Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kandungan Bakteri E-coli Tinggi, DLH Kota Jogja Sebut Limbah Domestik Jadi Biang Kerok Pencemaran Sungai

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 14 Juli 2026 | 21:50 WIB
TERCEMAR: Sampah yang terbawa arus Sungai Code menumpuk di Bendung Mergangsan, Kota Jogja, kemarin (14/7). Pencemaran limbah domestik yang menyebabkan tingginya kandungan bakteri E.coli masih menjadi ancaman bagi kebersihan sungai di Kota Jogja. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
TERCEMAR: Sampah yang terbawa arus Sungai Code menumpuk di Bendung Mergangsan, Kota Jogja, kemarin (14/7). Pencemaran limbah domestik yang menyebabkan tingginya kandungan bakteri E.coli masih menjadi ancaman bagi kebersihan sungai di Kota Jogja. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

JOGJA - Kandungan bakteri e-coli akibat pencemaran limbah domestik masih menjadi momok bagi kebersihan sungai di Kota Jogja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota mewanti-wanti masyarakat untuk tidak menggunakan air sungai untuk aktivitas mandi maupun konsumsi.

Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Intan Dewani mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan kualitas air pada tahun 2025 kandungan bakteri e-coli memang masih cukup tinggi. Contohnya, pada hasil pemantauan di aliran Sungai Winongo yang masuk Kemantren Ngampilan, kandungan bakteri e-coli atau coliform fekal mencapai angka 110.000/100 mililiter.

Intan menyebut, kandungan bakteri e-coli setinggi itu dapat menyebabkan gangguan berupa penyakit kulit jika digunakan untuk mandi atau berenang. Sementara jika dikonsumsi menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare.

Mirisnya, di wilayah perkotaan, kondisi air sungai yang tercemar masih dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mandi dan berenang. Misalnya pada aliran Sungai Winongo di yang masuk Kampung Serangan, Kelurahan Notoprajan, Kemantren Ngampilan.

Baca Juga: Lestarikan Ikan Lokal, DKP Kabupaten Bantul Akan Lakukan Restocking 48 Ribu Benih di Enam Titik Sungai Tahun Ini

Sejumlah anak-anak bahkan bermain di dekat jaring perangkap sampah atau trash barrier. "Jika airnya tertelan itu bisa menyebabkan gangguan pencernaan,” ujar Intan saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, Selasa (14/7).

Terkait data pencemaran sungai terbaru di tahun ini, Intan mengaku pihaknya masih melakukan pendataan secara berkala. Datanya baru dapat disampaikan di akhir tahun nanti karena publikasi hasil pemantauan disampaikan secara akumulatif dalam periode tahunan.

Intan mengungkapkan, bakteri e-coli cukup dominan mencemari aliran sungai karena masih banyak masyarakat yang membuang limbah rumah tangga. Misalnya dari aktivitas cucian, mandi, tinja, pembuangan sampah, hingga sisa makanan ke aliran sungai.

Perihal efektivitas pemasangan trash barrier untuk menekan pencemaran sungai. Dia mengaku belum bisa membeberkan secara rinci karena pengambilan sampel kualitas air masih terus berjalan.

Baca Juga: DLH Bantul Klaim 95 Persen Sampah Telah Dipilah sesuai Jadwal Pengangkutan

Sebagaimana diketahui, DLH Kota Jogja saat ini telah memiliki 27 titik trash barrier yang tersebar di Sungai Winongo, Code, dan Gajahwong. Pemasangan alat mulai dilakukan tahun lalu. "Efektivitasnya (trash barrier) baru bisa kami bandingkan setelah hasil keseluruhan nanti diperoleh," beber Intan.

Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan menyatakan, pihaknya saat ini terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai. Sebelumnya, pemkot juga telah melakukan pembersihan kandang-kandang ayam pada bantaran sungai untuk meminimalisasi pencemaran. "Kami ingin sungainya bersih, sehingga lingkungan menjadi lebih sehat,” tandasnya. (inu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
e-coli sungai winongo pencemaran sungai DLH penyakit kulit