JOGJA - BMKG Yogyakarta memperingatkan potensi kekeringan ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun seiring musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi tersebut berisiko memicu krisis air bersih hingga gagal panen.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, kondisi tersebut disebabkan aktivitas El Nino yang bertahan hingga Desember 2026 dengan kategori moderat kuat. Potensi terjadinya fenomena tersebut bisa mencapai 86 persen.
“Dampaknya dapat mengurangi curah hujan dan menambah periode musim kemarau,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2026).
Seiring dengan kondisi tersebut, dia mengingatkan agar masyarakat lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau. Terlebih di wilayah rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis.
Menurutnya, potensi kekeringan ekstrem bisa berlangsung dari Juni hingga Desember 2026. Dampaknya, meningkatkan bencana seperti kebakaran hutan dan lahan hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.
“Diperlukan tindakan antisipatif dengan mempersiapkan pola tanam agar tidak mengalami gagal panen,” pesannya.
Baca Juga: Satu Warga Arjowinangun Alami Luka Bakar Akibat Tabung Gas Bocor
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengungkapkan, wilayahnya selama ini tidak memiliki potensi bencana kekeringan lantaran secara letak geografis diapit oleh tiga aliran sungai besar dan memiliki sumber air PDAM.
Meski begitu, Nur mengimbau agar masyarakat bijak dalam memanfaatkan sumber daya air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Selalu mengoptimalkan pemanfaatan air dan bijak untuk menggunakannya,” tuturnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita