JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi adanya potensi cuaca ekstrem di tengah musim kemarau. Kondisi tersebut dipicu sejumlah aktivitas atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer pihaknya mendeteksi adanya aktivitas gelombang rossby ekuator. Fenomena yang dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif itu terjadi di Pulau Jawa.
Adapun awan konvektif merupakan jenis awan yang terbentuk akibat pemanasan permukaan bumi. Pertumbuhan awan yang masif kerap memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat lokal, angin kencang, dan petir.
Selain itu, Feri mengungkapkan bahwa di tengah musim kemarau ini kelembaban udara di DIY juga cenderung basah. Sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan. Terutama pada siang dan sore hari.
“Kami imbau masyarakat tetap memantau informasi cuaca dan iklim terkini, mengingat hujan masih berpotensi terjadi di sebagian wilayah DIY,” ujar Feri, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, potensi cuaca ekstrem dapat terjadi di wilayah dengan kondisi geografis pegunungan Seperti di Kulon Progo bagian utara dan Gunungkidul bagian utara. Namun di wilayah perkotaan seperti kabupaten Sleman tetap perlu menyiapkan mitigasi.
Baca Juga: Ini Respons Gubernur DIY Hamengku Buwono X di Tengah Kenaikan Harga BBM, Imbau Masyarakat Begini
Selain mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa hujan, Feri juga mengingatkan adanya bahaya di wilayah pesisir. Sebab berdasar pemantauan dalam beberapa hari terakhir ketinggian gelombang laut masuk kategori sedang atau berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter.
“Bagi nelayan dan pelaku aktivitas kelautan, selalu perhatikan prakiraan cuaca maritim dan peringatan dini sebelum beraktivitas,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyampaikan bahwa perubahan cuaca signifikan tetap menjadi perhatian pihaknya. Sebab berpotensi menimbulkan dampak bencana.
Baca Juga: Tak Memenuhi IPAL, Delapan SPPG di Kulon Progo Ditutup Sementara
Dia memastikan, BPBD Kota Jogja juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor dengan berbagai pihak. Baik itu BMKG, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), serta pemerintah wilayah seperti kemantren dan kelurahan.
“Koordinasi ini penting agar informasi peringatan dini bisa segera sampai ke masyarakat,” ungkap Darmanto. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita