JOGJA - Nama Noor Wa masih memiliki tempat istimewa dalam sejarah kesenian di Jogjakarta, khususnya teater. Pendiri Teater Jeprik yang lahir pada 10 Juli 1951 itu dikenal sebagai sosok yang melahirkan banyak seniman lintas generasi melalui proses kreatif dan pembinaan yang dijalaninya selama bertahun-tahun.
Meski telah berpulang pada 2007 silam, jejak dan pengaruh Noor Wa masih membekas di hati para koleganya. Bagi mereka, Noor Wa bukan sekadar seniman, tetapi juga guru dan sahabat yang memberi banyak pelajaran, baik di panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Salah seorang yang mengenang sosok tersebut adalah seniman sekaligus purna dosen ISI Jogja Agus Leyloor. Ia mengenal Noor Wa sejak awal dekade 1980-an ketika sama-sama aktif di dunia teater. Menurut Agus, Noor Wa merupakan sosok seniman yang benar-benar komplet.
"Mas Noor Wa itu suaranya bagus, main musiknya jago, improvisasi di panggung juga kuat. Dia komplet sebagai seniman," kata Agus kepada Radar Jogja, Sabtu (11/7/2026).
Baca Juga: Jawa Tengah Punya Koperasi Merah Putih Terbanyak se-Indonesia, Ini Datanya
Selama puluhan tahun mengenal Noor Wa, Agus mengaku rasa hormatnya tak pernah luntur. Di matanya, Noor Wa adalah pribadi yang idealis dan selalu menjaga kualitas karya yang diciptakannya.
"Beliau itu orangnya perfeksionis dan idealis. Kalau bisa saya bilang, naskah dan aksi teater Noor Wa itu realis sosialis," paparnya.
Meski begitu, Agus mengaku tidak pernah benar-benar mengenal kehidupan pribadi Noor Wa secara utuh. Menurutnya, pendiri Teater Jeprik tersebut lebih banyak membiarkan karyanya berbicara daripada menceritakan dirinya sendiri.
"Mas Noor Wa itu tidak banyak cerita soal dirinya, misal dia ke luar negeri, ya itu tidak cerita berapa lama, ke sana untuk apa. Bahkan saya tidak ada satupun foto bersama mas Noor Wa," ujarnya.
Baca Juga: Kabar Buruk, Swiss Tidak Akan Diperkuat Johan Manzambi Lawan Argentina
Agus juga masih mengingat salah satu pengalaman yang menurutnya cukup unik. Saat dirinya masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di ISI Jogja, kala itu Noor Wa justru mendaftar sebagai mahasiswa baru sehingga secara akademik menjadi adik tingkatnya.
"Itu cukup aneh, Mas Noor itu senior dan guru saya di teater, tapi pas daftar jadi adik tingkat saya. Tapi seingat saya beliau itu tidak sampai lulus di ISI, hanya 1 atau 2 semester," ungkapnya.
Di balik kiprahnya yang besar di dunia teater, Agus beranggapan bahwa Noor Wa justru dikenal sebagai pribadi yang tertutup. Bagi Agus, hal itu menjadi salah satu sisi paling unik dari Noor Wa. Selama puluhan tahun berteman dan berproses bersama, ia mengaku hanya mengenal Noor Wa melalui karya dan aktivitas berkesenian, bukan melalui cerita kehidupan pribadinya.
Agus mengatakan, hingga kini masih banyak hal tentang Noor Wa yang tidak pernah benar-benar ia ketahui. Bahkan soal Wa yang melekat pada nama Noor Wa pun tidak pernah menjadi pembahasan.
"Beliau itu unik, serba bisa, benar-benar serba bisa. Tapi kehidupan pribadinya misterius. Saya tidak pernah tahu, Wa itu sebenarnya apa. Nama asli atau nama panggung," imbuh Agus.
Di sisi lain, kenangan serupa juga datang dari seniman Heru Pras. Bagi Heru, Noor Wa merupakan sosok yang layak dihormati karena dedikasi dan keteladanannya dalam berkesenian.
"Bagi saya beliau itu sosok seniman sejati. Saya banyak belajar, soal seni, soal hidup," lontarnya.
Salah satu hal yang paling membekas dalam ingatan Heru adalah luasnya jejaring yang dimiliki Noor Wa. Menurutnya, kemampuan Noor Wa membangun relasi membuka banyak peluang bagi perkembangan dunia seni di Jogja.
"Salah satu momen yang saya ingat, sekitar tahun 2003 itu beliau bisa mendatangkan orang-orang Hollywood, bos-bosnya Hollywood itu ke Jogja. Era itu ada rencana Jogja mau dibuat sebagai mini Hollywood gitu," kenangnya.
Heru juga mengenang kedekatannya dengan Noor Wa pada masa-masa akhir kehidupan sang seniman. Hubungan keduanya justru semakin intens ketika kondisi kesehatan Noor Wa mulai menurun.
"Ada masanya Mas Noor Wa itu intens menginap di rumah saya. Termasuk pas sakit, itu masih keliling naik motor sendiri ke tempat saya," bebernya.
Meski hubungannya semakin dekat pada tahun-tahun terakhir kehidupan Noor Wa, ia mengaku banyak sisi pribadi sang seniman yang tetap menjadi teka-teki hingga saat ini.
Bagi Heru, justru sisi itulah yang membuat Noor Wa terus dikenang. Sosoknya seolah membiarkan karya-karyanya berbicara lebih lantang daripada kisah tentang dirinya sendiri
Baca Juga: Head to Head Norwegia vs Inggris: Three Lions Masih Unggul, tetapi Viking Pernah Buat Kejutan
"Ya memang begitu orangnya. Kami lebih sering bicara soal teater, soal karya, soal hidup. Tapi kalau soal dirinya sendiri, beliau tidak banyak membuka cerita," tutur Heru. (iza)
Editor : Iwa Ikhwanudin