JOGJA - Festival seni rupa kontemporer ARTJOG 2026 resmi dibuka di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6). Mengusung tema ARS LONGA: GENERATIO, penyelenggaraan tahun ini menjadi pembuka trilogi besar ARS LONGA Trilogia yang akan berlangsung sepanjang periode 2026-2028.
Kurator ARTJOG 2026 Farah Wardani menjelaskan, trilogi itu lahir dari refleksinya menjelang dua dekade perjalanan ARTJOG pada 2027. Menurutnya, seni selalu bertahan dan terus berkembang meski menghadapi berbagai dinamika sosial maupun politik.
"ARS LONGA Trilogia ini datang dari pemikiran saya menatap 2027 ARTJOG berusia 20 tahun. Kita masih berkesenian dengan banyak dinamika, seni itu panjang, dan seniman tetap berkarya meski dinamika terus terjadi," ujar Farah.
Ia menambahkan, tema generasi dipilih karena seni tidak hanya hidup melalui karya-karya individu, tetapi juga melalui proses regenerasi yang terus melahirkan ekosistem baru.
"Seni itu digerakkan oleh senimannya yang dilakukan dengan regenerasi. Dia menumbuhkan generasi baru dan tidak hanya menjadi seniman individu, tapi membangun ekosistem yang lebih besar dari karyanya," katanya.
Sebagai pembuka trilogi, tema ARS LONGA: GENERATIO mendorong dialog antargenerasi dalam praktik seni sekaligus mengajak publik membayangkan kembali relevansi sosial seni di berbagai rentang usia. Gagasan itu diwujudkan melalui dua pendekatan kuratorial utama, yakni Dialogus dan Practica.
Baca Juga: Hadapi Disrupsi Teknologi, ISI Jogjakarta Dorong AI Jadi Alat Bantu Seniman
Segmen Dialogus menghadirkan karya-karya kolaboratif yang menyoroti dialog antargenerasi dan persoalan generasional. Sementara segmen Practica menampilkan karya seniman individu yang merepresentasikan beragam praktik seni dan isu kontemporer.
Dalam penyelenggaraan kali ini, ARTJOG secara khusus menunjuk seniman asal Jogja Roby Dwi Antono sebagai commission artist. Ia menerjemahkan tema generasi melalui rangkaian karya instalasi patung dan ruang imersif bertajuk GENERATIO: CYCLUS VITAE.
Karya itu terbagi dalam tiga bagian, yakni Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi yang menghiasi fasad utama gedung, Rahim Kolektif dan Generasi Alien, serta Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi.
Sebanyak 25 seniman undangan dan 19 seniman muda hasil seleksi berpartisipasi dalam pameran utama tahun ini. ARTJOG Kids juga kembali hadir dengan melibatkan 52 seniman anak dan remaja berusia 6-15 tahun dari berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, Founder ARTJOG Heri Pemad turut menyampaikan apresiasi kepada Farah Wardani yang untuk kali pertama memegang peran sebagai kurator ARTJOG. "ARTJOG tahun ini membawa kurator baru, Farah Wardani. Saya sangat berterima kasih kepada Farah sampai pagi ini tadi menghadirkan teks, ornamen, lighting, dan semua aspek," kata Heri.
Menurutnya, penyelenggaraan ARTJOG tahun ini akan berlangsung selama 73 hari dan tetap mengedepankan semangat kolaborasi dalam ekosistem seni.
"Selama 73 hari kami selalu menyempurnakan dan menghidupkan karya yang sudah disajikan. Kita sepakat tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman semua, yang terpenting ARTJOG bisa terlaksana dengan baik dan lancar," ujarnya.
Selain pameran utama, ARTJOG 2026 juga menghadirkan berbagai program pendukung seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, Love ARTJOG, ARTCARE Indonesia, dan The Others Lab by TACO yang mengangkat isu lingkungan melalui pendekatan desain dan eksperimen material.
Panggung performa ARTJOG yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation juga kembali digelar setiap akhir pekan. Program ini menghadirkan beragam pertunjukan musik, tari, teater, hingga seni multidisiplin dari Indonesia, Prancis, Australia, dan berbagai negara lainnya.
Di sisi lain, salah seorang seniman yang terlibat dalam ARTJOG 2026 adalah vokalis FSTVLST Sirin Farid Stevy. Dalam kesempatan tersebut, Farid menegaskan partisipasinya kali ini tidak mewakili dirinya secara personal, melainkan bersama kolektif Paseduluran Nandur Banyu dari Gunungkidul.
"Saya kali ini tidak berkarya sendiri, dan saya kolektif bersama teman-teman dari Gunungkidul. Jadi saya tidak mewakili diri sendiri, tapi mewakili kolektif Paseduluran Nandur Banyu," ujarnya.
Farid mengatakan, karya yang mereka tampilkan berangkat dari praktik keberlanjutan yang selama ini dijalankan bersama masyarakat. Di mana, salah satu siratan yang terkandung dalam karya itu adalah soal keberlanjutan, dan berbicara soal keberlangsungan hidup, dengan simbol air.
"Yang kami bawa hanya sekadar simbol, satu bagian kecil dari dialog yang kami bangun dari praktik di Gunungkidul. Kami membawa sumur, literal sumur berupa batuan karst dari Gunungkidul," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun