JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memastikan hujan telah hilang seluruhnya dari wilayah DIY. Lantaran berdasarkan hasil analisis di awal bulan Juli ini hujan berada di kisaran 0-10 mm.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena hilangnya hujan dipengaruhi karena saat ini seluruh DIY telah memasuki musim kemarau. Terindikasi dari El Nino yang masuk pada kondisi moderat-kuat.
Reni menjelaskan, bahwa musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang. Bahkan bisa bertahan hingga bulan Desember. Dengan puncak kemarau diprediksi terjadi di bulan Agustus.
“Selama tiga bulan ke depan (Juli-Agustus) hujan akan masuk kategori rendah atau berkisar 0-20 mm,” ujar Reni dalam keterangannya Selasa (14/7).
Melihat kondisi tersebut, Reni mengingatkan agar masyarakat lebih siap dalam menghadapi dampak musim kemarau. Lantaran bagi wilayah rawan sangat mungkin mengalami kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.
Disamping itu, menurutnya, perlu bagi sektor pertanian untuk mempersiapkan pola tanam sesuai kondisi musim guna mencegah gagal panen. Serta melakukan pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien agar kebutuhan air dapat tetap tercukupi.
Baca Juga: Dari Rumah Berlantaikan Tanah, Kini Sailah Punya Hunian Layak Berkat Bantuan Pemprov Jateng
“Sebab El Nino kategori moderat-kuat dampaknya dapat mengurangi curah hujan dan menambah durasi periode musim kemarau,” bebernya.
Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Iswari Mahendrarko menyatakan pihaknya sudah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Yakni dengan mengintensifkan operasional Pos BPBD Tegal Turi dan menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) selama 24 jam.
Kebijakan tersebut diambil karena pada musim kemarau risiko kebakaran akan meningkat. Karena kondisi vegetasi yang mulai mengering, suhu udara yang tinggi, serta hembusan angin yang cukup kencang dapat menyebabkan kebakaran jika terpicu api sekecil apa pun.
"Kami menghimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering,” pesan Iswari. (inu)
Editor : Sevtia Eka Novarita