JOGJA - Musim libur sekolah yang terjadi saat ini membawa angin segar bagi sektor pariwisata di DIY.
Tingkat kunjungan wisatawan hingga hunian hotel meningkat, dan sejumlah hotel mencatat okupansi tinggi.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya mampu mendongkrak kinerja industri perhotelan dan wisata karena pelaku usaha menghadapi tekanan persaingan yang semakin ketat, sementara biaya operasional terus meningkat.
Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan, pelaku usaha kini tidak lagi hanya bersaing dengan sesama hotel di wilayah DIY.
Baca Juga: Kabar Buruk, Swiss Tidak Akan Diperkuat Johan Manzambi Lawan Argentina
Kemudahan akses transportasi membuat wisatawan semakin fleksibel menentukan lokasi menginap, termasuk di daerah penyangga.
"Kota-kota lain sekitar DIY juga semakin berbenah, secara jarak juga cukup dekat. Artinya sekarang kompetitor kita jadi dekat," ujar Bobby kepada Radar Jogja, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Bobby, wisatawan kini tidak lagi harus menginap di Kota Jogja untuk menikmati destinasi wisata di DIY.
Mereka bisa dengan mudah memilih akomodasi di daerah sekitar yang menawarkan harga lebih kompetitif.
"Mereka yang main di Jogja menginap di Magelang, itu bisa. Mereka yang mainnya di Jogja mungkin nginep di Solo, itu terjadi," katanya.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha hotel di DIY tidak bisa lagi memaksimalkan tarif kamar seperti saat musim liburan pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Bobby, persaingan kawasan membuat strategi penetapan harga harus lebih hati-hati.
"Hotel rata-rata harganya juga enggak terlalu tinggi kan.
Nah, itu menjadi tekanan di kita. Bagaimana kita juga tidak bisa memaksimalkan pricing seperti biasanya pada saat high season," tegasnya.
Senada, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, okupansi hotel anggota PHRI selama Juni dan awal Juli memang cukup bagus, rata-rata telah mencapai 70 persen atau meningkat sekitar 10-20 persen dibanding periode libur sekolah tahun sebelumnya.
Meski demikian, peningkatan tersebut belum menjadi kabar baik bagi pelaku usaha karena kenaikan biaya operasional dinilai jauh lebih besar.
Harga bahan baku pangan, kebutuhan kebersihan, energi, hingga penggunaan genset saat pemadaman listrik ikut membengkak.
"Okupansi itu memang naik, tapi juga biaya produksi atau biaya operasional kita juga naik," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat hotel tidak memiliki ruang untuk menyesuaikan tarif kamar mengikuti kenaikan biaya operasional.
Di sisi lain, daya beli masyarakat juga belum pulih sepenuhnya.
"Masalah kita sementara kalau dipaksakan untuk menyesuaikan harga kamar, enggak ada tamu," ujarnya.
Lebih lanjut, soal peta persaingan wisata dan penginapan dengan kota-kota lain di sekitar DIY.
Deddy menilai bahwa pemerintah perlu serta membantu menyelesaikan dan membantu para pelaku wisata di DIY.
"Misal ada event wisata skala nasional atau malah internasional, itu bisa menarik wisatawan ke Jogja, dengan durasi menginap yang juga lama, jadi mereka stay di sini, dan tidak perlu ke kota lain," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva