Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

UKT Tak Sesuai Penghasilan Orang Tua, Mahasiswa Baru Ramai-Ramai Ajukan Banding, Kampus Hanya Lihat Aspek Fisk, Bukan Kondisi Riil

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 28 Juni 2026 | 20:07 WIB
Mahasiswa mengakses informasi menggunakan komputer di perpustakaan digital Kampus UNY, beberapa waktu lalu. Foto: Guntur Aga/Radar Jogja
Mahasiswa mengakses informasi menggunakan komputer di perpustakaan digital Kampus UNY, beberapa waktu lalu. Foto: Guntur Aga/Radar Jogja

 

JOGJA - Tingginya nominal uang kuliah tunggal (UKT) di perguruan tinggi negeri (PTN) kembali memicu keluhan dari kalangan orang tua dan calon mahasiswa baru.

Mereka merasa golongan UKT yang ditetapkan pihak kampus jauh dengan realita pendapatan bulanan. Sehingga, tak sedikit yang mengajukan banding untuk meringankan biaya kuliah. Berhasilkah? 

Salah satu orang tua calon mahasiswa baru, Siti Nur Hayati mengaku UKT yang didapat anaknya setelah diterima di perguruan tinggi melalui jalur rapor alias undangan, tidak sesuai dengan pendapatan yang ia miliki.

 Perempuan berusia 53 tahun ini hanya bekerja serabutan sehingga penghasilannya pun tidak pasti.

Baca Juga: Kim Jeffrey Kurniawan Sambut Baik Rencana League Cup 2026/2027, Bantu Pemain Lokal Dapatkan Menit Bermain

"Anak saya dapat UKT Rp 3,2 juta. Wong penghasilan orang tua itu tidak pasti, bahkan seringnya di bawah Rp 3 juta. Kadang ya Rp 1 juta, kadang Rp 1,5 juta sebulan. Ini jelas jauh di bawah nominal UKT," ucapnya kepada Radar Jogja, Minggu (28/6).

Siti menjelaskan, sebenarnya saat proses pendaftaran awal lalu, sang anak masuk dalam kategori desil 4. Itu secara regulasi diperuntukkan bagi pengaju Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Namun atas saran dari guru wali kelas di sekolahnya terdahulu, pengajuan KIP-K itu diminta untuk ditunda demi mengamankan peluang lolos di jalur SNBP terlebih dahulu.

Setelah anaknya diterima, lanjut Siti, nominal UKT yang didapat jauh dari ekspektasi. Wanita yang tinggal di Druwo RT 06, Kalurahan Bangunharjo, Sewon, Bantul ini merasa keberatan dengan nominal tersebut. 

Akan tetapi demi keberlanjutan studi sang buah hati, Siti mengaku akan tetap mengusahakan segala cara untuk membayar biaya semester awal ini.

Namun ke depan, ia menyatakan tetap akan mengajukan banding UKT, agar nominalnya bisa diturunkan. Atau beralih ke program beasiswa KIP-K.

 "Informasi yang saya dapat, banding baru bisa diajukan nanti saat semester dua atau tiga. Jadi, ya untuk sementara waktu biar bisa kuliah, diusahakan maksimal dulu digolekke (dicarikan) uangnya.

Tapi besok jelas mau ajukan banding. Harapannya bisa turun sampai Rp 500 ribu," bebernya. 

​Meski begitu, Siti menyadari jalan menuju penurunan UKT tidaklah mudah. Persyaratan administrasi banding dinilai cukup ketat dan rumit.

Pasalnya, indikator penentuan UKT dari pihak kampus hanya melihat pada aset fisik, bukan pendapatan riil dari orang tua. 

Baca Juga: Layang-Layang Naga Raksasa hingga Tokoh Pahlawan Warnai Langit Kebonagung

 "Pihak kampus kan melihat data tertulis itu. Sementara mereka tidak tahu kondisi ekonomi kami yang sebenarnya saat ini," tegasnya. 

Sementara itu, calon mahasiswa baru yang diterima di jurusan Kebijakan Pendidikan UNY Lukita Rafa Aurelia menyebut sebenarnya sejak awal pendaftaran ia sudah memprediksi akan mendapat nominal UKT yang lumayan mahal.

Sebab, saat pendaftaran itu indikator yang digunakan kampus mencakup luas bangunan rumah tinggal. 

Kendati demikian, menurut Lukita, nominal yang didapatkan tetap dirasa berat, mengingat kondisi keuangan orangtuanya yang serba pas.

"Ya, saya mendapatkan UKT Rp 3 jutaan. Saya tetep merasa keberatan dan akan mengajukan banding," cetusnya. 

Oleh karena itu, dalam perjalanannya nanti, remaja berusia 18 tahun ini pun mengaku akan tetap fokus berkuliah sembari mencari peluang membantu meringankan beban orang tua. 

Baca Juga: UKT Tinggi, Ortu dan Mahasiswa Wajib Sesuaikan Kemampuan; Kampus Negeri Kini Tak Lagi Lebih Murah dari Swasta

"Tetap fokus kuliah. Tapi kalau nanti jadwalnya memungkinkan, misal kuliah pagi, sorenya saya mau coba cari kerjaan sampingan.

 Yang penting bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah," ungkapnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Mahasiswa #ukt #insight