Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puluhan Bentor Dimusnahkan, Jogja Ditargetkan Bersih Bentor 2028: Bajaj Tinggal Tunggu Regulasi Penertiban

Iwan Nurwanto • Rabu, 3 Juni 2026 | 20:52 WIB
Petugas mengoperasikan alat berat untuk memusnahkan becak motor di kompleks Kantor UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Jogja, Rabu (3/6/2026). Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja.
Petugas mengoperasikan alat berat untuk memusnahkan becak motor di kompleks Kantor UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Jogja, Rabu (3/6/2026). Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja.

JOGJA – Sebanyak 50 unit becak motor (bentor) dihancurkan menggunakan alat berat di Halaman UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Giwangan, Rabu (3/6/2026). Dan pengemudi bentor resmi berkomitmen beralih ke bacak listrik (betrik). Pemusnahan bentor ini menjadi langkah awal mewujudkan transportasi ramah lingkungan di kawasan Sumbu Filososi pada 2028.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, konversi bentor menjadi betrik merupakan salah satu komitmen pemerintah kota (pemkot) untuk mendukung transportasi ramah lingkungan dan pelestarian kawasan sumbu filosofi. Dia menarget tidak akan ada lagi bentor yang beroperasi di kawasan Malioboro pada 2028 mendatang.

“Harapan saya, tahun 2028 itu semua sudah tidak ada lagi becak motor di Malioboro,” ujar Hasto di sela seremonial penyerahan betrik kepada pengemudi bentor di UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Giwangan.

Baca Juga: Gubernur DIY Hamengku Buwono X Minta Kasus TKD Lurah Condongcatur Tetap Diproses Hukum, Ini Kata Raja Keraton

Hasto mengklaim populasi bentor saat ini terus berkurang. Dari total 900 bentor yang beroperasi di Malioboro, 260 di antaranya sudah beralih menjadi betrik. Strategi percepatan konversi terus dilakukan secara bertahap melalui dukungan anggaran.

Untuk mencapai target tersebut, Hasto akan segera merumuskan dukungan anggaran di APBD Perubahan 2026 dan APBD 2027. Sementara untuk mencegah bertumbuhnya bentor baru di Kota Jogja, pemkot sudah berkoordinasi dengan paguyuban untuk menyetop penambahan armada maupun pengemudi.

“Sudah kita kunci, oh jumlahnya segini, jadi yang-yang belum tinggal segini, itu tidak tambah,” tegas Hasto.

Baca Juga: Persib Bandung Terima Bonus Fantastis dari Gubernur Jawa Barat Setelah Hattrick Juara, Dedi Mulyadi: Bukan dari APBD

Sementara untuk penertiban angkutan umum ilegal lain seperti bajaj, dia masih berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY. Lantaran kendaraan bermotor roda tiga itu merupakan angkutan umum lintas kabupaten/kota.

“Perhubungan provinsi dan kota dan kabupaten bersama-sama untuk menyikapi itu,” jelasnya.

Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti menyatakan, sampai saat ini kendaraan bajaj memang belum memiliki izin operasional. Pihaknya tengah berembuk dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan batas larangan operasional bajaj. Kemudian dengan kepolisian untuk upaya penindakan.

Baca Juga: Aturan TPP PNS Kulon Progo Dirombak, Prestasi Kerja Hingga Media Sosial OPD Jadi Indikator Penentu

Dalam upaya akselerasi konversi bentor menjadi betrik, pihaknya terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya seperti kementrian dan BUMN untuk bantuan pengadaan. Serta bersama sekolah kejuruan untuk melakukan produksi armada. Pun dengan pemkot untuk penambahan stasiun pengisian listrik untuk betrik.

“Tadi dikatakan Pak Wali itu Senopati menjadi endapan tentunya nanti akan ada di sana. Saat ini kami baru punya satu di Ketandan,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Becak Listrik Malioboro Petrus Julianto menyatakan, pengemudi motor sejatinya antusias untuk mengganti armadanya menjadi kendaraan listrik. Namun, terdapat tantangan teknis yang dirasakan oleh para pengemudi di lapangan terkait operasional betrik.

Baca Juga: Sudah 87 Titik Api yang Muncul di Rumah Seyegan, BPPTKG Keruk Rawa untuk Keluarkan Gas

Petrus menekankan, dukungan pemerintah sangat krusial. Terutama dalam penyediaan fasilitas yang menunjang mobilitas becak listrik. Seperti titik stasiun pengisian daya yang sampai saat ini masih terbilang sangat minim untuk memenuhi kebutuhan operasional para pengemudi.

Selain itu, terdapat perbedaan mencolok antara bentor dan betrik dari segi operasional. Menurutnya betrik memiliki keterbatasan jarak tempuh karena bergantung pada daya tahan baterai. Berbeda dengan bentor yang lebih fleksibel untuk jarak jauh. Sehingga banyak pengemudi betor yang merasa lebih nyaman dengan kendaraan berbahan bakar minyak.

“Namun mereka memilih untuk beradaptasi demi mendukung kebijakan pemerintah, biar ke depannya kita masih bisa mengais rezeki di sepanjang Malioboro," ungkapnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Becak Listrik #HUT Pemkot Jogja #bentor #transportasi ramah lingkungan #pemusnahan