JOGJA - Kaca patri telah menjadi salah satu elemen yang identik dengan gereja Katolik. Selain menghadirkan keindahan visual melalui permainan cahaya dan warna, ornamen tersebut juga menyimpan makna religius serta menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan iman kepada umat.
Koordinator Prodiakon Gereja Katolik Kristus Raja Baciro Augustinus Windu Aji mengatakan, bahwa keberadaan kaca patri bukan sekadar pelengkap estetika bangunan gereja. Sejak awal, elemen tersebut dirancang agar membantu umat mempersiapkan diri ketika memasuki ruang ibadah.
"Ketika masuk gereja orang harus sudah fokus pada doa dan iman. Untuk memfokuskan itu dibuatlah simbol-simbol yang mengingatkan soal iman dan menghiasi gereja. Maka dibuat kaca patri, yang memang umum dijumpai di gereja-gereja Katolik," ujar Windu pada Radar Jogja, Sabtu (4/7/2026).
Disebutkan bahwa, Gereja Katolik Kristus Raja Baciro yang mulai menempati bangunan baru pada 2012 memang sejak awal mengusung konsep tersebut. Berbeda dengan gereja lama yang hanya memanfaatkan gedung serbaguna sehingga minim ornamen, bangunan baru dirancang agar setiap unsur interior mendukung suasana doa dan permenungan.
Selain memiliki nilai simbolik, kaca patri juga berfungsi sebagai sumber pencahayaan alami. Cahaya matahari yang menembus kepingan-kepingan kaca berwarna-warni tersebut menciptakan suasana yang khas di dalam gereja.
"Kaca patri menjadi cara memasukkan cahaya. Cahaya tetap masuk, tapi sekaligus menampilkan ornamen yang indah. Saat kena sinar matahari muncul efek seolah-olah bercahaya dari dalam, padahal itu murni pantulan cahaya pada kaca," jelasnya.
Windu menuturkan, dari yang dia tahu, hampir seluruh gereja Katolik memiliki kaca patri, terutama gereja-gereja tua yang dibangun pada masa kolonial Belanda.
Namun demikian, tidak semua gereja menghadirkan rangkaian cerita yang lengkap pada kaca patri. Sebagian hanya menampilkan santo pelindung gereja maupun simbol-simbol keagamaan tertentu.
"Kalau filosofinya selalu ada, tapi kalau berupa cerita yang lengkap memang tidak banyak. Selain karena proses menentukan temanya tidak mudah, pembuatannya juga mahal dan memakan waktu lama," katanya.
Ia menuturkan, di Gereja Katolik Kristus Raja Baciro, seluruh kaca patri dibuat secara khusus atau custom. Prosesnya dimulai dari penyusunan konsep gambar, kemudian setiap kepingan kaca dipotong sesuai desain sebelum dirangkai menjadi satu panel utuh.
Seluruh proses tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun dan dikerjakan oleh perajin spesialis dari luar DIY.
Lebih lanjut, panel-panel kaca patri di gereja ini menampilkan sejumlah perikop dalam Kitab Suci. Sementara panel terbesar yang berada di area altar menggambarkan peristiwa penyaliban Yesus Kristus sebagai salah satu kisah sentral dalam iman Katolik.
Baca Juga: Polresta Jogja Tetapkan 14 Tersangka Baru Kasus Daycare Little Aresha, Ada Pengasuh hingga Satpam
"Ini semua dibuat custom. Dibuat konsep dulu, lalu setiap pecahan kaca disesuaikan dengan desainnya baru kemudian dirangkai menjadi satu," ungkap Windu.
Melalui perpaduan seni, cahaya, dan kisah-kisah Kitab Suci, kaca patri diharapkan tidak hanya memperindah bangunan gereja, tetapi juga membantu umat semakin menghayati makna iman setiap kali mengikuti perayaan liturgi maupun berdoa secara pribadi.
"Kita bisa memilih cerita yang ingin disampaikan di gereja melalui kaca patri ini. Jadi bukan hanya indah dipandang, tapi juga menjadi sarana mengingatkan umat akan pesan-pesan iman," tuturnya. (iza)
Editor : Iwa Ikhwanudin