Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pameran Nusa Wastra 2026 Resmi Dibuka di Museum Sonobudoyo Jogja, Hadirkan Puluhan Koleksi Lintas Era dari Seluruh Indonesia

Fahmi Fahriza • Jumat, 5 Juni 2026 | 21:15 WIB
SARAT FILOSOFI: Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk ”Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Sonobudoyo, Jogja, Sabtu(5/6/2026).
SARAT FILOSOFI: Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk ”Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Sonobudoyo, Jogja, Jumat (5/6/2026). (Foto: Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

JOGJA - Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk "Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara" resmi dibuka di Museum Sonobudoyo Jogja, Jumat (5/6/2026).

Pameran yang berlangsung hingga 29 Juli 2026 itu menampilkan 85 koleksi wastra dan 22 benda penunjang koleksi dari 40 lembaga yang terdiri atas museum, institusi pendidikan, dan lembaga kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang membuka pameran ini mengatakan, wastra merupakan salah satu ekspresi budaya yang mencerminkan besarnya keragaman Indonesia.

Menurutnya, setiap kain tradisional tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan nilai, filosofi, serta kearifan lokal yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga: Jogja Bersinar Perkuat Komitmen Menuju Wisata Nir Emisi, Pemkot Targetkan Konversi 500 Bentor Jadi Betrik Kurangi Polusi 

"Di balik ekspresi budaya itu ada filosofinya, ada harapan, ada doanya. Sebagai contoh motif batik Sidomukti melambangkan kemuliaan, lalu Mega Mendung melambangkan ketenangan dan kesabaran," ujar Fadli.

Ia menilai, kekayaan wastra Nusantara menjadi bukti besarnya warisan budaya Indonesia yang lahir dari lebih dari 1.300 kelompok etnis yang tersebar di ribuan pulau.

Keragaman itu, kata dia, menjadikan Indonesia memiliki kekayaan ekspresi budaya yang sulit ditemukan di negara lain.

Dalam kesempatan itu, Fadli juga menyoroti keberhasilan batik yang kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Apalagi setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2009. 

Keberhasilan itu dinilai menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat terus berkembang apabila didukung oleh ekosistem yang kuat.

EKSPRESI BUDAYA: Pengunjung mengamati koleksi kain yang dipajang dalam Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk ”Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Sonobudoyo, Jogja, Jumat (5/6/2026).
EKSPRESI BUDAYA: Pengunjung mengamati koleksi kain yang dipajang dalam Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk ”Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Sonobudoyo, Jogja, Jumat (5/6/2026). 
(Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

"Kalau kita melihat ke tahun 1970-an atau 1980-an, batik belum seperti sekarang. Ekosistemnya dibangun bertahap dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia," katanya.

Menurut Fadli, keberhasilan itu perlu menjadi inspirasi bagi pengembangan berbagai wastra Nusantara lainnya agar semakin dikenal di tingkat internasional.

Pemerintah, lanjutnya, juga terus mendorong diplomasi budaya melalui promosi kain tradisional Indonesia di berbagai forum dunia.

Sementara itu, Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, adanya pameran nasional ini merupakan hasil kolaborasi museum-museum di Indonesia yang disepakati melalui Musyawarah Nasional Museum Indonesia.

Baca Juga: Penggunaan QRIS Tumbuh 62,19 Persen, Jadi Indikator Menguatnya Digitalisasi Ekonomi di DIY

Penyelenggaraan dilakukan secara bergilir dengan museum tuan rumah bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan.

Ia menjelaskan, pameran tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan koleksi, tetapi juga sarana memperkuat kerja sama antarmuseum dalam upaya pelestarian wastra Nusantara secara berkelanjutan.

"Kami ingin pameran ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang kerja sama yang terus menjaga estafet pelestarian wastra Nusantara," ujar Ni Made.

Pameran tahun ini menghadirkan beragam koleksi kain tradisional. Mulai batik, tenun, songket hingga kain kulit kayu atau barkcloth dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati ruang imersif yang memadukan unsur seni dan teknologi untuk menghadirkan pengalaman baru dalam memahami motif dan perjalanan sejarah wastra Nusantara.

Ni Made menambahkan, pendekatan itu dilakukan untuk memperluas jangkauan edukasi museum. Terutama kepada generasi muda yang menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya di masa depan.

"Di balik selembar kain ada proses panjang, pengetahuan, keterampilan, nilai sosial, hingga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Nusa Wastra #Living Patterns of Nusantara #museum sonobudoyo #Menteri Kebudayaan Fadli Zon #fadli zon