JOGJA - Suara hentakan drum menggema di kawasan depan Museum Benteng Vredeburg, Sabtu (27/6) pagi. Bukan sekadar pertunjukan musik, Drum on Street Seri 2 ini juga menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk menyalurkan minat sekaligus melatih keberanian tampil di depan publik.
Kegiatan yang digelar komunitas Jogja Punya Drummer (JPD) itu baru memasuki penyelenggaraan kedua. Meski komunitasnya baru berusia sekitar dua bulan dengan delapan anggota inti, antusiasme peserta terus bertambah, bahkan datang dari luar DIJ.
Perwakilan orang tua sekaligus pendamping komunitas Yudha Wirastama mengatakan, ide membentuk komunitas justru muncul dari anak-anak sendiri. Para orang tua kemudian berperan mendukung agar mereka memiliki ruang berekspresi.
"Anak-anak sendiri yang punya inisiatif bikin komunitas. Kami sebagai orang tua hanya mendukung apa yang ingin mereka kembangkan," ujar Yudha kepada Radar Jogja.
Menurutnya, tujuan utama kegiatan itu bukan untuk mencari juara. Melainkan menyediakan aktivitas positif agar anak tidak menghabiskan waktu dengan gadget.
"Daripada di rumah lebih banyak main gadget atau game, di sini mereka punya wadah untuk mengembangkan hobinya dan melatih mental tampil di depan umum," katanya.
Selain penampilan komunitas, panitia juga membuka kesempatan bagi peserta umum berusia hingga 17 tahun untuk menampilkan kemampuannya secara gratis.
Yudha mengakui kompetisi drum di Jogjakarta masih relatif sedikit dibanding daerah lain seperti Solo maupun sejumlah kota di Jawa Tengah. Karena itu, ruang tampil seperti ini diharapkan bisa menjadi alternatif bagi drummer muda.
Melihat tingginya antusiasme peserta dan dukungan para orang tua, komunitas JPD berencana menggelar kegiatan serupa secara rutin di berbagai ruang publik Jogja. Tujuannya agar semakin banyak anak memiliki kesempatan tampil sekaligus menyalurkan bakat bermusik.
Di sisi lain, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Jogja Sylvi Dewajani menilai, kegiatan semacam ini penting dalam memenuhi hak anak atas aktivitas seni dan budaya.
"Drum on Street ini bagus menjadi alternatif agar anak-anak tidak hanya main HP atau game. Aktivitas seni seperti ini membentuk karakter, tanggung jawab, dan mengembangkan soft skill mereka," ujarnya.
Sylvi menambahkan, anak-anak yang memiliki aktivitas rutin di luar rumah cenderung terhindar dari berbagai risiko penggunaan gawai secara berlebihan. Termasuk kecanduan gim hingga paparan konten negatif.
Menurutnya, kegiatan santai tanpa unsur kompetisi tetap diperlukan karena memberi ruang bagi anak untuk berekspresi lebih bebas. "Namun kompetisi juga tetap penting selama didampingi orang tua sebagai sarana membangun mental dan daya juang," ulasnya.
Antusiasme peserta juga datang dari luar DIJ. Salah satunya Matthew Adriel, pelajar asal Solo yang rela datang khusus untuk mengikuti kegiatan ini.
Ia mengaku hanya memiliki waktu persiapan sekitar satu pekan sebelum tampil membawakan lagu. "Awalnya deg-degan karena persiapannya cuma seminggu, takut salah. Tapi puji Tuhan bisa berjalan dengan baik," katanya.
Matthew menilai kegiatan seperti Drum on Street penting karena mempertemukan para musisi muda dari berbagai daerah. "Acara seperti ini bagus karena kita bisa mempromosikan talenta-talenta muda, bertemu, berdiskusi, sharing, dan saling mengenal sesama musisi," ujarnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun