JOGJA - Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA negeri di DIY diwarnai fenomena calon siswa yang mendaftar hanya satu menit sebelum sistem ditutup, dinyatakan lolos, namun tidak daftar ulang.
Kasus yang terjadi di SMAN 3 Jogja itu dinilai merugikan calon siswa lain karena memicu efek domino proses seleksi.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 3 Jogja Dadang Triatmoko mengungkapkan, calon siswa itu melakukan pendaftaran pada 26 Juni 2026 pukul 15.59, hanya satu menit sebelum portal SPMB ditutup pukul 16.00 sore.
"Itu motifnya mereka kami tidak tahu. Yang jelas sampai batas akhir daftar ulang kami tunggu, bahkan kami hubungi melalui telepon dan WhatsApp.
Akhirnya dibalas lewat WA bahwa tidak jadi daftar ulang," ujarnya saat ditemui di SMAN 3 Jogja, Senin (6/7/2026).
Menurut Dadang, sekolah sudah berupaya mencari kepastian karena peserta memiliki nilai yang tergolong baik dan berada di posisi tengah dalam daftar kelulusan.
Ia menjelaskan, keputusan tidak melakukan daftar ulang berdampak luas terhadap hasil seleksi.
Ia menyebut, pihaknya baru kali pertama mengalami kasus seperti ini.
Dampaknya, kata dia sangat merugikan bagi sekolah maupun calon siswa lain yang sebenarnya memiliki peluang diterima.
"Kalau satu siswa di posisi tengah tidak daftar ulang, secara matematis menggugurkan kesempatan siswa yang ada di bawahnya.
Efeknya seperti domino karena berpengaruh juga terhadap pilihan di sekolah lain," katanya.
Akibat adanya kursi kosong, SMAN 3 Jogja harus kembali membuka jalur SPMB cadangan, sehingga proses penerimaan siswa baru menjadi lebih panjang.
Padahal, idealnya semua proses SPMB selesai tahap awal. Tapi karena ada yang tidak daftar ulang, pihaknya harus menambah tahapan seleksi cadangan.
Kendati begitu, ia menyoroti dalam kasus tersebut yang paling dirugikan ialah masyarakat.
“Ya, terutama calon siswa yang kehilangan kesempatan masuk sekolah di sini," katanya.
Dadang mengimbau masyarakat memahami seluruh ketentuan SPMB dan tidak menjadikan proses seleksi sebagai ajang coba-coba.
"Jangan mencoba-coba mendaftar, kalau memang sudah diterima di sekolah lain dan akhirnya tidak diambil.
Kasihan calon siswa lain yang seharusnya memiliki kesempatan masuk," tegasnya.
Fenomena itu ternyata tidak hanya terjadi di SMAN 3 Jogja. Sejumlah SMA negeri lain juga mengalami kasus serupa, bahkan terdapat sekolah yang mencatat tiga peserta tidak melakukan daftar ulang.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY sekaligus Ketua Panitia SPMB SMA dan SMK Negeri DIY Suci Rohmadi menjelaskan, sistem SPMB tidak secara otomatis menggeser peringkat peserta ketika ada siswa yang mengundurkan diri.
"Kalau ada yang tidak daftar ulang, bukan berarti otomatis peserta di bawahnya langsung naik.
Sistemnya tidak seperti bejana berhubungan. Kalau dibuat begitu, pilihan kedua dan ketiga juga bisa ikut berubah semua," ujarnya.
Karena itu, kursi yang kosong akan diisi melalui mekanisme seleksi cadangan.
Peserta yang ingin mengikuti seleksi tersebut harus kembali mendaftar serta memenuhi persyaratan, termasuk belum diterima di sekolah negeri maupun swasta.
Suci mengakui kasus peserta yang lolos tetapi tidak daftar ulang cukup banyak ditemukan pada SPMB tahun ini.
Menurutnya, sebagian di antaranya sudah lebih dahulu diterima di sekolah lain, tetapi tetap mengikuti seleksi SPMB reguler.
"Ada yang sifatnya coba-coba, tetapi akhirnya merugikan orang lain. Misalnya sudah diterima di SMA Taruna Nusantara, tetapi masih mendaftar SPMB reguler. Setelah diterima, akhirnya tidak daftar ulang," katanya.
Ia mencontohkan, di SMAN 8 Jogja terdapat tiga peserta yang mengundurkan diri setelah diketahui lebih dahulu diterima di SMA Taruna Nusantara.
Kendati demikian, kata dia, Dikpora DIY tidak dapat melarang peserta mengikuti SPMB reguler meskipun telah lolos di sekolah lain karena hal tersebut merupakan hak setiap calon siswa.
Baca Juga: Terik Kemarau Bisa Picu Ancaman ISPA dan Dehidrasi, Dinkes DIY Minta Warga Perbanyak Minum Air
"Kalau sejak awal kami larang, nanti justru dianggap diskriminatif.
Tetapi di sisi lain, perilaku seperti ini memang merugikan calon siswa lain yang benar-benar membutuhkan kursi sekolah negeri," ujarnya.
Suci berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak menyalahgunakan kesempatan mengikuti SPMB.
"Menurut kami perbuatan seperti ini tidak baik. Sudah beruntung diterima di sekolah yang diinginkan, tetapi masih mencoba-coba hingga akhirnya merugikan orang lain. Ini menjadi perhatian bersama karena menyangkut tanggung jawab dan etika dalam mengikuti proses SPMB," tandasnya. (bas/laz)
Editor : Herpri Kartun