JOGJA - Kampung-kampung di Kota Jogja mulai bersolek untuk meneguhkan predikat Jogja Kota Festival. Salah satunya Kampung Sayidan di Kemantren Gondomanan yang mengenalkan konsep wisata walking tour.
Ketua Kampung Wisata Sayidan Diajeng Endah Pramita Wardani mengatakan, walking tour yang dikembangkan adalah dengan mengajak wisatawan menyusuri berbagai potensi wisata dan budaya di Kampung Sayidan. Misalnya, Jembatan Sayidan yang menjadi penghubung antara Keraton Jogja dengan Pura Pakualaman.
Wisatawan juga diajak untuk menyusuri sejarah budaya Kelenteng Fuk Ling Miau. Serta yang tidak kalah menarik, wisatawan dapat mengunjungi bangunan Gereja Gotik yang memiliki ciri khas ornamen Eropa.
Baca Juga: Seragam Gratis bagi Siswa Baru di Bantul Masih Tunggu Hasil Final Jumlah Pendaftar
Ketua Kampung Wisata Sayidan periode 2026-2031 itu juga membeberkan potensi wisata lain. Seperti Kampung Sayidan yang sudah menjadi sentra pembuatan kain ringkel Berondong selama puluhan tahun.
Diajeng berharap, potensi yang ada di Kampung Wisata Sayidan dapat didukung oleh pemerintah. Lantaran secara letak geografis kampung yang dikenal lewat salah satu lagu band Shaggydog itu berada di jantung kota.
Bahkan, menurutnya, Kampung Sayidan juga kerap menjadi jujugan bagi wisatawan asing. Menariknya, kunjungan wisatawan luar negeri itu tumbuh secara organik lewat hadirnya homestay-homestay milik masyarakat. "Jadi kami berharap kampung kami bisa dikenalkan lebih keluar oleh pemerintah,” pesan Diajeng.
Baca Juga: Chapter Jogja 2026 Kembali ke JNM, Memperkuat Sirkulasi Ekosistem Seni Rupa Kontemporer Yogyakarta
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan menyatakan, pemkot akan terus mendukung pengembangan potensi wisata berbasis kampung. Sebab, hal itu dapat menjadi salah satu upaya agar kampung di Kota Jogja mandiri melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Wawan memandang, potensi budaya dan ekonomi di tingkat kemantren sangat besar dan layak untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Bahkan pemkot menarget pada HUT Kota Jogja di bulan Oktober nanti seluruh kampung bisa memunculkan festival andalannya masing-masing.
Melalui program itu, pemkot memiliki target kampung-kampung di Kota Jogja nantinya dapat tumbuh menjadi destinasi wisata alternatif yang mandiri secara ekonomi. Ini supaya konsentrasi wisatawan tidak hanya bertumpu di kawasan Malioboro.
"Kami berharap ke depan produk yang dijajakan di setiap festival benar-benar mencerminkan identitas lokal. Bukan produk dari luar daerah," tegasnya. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita