JOGJA – Cuaca kemarau disertai suhu terik di DIY berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dehidrasi, hingga kambuhnya penyakit alergi dan asma. Terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan, suhu udara yang tinggi membuat paparan polusi dan partikel di udara semakin besar. Kondisi itu dapat memicu gangguan kesehatan, terutama penyakit yang penularannya melalui udara.
"Yang menjadi perhatian kita adalah cuaca yang sangat terik. Risiko penyakit yang menyebar melalui udara, seperti infeksi saluran pernapasan menjadi lebih tinggi. Namun, itu juga sangat bergantung pada kondisi daya tahan tubuh masing-masing," ujarnya Anung kepada wartawan, Senin (6/7/2025).
Anung menjelaskan, langkah paling sederhana untuk mencegah gangguan kesehatan saat musim kemarau adalah menjaga kecukupan cairan tubuh. Dalam kondisi tersebut, masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air putih serta tetap menerapkan pola hidup sehat.
Selain ISPA, cuaca panas juga berpotensi memicu kambuhnya penyakit alergi. Perubahan suhu yang ekstrem membuat sebagian orang mengalami keluhan seperti gatal-gatal, sesak napas, hingga gangguan saluran pernapasan.
"Untuk masyarakat yang memiliki riwayat alergi, panas juga bisa menjadi pemicu. Ada yang mengalami gatal, ada juga yang sesak napas. Begitu pula penderita asma, sebaiknya tidak terlalu lama terpapar panas secara langsung karena bisa memicu kekambuhan," jelasnya.
Kendati demikian, dia menilai kondisi cuaca di Indonesia masih jauh lebih aman dibandingkan sejumlah negara di Eropa yang tengah mengalami gelombang panas dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat Celcius.
"Di sini tidak se-ekstrem Eropa. Suhu kita belum sampai 40 derajat dan mudah-mudahan tidak sampai ke arah sana karena masih sesekali turun hujan," terangnya.
Masyarakat yang bekerja di luar ruangan juga diimbau agar menggunakan pelindung kepala, seperti topi, untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.
Aktivitas di bawah terik matahari menyebabkan penguapan cairan tubuh melalui pori-pori berlangsung lebih cepat sehingga risiko dehidrasi meningkat. Kebutuhan cairan orang dewasa umumnya berkisar 1,5 hingga 2 liter per hari.
Namun saat cuaca panas, kebutuhan tersebut dapat bertambah sesuai tingkat aktivitas.
"Indikator paling mudah mengetahui tubuh kekurangan cairan adalah melihat warna urine. Kalau mulai keruh, hampir pasti tubuh sedang kekurangan cairan sehingga perlu segera memperbanyak minum air putih," imbuhnya.
Terpisah, seorang mahasiswa asal Jogjakarta Muhammad Triatmoko mengaku, rutin membawa botol selama mengikuti kelas perkuliahan. Dalam sehari, kurang lebih ia mengkonsumsi satu liter air putih.
Namun, karena musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panas, dirinya menambah jumlah konsumsi air putih.
“Terik panas siang hari itu bikin gak kuat. Kalau kurang air putih, ya pasti bisa dehidrasi,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita