JOGJA - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Jogja pada tahun ajaran 2026/2027 masih menghadapi tantangan kekurangan murid.
Terkhusus pada jenjang sekolah dasar (SD) negeri.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja Budi Santosa Asrori mengatakan, pada SPMB tahun lalu keterisian murid jenjang SD berada di kisaran 75 persen.
Dari persentase tersebut, kekurangan siswa sekitar 1.000 siswa karena total kapasitas SD di Kota Jogja mencapai 3.700 siswa.
Baca Juga: Kapten Kanada Alphonso Davies Siap Debut di Piala Dunia 2026 Saat Lawan Qatar
Budi mengakui, pemenuhan siswa kuota SD memang menjadi tantangan.
Meski tidak merinci daftar sekolah yang kekurangan murid, pihaknya mendorong para sekolah berinovasi dalam menggaet minat orang tua dan siswa untuk mendaftar di SD negeri.
Misalnya dengan mempromosikan kualitas sekolah.
Selain itu, SD negeri di Kota Jogja juga tidak diberikan batasan untuk menarik siswa luar kota seperti dari kabupaten Sleman dan Bantul yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kota Jogja.
Supaya target minimal 80 persen keterisian SD bisa terpenuhi tahun ini.
“Sekolah ya cari murid langsung, yang kedua harus meningkatkan prestasinya. Misal nilai TKA-TKAD (Tes Kemampuan Akademik) bagus, itu sudah menarik,” ujar Budi di Balai Kota Jogja, Rabu (17/6/2026).
Mantan Sekretaris Disdikpora Kota Jogja itu menyatakan, bahwa SPMB untuk jenjang SD akan dimulai pada tanggal 22 hingga 24 Juni 2026 mendatang.
Pendaftaran siswa pada jenjang SD hanya menggunakan syarat usia minimal tujuh tahun tanpa seleksi baca, tulis, dan hitung (calistung).
Meski begitu, siswa yang diterima tetap disesuaikan kapasitas masing-masing sekolah.
Kendati ada syarat usia, Budi menyebut pihaknya memberi kelonggaran bagi calon siswa yang berusia enam tahun untuk masuk ke SD negeri.
Namun sekolah wajib memiliki sisa kuota untuk menerima murid.
Baca Juga: Viral Mahasiswa Amankan Pria Bertugas Sebagai Intel di UMY, Begini Kronologinya
“Sistem seleksinya nanti diurutkan berdasarkan usia, dari yang paling tua terlebih dahulu. Jika kuota masih memenuhi, anak-anak yang berusia enam tahun akan kami terima,” terangnya.
Kepala SD Negeri Kintelan 2 Jogja Kuswanto menyatakan bahwa sekolah yang dipimpinnya mengalami kekurangan siswa.
Pada SPMB tahun 2025 hanya ada empat siswa yang mendaftar.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat sekolahnya kurang diminati siswa baru.
Pertama, karena SD Negeri Kintelan 2 Jogja berada dekat dengan sekolah lain yang dipandang memiliki kualitas lebih bagus.
Serta sekolah tersebut menggunakan sistem pendaftaran real time online (RTO).
Baca Juga: Hasil Kolombia vs Uzbekistan, Luis Diaz Cetak Gol saat Los Cafeteros Taklukkan Serigala Putih
Skema pendaftaran sekolah RTO itu dinilai cukup berpengaruh.
Sebab jika calon siswa mendaftar pada sekolah dengan sistem RTO maka siswa yang tidak diterima pada sekolah pilihan pertama secara otomatis akan terlempar ke sekolah pilihan kedua yang sama-sama menggunakan sistem RTO.
Bukan sekolah non RTO seperti SD Kintelan 2.
Berdasarkan data di Disdikpora Kota Jogja ada 35 SD yang menggunakan sistem pendaftaran RTO.
Sementara untuk yang menggunakan non RTO atau sistem pendaftaran manual berjumlah 51 sekolah.
“Dengan semangat yang baru kami akan meningkatkan kualitas sekolah dan menempuh beberapa langkah untuk bisa menarik perhatian dan minat siswa mendaftar di SDN Kintelan 2,” tegas Kuswanto. (inu)
Editor : Meitika Candra Lantiva