JOGJA - Mantan aktivis 1998 Gunawan menyebut, bagi sebagian kalangan, fenomena demo mahasiswa belakangan bukan hal baru. Terlebih dia juga dulunya aktif dalam gerakan tersebut.
Dia melihat, aksi mahasiswa baru-baru ini sebagai kelanjutan dari tradisi panjang yang telah diwariskan lintas generasi.
"Sejak dulu, aksi mahasiswa itu bagian dari tradisi. Tradisi kritis, tradisi berpikir maju, dan tradisi keberpihakan kepada rakyat," ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (25/6).
Menurutnya, esensi gerakan mahasiswa tidak sekadar turun ke jalan. Lebih dari itu, gerakan mahasiswa justru bertumpu pada kemampuan membaca situasi sosial, mengkritisi ketimpangan, serta menentukan sikap yang berpihak pada kepentingan publik.
Dalam praktiknya, kata dia, aksi mahasiswa bukanlah sesuatu yang spontan tanpa arah. Gunawan menyebut, dalam pengalaman gerakan sebelumnya, setiap aksi diawali dengan proses panjang.
Mulai dari membaca situasi nasional (sitnas) hingga menyusun teknis lapangan (teklap).
Dia menjelaskan, sitnas menjadi tahap awal untuk memahami persoalan secara menyeluruh. Sementara teklap berfungsi menerjemahkan hasil diskusi menjadi bentuk aksi konkret, mulai dari strategi massa, penyusunan tuntutan, hingga cara menjaga aksi tetap tertib dan simpatik.
"Bagaimana aksi tidak ricuh, bagaimana pesan tersampaikan, sampai bagaimana menghadapi kemungkinan dialog atau konflik, semua dipersiapkan," bebernya.
Namun, dinamika gerakan mahasiswa saat ini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Gunawan mengatakan, ada perbedaan antara gerakan mahasiswa dan protes mahasiswa.
Gerakan mahasiswa, menurutnya, memiliki arah yang jelas, menyasar persoalan struktural, serta terhubung dengan kepentingan rakyat luas. Sementara protes mahasiswa cenderung bersifat reaktif dan tidak selalu memiliki agenda jangka panjang.
"Kalau gerakan mahasiswa itu menyasar akar masalah, seperti ketidakadilan struktural. Tapi kalau protes, ya sekadar mengkritik apa yang terlihat," jelasnya.
Dia menuturkan, perbedaan ini menjadi penting di tengah maraknya aksi yang viral di media sosial (medsos). Di satu sisi kemudahan akses informasi dan platform digital membuat suara mahasiswa lebih cepat terdengar
. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru berupa kecenderungan popularitas individu yang berpotensi menggeser semangat kolektif.
Baca Juga: Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Susur Sungai dan Arung Jeram, Sedimen Sungai Code Mulai Dikeruk
Fenomena tokoh mahasiswa yang cepat dikenal publik dinilai membawa dua sisi. Di satu sisi, hal ini memperluas jangkauan isu. Namun di sisi lain, berisiko melahirkan 'aktivisme individual'.
"Kalau tidak hati-hati, gerakan bisa bergeser dari kolektif menjadi personal. Bahkan muncul istilah non-governmental individual, bukan lagi organisasi," bebernya.
Selain itu, lanjut Gunawan, tantangan lain yang muncul adalah potensi demoralisasi gerakan. Kasus dugaan 'sogokan' terhadap perwakilan mahasiswa, misalnya, dinilai dapat mencederai kepercayaan publik.
Menurutnya, gerakan yang tidak dibangun secara kolektif lebih rentan disusupi kepentingan tertentu.
"Aksi yang berjalan sendiri-sendiri itu rawan diperalat. Makanya penting menjaga keputusan tetap kolektif," ungkapnya.
Meski demikian, dia menilai aksi mahasiswa tetap efektif sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Lantaran isu yang diangkat menjadi perbincangan publik, mendapat perhatian media, dan masuk dalam diskursus kebijakan.
Namun efektivitas itu sangat bergantung pada kepercayaan publik.
Untuk menjaga kepercayaan itu, Gunawan menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dengan masyarakat. Gerakan tidak boleh terisolasi di dalam kampus, melainkan harus bersentuhan langsung dengan persoalan rakyat, mulai dari buruh, petani, hingga nelayan.
"Kalau ingin didukung publik, ya harus bersama publik. Isunya harus relevan dengan kehidupan mereka," tegasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya aksi sebagai bentuk pendidikan politik. Tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat luas yang menyaksikan.
Karena, menurutnya, aksi itu bukan sekadar protes, tapi juga pendidikan politik. "Masyarakat menilai, memahami, bahkan ikut belajar dari situ," lontarnya.
Dalam konteks ini, kata dia, cara penyampaian menjadi krusial. Aksi yang tertib, argumentatif, dan berbasis data dinilai lebih mampu membangun simpati dibanding aksi yang berujung ricuh.
Di tengah perubahan zaman, Gunawan melihat ada satu hal yang sama, yakni semangat mahasiswa. Namun yang berbeda adalah modelnya.
Di era sekarang mahasiswa justru memiliki keunggulan dari sisi akses informasi. Buku, diskusi, hingga media digital memberikan ruang lebih luas untuk membangun tradisi kritis.
Namun, kelimpahan informasi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa dituntut mampu memilah, memahami, dan mengolah informasi menjadi sikap yang objektif.
Ke depan, dia berharap, gerakan mahasiswa tetap menjaga tiga hal utama. Yakni tradisi kritis, keberpihakan kepada rakyat, dan kerja kolektif. Tanpa itu, gerakan mahasiswa berisiko kehilangan arah dan sekadar menjadi reaksi sesaat.
"Tradisi kritis itu harus dijaga. Keberpihakan kepada rakyat harus nyata. Dan gerakan harus tetap kolektif," tegasnya. (aya/laz)
Editor : Herpri Kartun