Kementerian Agama (Kemenag) DIY pun mengimbau masyarakat tidak melewatkan momentum astronomi yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kemenag DIY Nurhuda mengatakan, di wilayah Jogjakarta momen terbaik terjadi pada pukul 16.27.
"Rashdul Kiblat ini merupakan fenomena alam saat matahari berada tepat di atas Ka'bah. Untuk Jogjakarta, waktu tepatnya pukul 16.27, sedangkan interval pengamatannya sekitar pukul 16.22 sampai 16.32," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (15/7/2026).
Menurut Nurhuda, masyarakat cukup memanfaatkan benda yang berdiri tegak lurus, kemudian memperhatikan arah bayangannya pada waktu tersebut. Bayangan itu akan menunjukkan arah yang berlawanan dengan posisi Ka'bah sehingga menjadi cara sederhana untuk memastikan arah kiblat.
Baca Juga: Bermodalkan Printer dan Kertas Buram, Warga Sleman Buat Uang Palsu Ratusan Lembar
Caranya, kata dia, cukup mudah dengan menggunakan benda yang berdiri tegak lurus. Kemudian, bayang-bayangnya nanti otomatis lurus ke arah Ka'bah sehingga bisa dijadikan acuan untuk meluruskan arah kiblat. Ia mengimbau momentum tersebut dimanfaatkan tidak hanya oleh pengelola masjid dan musala saja.
“Masyarakat yang ingin memastikan arah kiblat di rumah masing-masing juga bisa memanfaatkan momen ini,” terangnya.
Nurhuda menjelaskan, sebagian besar tempat ibadah di DIY sebenarnya telah memiliki sertifikat pengukuran arah kiblat dari Kemenag. Namun, lanjut dia, pemeriksaan ulang tetap diperbolehkan sebagai bentuk verifikasi. Ia mengaku, kurang lebih sekitar 70 persen masjid dan mushola di Jogjakarta sudah diukur dan memiliki sertifikat arah kiblat.
“Bahkan ada juga pemakaman yang meminta bantuan Kementerian Agama untuk mengukur arah kiblat jenazah," ungkapnya.
Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program nasional Gerakan Indonesia Berqiblat 1448 H yang menargetkan partisipasi lebih dari 1,4 juta masyarakat di seluruh Indonesia. Untuk DIY, target partisipasi ditetapkan sebanyak 38.400 orang. Nurhuda juga mengingatkan pentingnya ketelitian dalam menentukan arah kiblat. Sebab, penyimpangan kecil dapat berdampak cukup besar ketika ditarik hingga ke Ka'bah. Ia berharap masyarakat tidak melewatkan fenomena yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu tersebut.
"Berdasarkan informasi dari Badan Hisab Rukyat, selisih satu derajat saja dari Indonesia jika ditarik ke Masjidil Haram bisa melenceng sekitar 145 sampai 150 kilometer. Karena itu momentum Rashdul Kiblat ini penting untuk memastikan arah kiblat benar-benar akurat," tandasnya.
Sementara itu Kakanwil Ahmad Bahiej mengatakan, pihaknya meminta dukungan seluruh ASN agar mengajak keluarga, masyarakat, penyuluh agama, serta madrasah untuk ikut berpartisipasi. Ia berharap seluruh penyuluh agama, madrasah, khususnya siswa Madrasah Aliyah serta siswa kelas VIII dan IX Madrasah Tsanawiyah dapat ikut berpartisipasi.
“Dengan kebersamaan, target yang diberikan kepada DIJ insyaallah dapat tercapai," tambahnya. (bas)
Editor : Bahana.