Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pedagang Malioboro Jogja Waswas  jelang Penerapan Full Pedestrian; Persulit Akses Wisatawan, Omzet Turun

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 6 Juli 2026 | 20:07 WIB
Portal berwarna hijau dan kuning terpasang di Jalan Pajeksan, salah satu jalan sirip kawasan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (5/7/2026). Portal tersebut bukan penghalang permanen, melainkan bagian dari sistem manajemen akses dalam penerapan kawasan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Portal berwarna hijau dan kuning terpasang di Jalan Pajeksan, salah satu jalan sirip kawasan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (5/7/2026). Portal tersebut bukan penghalang permanen, melainkan bagian dari sistem manajemen akses dalam penerapan kawasan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 

JOGJA - Rencana Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian tahun ini, memicu keresahan pedagang. Kebijakan itu dikhawatirkan mempersulit akses wisatawan dan berbuntut penurunan omzet.


Salah seorang pedagang oleh-oleh batik di Pasar Beringharjo Ahmad Zainul Bintoro mengatakan, pembatasan kendaraan bermotor masuk ke kawasan Malioboro kemungkinan membuat wisatawan harus memutar jika menuju pasar. 


Kondisi itu ditakutkan membuat wisatawan membatalkan niat ke Pasar Beringharjo lantaran aksesnya terlalu jauh.  "Ini jelas bisa mempengaruhi penjualan pedagang di Pasar Beringharjo,” ujar Bintoro saat dikonfirmasi Radar Jogja, Senin (6/7).

Baca Juga: Tujuh Bulan Hilang, Warga Minta Kades Sambeng Dipecat jika Tidak Ancam Geruduk Kantor Bupati Magelang


Melihat kendala itu, Bintoro menilai pemerintah seharusnya bisa menyediakan kantong-kantong parkir yang tidak terlalu jauh dengan kawasan Malioboro. Alternatifnya ada di Tempat Khusus Parkir (TKP) Beskalan.


Namun, dia menilai fasilitas itu belum terlalu diketahui oleh wisatawan. Sehingga Bintoro berharap ada sosialisasi yang lebih masif dari pemkot dan pemprov agar kantong parkir tersebut dapat dimaksimalkan.


Berdasarkan beberapa kali uji coba kawasan full pedestrian yang telah dilakukan, Bintoro mengakui cukup terdampak dari lesunya perputaran ekonomi. Dia berharap penerapan full pedestrian pada tahun ini bisa dikaji ulang atau jangan dulu diaplikasikan secara permanen.

Baca Juga: Perkuliahan Belum Mulai, Mikail Fajar Dwicaksono Sudah Didatangi Rektor ITB di Rumahnya Condongcatur Sleman


"Harapan kami, tahun ini bisa baru sebatas uji coba dulu saja. Penerapannya nanti mungkin baru beberapa tahun lagi secara bertahap, jangan langsung,” katanya.


Kekhawatiran yang sama juga dirasakan pedagang Teras Malioboro. Perwakilan pedagang, Slamet menilai penerapan full pedestrian bisa membuat wisatawan enggan datang. Terlebih melihat fasilitas kantong parkir bus pariwisata belum memadai.


Pasca TKP Abu Bakar Ali dan TKP Senopati dinonaktifkan, saat ini hanya ada kantong parkir TKP Ngabean yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan rombongan. Namun lokasi cukup jauh dari Malioboro.


Slamet memandang, kondisi itu memaksa wisatawan berjalan kaki cukup jauh. Sementara untuk fasilitas transportasi pendukungnya masih berbayar. Sehingga dapat memberatkan wisatawan.

Baca Juga: Satu Dekade Festival Layang-Layang di Pantai Ketawang Tarik Miliaran Rupiah ke Purworejo


Atas dasar kondisi itu, dia berharap pemerintah bisa menunda ambisi pedestrian penuh sebelum infrastruktur parkir dan shuttle gratis disiapkan dengan matang.


"Infrastruktur yang saya tuntut harus ada shuttle. Paling tidak yang harus sudah disiapkan pemerintah dan tidak berbayar,” ungkap Slamet.

Baca Juga: Menelusuri Legenda Jatikluwih: Karomah Wali, Pohon Ajaib, dan Kisah Keteguhan Sunan Geseng di Dlingo


Pemprov DIJ menargetkan skema full pedestrian dijadwalkan mulai diterapkan November 2026. Sekprov Ni Made Dwipanti Indrayanti mengungkapkan, penataan akses jalan sirip masih menjadi tantangan. Sebab masih banyak kendaraan yang memanfaatkan akses itu untuk masuk ke kawasan Malioboro.


Menurutnya, pemprov juga masih menyusun mekanisme khusus bagi bus-bus pariwisata. Salah satunya dengan menyiapkan lokasi drop off agar kendaraan wisata tidak menumpuk di sekitar kawasan Malioboro. (inu/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#full pedestrian #Pemprov DIJ #Pemkot Jogja #Wisatawan #Malioboro