JOGJA – Sebanyak 321 dari 2.078 permohonan program Tim Reaksi Cepat Masyarakat Jogja Olah Sampah (TRC Mas Jos) selama 2026 ditolak Dinas Lingkungan Hidup (DLH ) Kota Jogja. Hal ini karena lokasi permohonan berasal dari luar Kota Jogja.
Kepala DLH Kota Jogja Rajwan Taufiq mengatakan, selama ini permohonan dari luar daerah yang masuk ke TRC berasal dari wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Jogja. Seperti Kabupaten Sleman dan Bantul. Namun pada awal program tersebut diluncurkan, pihaknya sempat menerima permohonan dari Kulon Progo dan Gunungkidul.
“Kami kemudian jelaskan bahwa pemohon di luar kewenangan dan bisa menghubungi DLH setempat,” ujar Rajwan Selasa (16/6).
Baca Juga: Tradisi Nawu Sendang Jadi Simbol Syukur Masyarakat Kaliberot Atas Sumber Air di Sumur Gedhe
Sementara dari total 2.078 permohonan yang masuk, sebanyak 1.757 permohonan sudah ditangani. Namun masih ada sekitar 425 permohonan yang perlu dilengkapi datanya.
Dijelaskan, data pemohon yang belum lengkap meliputi belum adanya lokasi pengambilan sampah, jenis sampah, dan volume sampahnya. Data-data tersebut diperlukan untuk menentukan armada yang digunakan untuk menjemput.
Diketahui, layanan ini melayani penjemputan berbagai jenis sampah spesifik rumah tangga. Seperti kasur bekas, perabot rumah tangga, barang elektronik, hingga ranting pohon.
Baca Juga: Lawan Dampak Gadget pada Anak, Ganara Art Ajak Warga Jogja Jajal Terapi Seni di GIK UGM
“Kalau sampahnya banyak dan jalannya lebar maka menggunakan truk. Sementara jika sampahnya sedikit dan jalannya tidak lebar maka bisa menggunakan armada roda tiga,” bebernya.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, Mas Jos merupakan gerakan pemerintah dengan masyarakat untuk bersama-sama menerangi permasalahan sampah. Sebab pengelolaan sampah bukan hanya persoalan teknis. Namun juga bagian dari revolusi mental untuk mewujudkan ketertiban, keadilan sosial, kesejahteraan, serta kemandirian masyarakat.
“Program ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah serta melakukan pemilahan secara tepat sejak dari sumbernya," jelas Hasto. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita