JOGJA - Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan klarifikasi terkait kebijakan penutupan Malioboro bagi gerakan Jogja Last Friday Ride (JLFR).
Menurut orang nomor satu di Jogja itu, penutupan dilakukan hanya saat lalu lintas padat.
"Misalkan Malioboro pas macet gitu, ya JLFR-nya terpaksa ngalah. Malioboronya ditutup, mereka dialihkan ke jalur lain.
Nanti kalau sudah selo, mungkin dibolehkan lagi," ujar Hasto dalam keterangannya, Jumat (10/7/2026).
Baca Juga: Fasilitas Minim, Komisi IV DPR RI Berencana Bantu Pengembangan Konservasi Penyu Pantai Gua Cemara
Hasto menegaskan, pihaknya tidak melarang gerakan JLFR masuk Kota Jogja.
Namun kebijakan pengalihan arus dari Malioboro dilakukan untuk mengantisipasi gangguan lalu lintas.
Lantaran, menurutnya, kegiatan dalam JLFR sering terjadi tanpa rencana dan tiba-tiba.
Sehingga kepolisian dan pemerintah kota tidak memiliki kesiapan mengatur pergerakan ribuan pesepeda itu.
"Saya kira itu maksud saya, bukan melarang 100 persen ya. Ini supaya bisa dipahami,” tandas Hasto.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba Lari, Run'n Shine 2026 Padukan Olahraga, Seni, Musik, dan Kuliner
Untuk diketahui, penutupan akses bagi JLFR di Malioboro ramai diperbincangkan usai aparat menyetop pesepeda pada 26 Juni 2026 atau JLFR ke-194.
Kebijakan itu diambil dari rentetan aduan dan insiden penyumbatan lalu lintas.
Kasat Lantas Polresta Jogja AKP Alvian Hidayat menyatakan, puncak gangguan itu terjadi pada saat JLFR ke-184 atau ke-185.
Pada dua kegiatan itu, jumlah peserta mencapai 5.000 sampai 7.000 pesepeda. Sehingga memenuhi jalan-jalan utama di Kota Jogja.
“Itu ternyata menyebabkan banyak keluhan dari masyarakat,” beber Alvian. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun