY Jogja Keluhkan Kunjungan Ramai Tapi Tidak Ada Pembeli

Iwan Nurwanto • Kamis, 16 Juli 2026 | 18:38 WIB
Salah satu pedagang burung di PASTHY, Mujiharjo saat merawat dagangannya Kamis (16/7/2026). Kondisi penjualan saat satwa saat ini tergolong sepi. (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja) 
Salah satu pedagang burung di PASTHY, Mujiharjo saat merawat dagangannya Kamis (16/7/2026). Kondisi penjualan saat satwa saat ini tergolong sepi. (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja) 

 JOGJA - Pedagang Pasar Aneka Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY) mengeluhkan lesunya aktivitas ekonomi di balik ramainya kunjungan. Para pedagang menyebut mayoritas pengunjung hanya melihat-lihat tanpa membeli komoditas yang dijual.

Hal itu yang dirasakan Mujiharjo, salah satu pedagang burung ini mengungkapkan bahwa penurunan penjualan dirasakan pasca pandemi Covid-19. Kemudian kondisinya terus merosot hingga saat ini. 

Pria yang sudah berjualan di PASTHY dari 2010 atau sejak resmi dipindah dari Pasar Ngasem ini mengungkap betapa sulitnya kondisi pasar. Dalam satu bulan terkadang ia hanya mampu menjual satu hingga tiga ekor burung saja.

“Mulai sejak Covid itu. Tidak pasti laku,” ujar Mujiharjo saat ditemui Radar Jogja di kiosnya, Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Warga Palihan Tagih Janji Bupati Kulon Progo, Gegara Penggantian TKD Mandeg Tanpa Kejelasan

Pedagang berusia 61 tahun itu juga menyoroti ramainya pengunjung saat momentum akhir pekan. Dulu, hari Sabtu dan Minggu merupakan momen puncak perputaran ekonomi di pasar satwa. Namun sekarang justru hanya ramai pengunjung yang sekedar melihat-lihat tanpa melakukan transaksi pembelian.

Menghadapi situasi tersebut, ia berharap adanya perhatian dan intervensi dari pemerintah. Misalnya dengan promosi kembali PASTHY agar semakin mendongkrak daya beli masyarakat ke pasar tradisional.

"Harapan saya cuma pasar bisa tambah ramai dan laku kembali jualannya,” terang Mujiharjo.

Kondisi serupa juga dirasakan petugas parkir di PASTHY, Suradal mengungkapkan, meski kunjungan pasar disebut ramai saat akhir pekan, kondisi itu masih tergolong sepi. Lantaran jauh berbeda jika dibandingkan sebelum masa pandemi Covid-19.

Baca Juga: Sembodro Beach Fight Session Siap Hadirkan Pertandingan Tinju di Tepi Pantai Gunungkidul

Dia menyebut kunjungan pasar mengalami penurunan drastis pasca ada pembatasan aktivitas dan penutupan pasar di masa pandemi. Kondisi sepinya pengunjung otomatis berimbas langsung pada pendapatan sektor parkir.

“Sekarang (pendapatan parkir) tidak bisa dipastikan, seharian penuh pas ramai paling cuma sekitar Rp 280 ribu. Itu disetor dan dibagi-bagi, karena kami sistem upahnya bulanan,” bebernya.

Sementara salah satu penjual pakan burung yang hanya bersedia disebut Tini menyampaikan bahwa maraknya penjualan secara online menjadi penyebab PASTHY sepi. Lantaran komoditas pakan burung yang dijual secara daring cenderung lebih murah.

Selain kalah saing dengan harga online, persaingan di ranah offline disebutnya juga semakin ketat. Sebab saat ini banyak pedagang yang membuka usaha serupa namun jangkauannya lebih mudah bagi konsumen. Misal di perkampungan atau pinggir-pinggir jalan.

Baca Juga: Pemkab Kulon Progo hanya Mampu Sediakan 12 Guru untuk Sekolah Rakyat dari 32 Guru yang Ditargetkan

"Penurunan omzet sampai separuhnya (50 persen). Kalau dulu pembelinya ramai dan merata, sekarang tidak menentu," ungkap Tini di lapaknya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
PASTHY Jogja Kota Jogja ekonomi lesu kondisi ekonomi pasar hewan