Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pro Kontra Penempatan Manajer di KKMP Kota Jogja, Belum Tahu SOP-nya, Takut Rusak Gotong Royong

Iwan Nurwanto • Kamis, 2 Juli 2026 | 05:06 WIB
Suasana KKMP Gunungketur dan KKMP Purwokinanti di Kemantren Pakualaman
Suasana KKMP Gunungketur dan KKMP Purwokinanti di Kemantren Pakualaman

 

 

 

JOGJA – Selain proses pelatihannya yang menjadi sorotan, rencana penempatan manajer koperasi merah putih ternyata juga menimbulkan pertanyaan. Terkhusus bagi pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Jogja yang sudah beroperasi.

 

Ketua KKMP Gunungketur Kemantren Pakualaman Mohammad Reza Murtaza mengatakan, penempatan manajer dikhawatirkan dapat merubah ritme operasional koperasi yang selama ini sudah berjalan. Sebab ada potensi benturan antara standar operasional prosedur (SOP) yang akan dibawa manajer baru.

 

“Saya belum tahu nanti SOP-nya seperti apa, kami istilahnya wait and see. Khawatirnya nanti akan merubah ritme yang kami sudah mulai kembangkan berbasis di RT,” ujarnya saat ditemui, Rabu (1/6).

 Baca Juga: Siswi SMAN 1 Bantul Anggita Ayu Maharani Hanifah Jadi Paskibraka Nasional, Penerus Kisah Sukses Tantenya 37 Tahun Lalu

Reza membeberkan, KKMP Gunungketur selama ini berjalan dengan dasar kearifan lokal dan gotong royong masyarakat. Unit usaha yang difokuskan baru pada produksi batik cap Segoro Amarto Reborn sebagai seragam aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Jogja. 

 

Di samping kekhawatiran merubah sistem operasional koperasi, Reza juga menyampaikan ketakutannya terhadap konflik sosial. Terlebih jika manajer koperasi yang ditempatkan di Gunungketur memiliki latar belakang budaya berbeda atau tidak mampu memahami dinamika masyarakat lokal.

 

Meski begitu, ia menyatakan jika pihaknya tetap terbuka terhadap kehadiran manajer sepanjang memberikan manfaat nyata. Misal datang dengan membawa program untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. “Kalau mereka (manajer) datang hanya tidak membawa apa-apa, program atau terobosan seperti apa, ya, mending tidak usah," tegas Reza.

 Baca Juga: Tekankan Pelayanan dan Kepercayaan Publik, Jalin Pendekatan Berbasis Kemitraan Masyarakat: HUT ke-80 Bhayangkara

Berbeda dengan KKMP Gunungketur. Wakil Ketua Bidang Usaha KKMP Purwokinanti Kemantren Pakualaman Yayan Nugraha Wiranegara justru menyambut baik kehadiran manajer. Sebab dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas manajemen koperasi.

 

Yayan mengungkapkan, bahwa KKMP Purwokinanti saat ini sudah berjalan optimal. Pendapatannya mencapai sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per bulan. Seluruh pengurusnya juga telah memiliki sertifikasi di bidang masing-masing.

 

Unit usaha yang dikembangkan di KKMP Purwokinanti juga beragam. Meliputi gerai Wamira (Warung Milik Rakyat) serta pemasok kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis di Pakualaman dan hotel di Kelurahan Purwokinanti. “Kami melihat manajer koperasi bukan sebagai beban, melainkan potensi untuk bersinergi,” beber Yayan.

 Baca Juga: Ratusan Warga Ikuti Kirab Pusaka di Borobudur, Tradisi Sura Didorong Jadi Penggerak Ekonomi

Pengamat Ekonomi Y. Sri Susilo memandang penempatan manajer dari kalangan profesional di luar pengurus internal KKMP bisa menjadi langkah yang tepat. Khususnya dalam meningkatkan tata kelola koperasi. Namun tentu harus dibarengi profesionalisme.

 

Susilo menilai keresahan pengurus KKMP dengan kehadiran manajer memang hal lumrah. Namun penempatan manajer justru bisa menjadi langkah yang tepat. Terlebih jika di internal koperasi belum memiliki sumber daya manusia yang memenuhi persyaratan profesional untuk memegang posisi tersebut. "Kalau dipaksakan dari internal namun tidak proper, itu justru nantinya malah merugikan koperasi sendiri," jelas Susilo.

 

Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini menekankan penempatan manajer harus disertai syarat wajib. Yakni harus benar-benar memahami pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga operasional koperasi secara profesional.

 Baca Juga: Komisi D Sidak Progres Pembangunan Lapangan Manunggal Gombong, Pembangunan Lapangan Manunggal Gombong Diminta Ramah Disabilitas

Selain itu, dia juga menyoroti  tentang pentingnya faktor kearifan lokal. Manajer yang ditugaskan oleh pemerintah ke KKMP di tiap-tiap kelurahan harus mampu beradaptasi dengan karakter masyarakat setempat. Supaya kolaborasi dapat berjalan baik tanpa konflik perbedaan latar belakang. "Yang di-drop itu harus yang sesuai dengan putra daerah,” tegas Susilo.

 

Terkait dengan bentuk sinergitas antara manajer dan pengurus, Susilo memandang peran seorang manajer tetap harus berada di bawah pengawasan pengurus koperasi. Pengurus bertanggung jawab mengontrol kinerja manajer melalui indikator kinerja kunci (Key Performance Indicator/KPI) yang jelas.

 

Sebab menurutnya, syarat menjadi pengurus koperasi tidak hanya sekedar bersedia untuk menjalankan organisasi. Namun juga harus memahami prinsip dan pengelolaan koperasi secara garis besar. “Detailnya, itu yang menjadi urusan atau harus dikuasai oleh manajer,” terang Susilo. (inu/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#sri susilo #manajer #KKMP #Purwokinanti #Gunungketur