Jika Anda berjalan-jalan di sekitar Malioboro atau Alun-Alun Kidul pada bulan Juli- Agustus menjelang tengah malam, anda akan melihat pemandangan unik, yaitu orang-orang mulai mengenakan jaket tebal, sweter, bahkan syal. Suhu udara di Jogja yang biasanya hangat, tiba-tiba bisa anjlok hingga 18°C atau 19°C pada dini hari.
Kata bediding sendiri berasal dari bahasa Jawa bedhidhit yang berarti dingin yang menusuk. Fenomena ini murni gejala alam tahunan saat wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau.
Mengapa Jogja Jadi Dingin Saat Kemarau?
Secara ilmiah, dinginnya Jogja saat musim kemarau disebabkan oleh dua faktor utama, diantaranya yaitu:
1. "Angin Titipan" dari Australia
Di saat Jogja sedang kemarau, Benua Australia justru sedang mengalami puncak musim dingin. Karena perbedaan tekanan udara, berembuslah Angin Monsun Australia menuju Asia melewati jalur kepulauan Indonesia, termasuk DIY. Angin inilah yang membawa massa udara kering dan dingin ke Jogja.
Baca Juga: Targetkan Semifinal, Timnas Putri Indonesia Angkut 23 Pemain untuk AFF Women's Cup 2026
2. Langit Jogja yang kehilangan "Selimut"
Di musim kemarau, uap air di udara sangat sedikit sehingga langit Jogja bersih tanpa awan (clear sky).
Siang hari, sinar matahari langsung membakar kulit tanpa penghalang awan, membuat Jogja terasa sangat gerah.
Malam hari, bumi melepaskan kembali panas yang diserapnya siang hari ke luar angkasa. Karena tidak ada awan yang berfungsi sebagai selimut untuk menahan panas tersebut, suhu permukaan bumi pun merosot tajam menjelang subuh.
Dampak bediding akan terasa jauh lebih magis jika Anda bergeser ke area dataran tinggi di Yogyakarta. Di kawasan Kaliurang (Sleman) yang berada di kaki Gunung Merapi, atau di Kebun Teh Nglinggo (Kulon Progo), suhu udara malam hari bisa menyentuh angka 14°C hingga 12°C. Udara yang bersih dikombinasikan dengan kabut tipis pagi hari membuat kawasan-kawasan ini mendadak punya vibe seperti pedesaan di Eropa. Tidak heran jika musim bediding sering kali menjadi waktu favorit bagi para pemburu sunrise di Jogja.
Menghadapi udara yang dingin kering ini, masyarakat Jogja punya kearifan lokal tersendiri untuk menghangatkan tubuh. Jika Anda sedang berada di Jogja saat fenomena ini berlangsung, cobalah beberapa agenda wajib ini:
1. Berburu kuliner hangat adalah waktu terbaik untuk nongkrong di Angkringan sambil memesan Kopi Joss (kopi yang dicelup arang membara) atau menikmati semangkuk Wedang Ronde hangat di sekitar Alun-Alun.
2. Gunakan pakaian berlapis dan jangan terkecoh dengan siang hari yang panas. Jika ingin keluar malam di Jogja pada bulan-bulan ini, selalu bawa jaket.
3. Jaga kelembapan kulit karena angin kering Australia rentan membuat kulit warga Jogja bersisik dan bibir pecah-pecah. Jangan lupa siapkan lotion atau lip balm.
Fenomena bediding memberi warna tersendiri bagi romantisme Yogyakarta. Di satu sisi kita ditantang oleh udara dingin yang menusuk, namun di sisi lain, fenomena ini memberikan alasan sempurna untuk menikmati kehangatan segelas wedang tradisional bersama orang-orang terdekat.
Editor : Bahana.