JOGJA - Rencana Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Inggris untuk pendirian universitas mendapat sorotan dari sejumlah pihak.
Salah satunya Trah Sultan Hamengkubuwono II (HB II).
Hal ini berkaitan dengan luka lama peristiwa Geger Sepehi yang terjadi di tahun 1812 lalu.
Perwakilan Trah Sultan HB II Fajar Bagoes Putranto mengatakan, peristiwa Geger Sepehi merupakan salah satu sejarah kelam bagi Indonesia.
Pada peristiwa itu pasukan Inggris menjarah ribuan manuskrip kuno dan kekayaan dari Keraton Yogyakarta.
Baca Juga: Tata Arsip Foto Pimpinan, Pemkab Magelang Luncurkan Sipanda
Menurut Fajar, ribuan aset asli milik Keraton Yogyakarta yang dijarah sampai saat ini belum dikembalikan oleh pemerintah Inggris.
Padahal jarahan tersebut merupakan salah satu fondasi ilmu intelektual nusantara.
“Jadi sangat menciderai moral jika Indonesia membiarkan Inggris mengeruk keuntungan dari sektor pendidikan di tanah air, sementara warisan ilmu pengetahuan asli milik leluhur kita sendiri enggan mereka kembalikan,” ujar Fajar dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto memang sempat mengundang perguruan tinggi terkemuka Inggris untuk menjalin kerja sama dalam pendirian 10 universitas baru di Indonesia.
Baca Juga: Jateng Boyong Enam Penghargaan Adinata Syariah 2026, Taj Yasin Percepat Kawasan Industri Halal
Ajakan tersebut disampaikan dalam forum UK–Indonesia Education Roundtable yang digelar di Lancaster House, London, pada 20 Januari 2026.
Fajar mendesak pemerintah agar tidak tergiur dengan dalih investasi pendidikan global.
Bahkan jika perlu menutup pintu investasi bagi seluruh universitas Inggris sebelum Kerajaan Inggris melakukan restitusi budaya total dengan memulangkan seluruh manuskrip fisik asli milik Indonesia.
“Tanpa penyelesaian utang sejarah yang tuntas, kehadiran kampus-kampus Inggris di Indonesia hanya akan menjadi simbol kolonialisme gaya baru,” tegas Fajar.
Dikutip dari siaran ulang TVR Parlemen pada Rabu (24/6/2026), gelombang penolakan universitas asing ke Indonesia juga disampaikan kalangan akademisi.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Wening Udasmoro meminta agar kehadiran perguruan tinggi luar negeri di Indonesia ditinjau ulang oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Menurutnya, membiarkan perguruan tinggi asing menjamur begitu saja di Indonesia dapat menjadi ancaman nyata bagi ekosistem pendidikan nasional. Lantaran dikhawatirkan dapat menggerus daya saing dan potensi perkembangan universitas-universitas dalam negeri.
"Perlu kita lihat bermanfaat (atau) tidak perguruan tinggi luar negeri masuk ke Indonesia," ucap Wening dalam siaran tersebut. (inu)