Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ratusan Suporter PSIM Jogja Gelar Topo Bisu di Malam 1 Suro, Ketuk Pintu Langit agar Bisa Kembali ke Stadion Mandala Krida

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 16 Juni 2026 | 22:23 WIB
LAKU TOPO: Para suporter PSIM Jogja saat melakukan aksi topo bisu malam 1 suro dengan mengelilingi kawasan Stadion Mandala Krida tadi malam (16/6). Suporter berharap Stadion Mandala Krida bisa kembali menjadi home base atau kandang PSIM. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
LAKU TOPO: Para suporter PSIM Jogja saat melakukan aksi topo bisu malam 1 suro dengan mengelilingi kawasan Stadion Mandala Krida tadi malam (16/6). Suporter berharap Stadion Mandala Krida bisa kembali menjadi home base atau kandang PSIM. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

JOGJA - Ratusan suporter PSIM Jogja memadati kawasan Stadion Mandala Krida pada malam 1 Suro, Selasa (16/5) malam. Bukan untuk menggelar konvoi kendaraan atau menyanyikan chant, melainkan melakukan aksi laku topo atau topo bisu. Aksi dipicu keprihatinan atas kerinduan mendalam Laskar Mataram untuk bisa kembali berlaga di rumah mereka sendiri.

Diketahui, dalam mengarungi kompetisi Super League musim 2025/2026, PSIM tidak bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai home base. Itu akibat buntut dari kasus korupsi renovasi stadion tersebut. Kondisi itu memantik keprihatinan mendalam para suporter. 

Penggagas aksi Andre Miliran menjelaskan, gerakan ini murni lahir dari kegelisahan dan keluhan para suporter. Sebab, menurutnya, Stadion Mandala Krida bukan sekadar bangunan beton, melainkan identitas dan marwah tim PSIM Jogja. 

 "Sebagai suporter PSIM, kami tidak bisa melihat tim main di Mandala Krida karena ada kasus korupsi. Mandala Krida adalah nyawa kami. Di sana kami dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan," jelasnya di sela-sela aksi.

Baca Juga: PSIM Jogja Sudah Kantongi Nama Manajer Baru

Andre mengatakan, perjuangan untuk mengembalikan PSIM ke Mandala Krida sebagai kandang, tidak akan surut. Sehingga, momentum malam 1 Suro dipilih sebagai waktu yang sakral untuk memanjatkan doa terbaik.

 "Diam bukan berarti kita kalah, tapi itulah doa tertinggi. Apalagi di malam bulan Suro ini adalah momen yang paling tepat agar Yang di Atas mendengarkan doa kami," tegasnya.

Dari pantauan Radar Jogja, aksi terbuka untuk umum ini berlangsung khidmat. Prosesi diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan dengan lantunan kidung Jawa di Wisma PSIM Jogja.
Setelah itu, ratusan suporter berjalan mengitari area Stadion Mandala Krida.

"Kami kelilingi Mandala Krida karena kami meminta pertolongan kepada Yang di Atas agar segera bisa direalisasikan (kembali ke Mandala Krida). Karena adik-adik sangat berharap sekali," Andre. 

Baca Juga: PSIM Jogja Sudah Lepas Sejumlah Pemain, Van Gastel Masih Matangkan Komposisi Laskar Mataram Untuk Super League 2026/2027

Selain sebagai jalur ketuk pintu langit demi nasib stadion, lanjut Andre, aksi kebudayaan ini juga menjadi ajang introspeksi massal bagi suporter PSIM. Harapannya, lewat pendekatan budaya ini stigma miring yang selama ini melekat pada suporter sepak bola bisa terkikis.

"Kami yang selama ini sering naik motor bleyer-bleyeran di jalan, seenaknya saja. di malam ini kami introspeksi. Dengan kebudayaan ini, kami tunjukkan bahwa suporter PSIM itu bukan negatif, melainkan berbudaya," ujarnya. (ayu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Stadion Mandala Krida #Brajamusti #suporter PSIM Jogja #1 suro #PSIM Jogja