JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja terus mendorong industri kecil dan menengah (IKM) naik kelas. Bentuknya berupa menjembatani pelaku usaha dengan sektor perhotelan. Ini agar jajanan pasar atau tradisional mereka bisa menjadi konsumsi makanan hotel.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan, produk kudapan jajanan pasar tidak hanya memiliki daya tarik dari segi rasa. Namun juga mengandung nilai budaya, potensi wisata dan pasar yang luas. Termasuk untuk kebutuhan konsumsi di hotel.
“Hotel membutuhkan kepastian. Produknya harus baik, jumlahnya konsisten, pengiriman tepat waktu dan komunikasi bisnisnya jelas,” ujar Wawan di Balai Kota Jogja, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Molor! Pemohon Keluhkan Pengajuan Izin PBG Lambat, Harus Nunggu 2,5 Tahun: Ini Kata Hasto Wardoyo
Meski begitu, Wawan mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi para IKM jajanan pasar supaya produknya mampu masuk ke sektor perhotelan. Misalnya harus memenuhi standar kualitas, kebersihan, kemasan, kontinuitas suplai hingga sistem pemesanan yang tertata. Itu karena sektor perhotelan memang butuh kepastian pelayanan dan kualitas produk.
Oleh karena itu, politisi berlatar belakang pengusaha itu berharap para pelaku IKM jajanan pasar bisa terus meningkatkan kualitas produknya. Kemudian juga diberikan ruang kerja sama yang konkret dengan para pelaku usaha perhotelan.
Di samping itu, Wawan juga menekankan tentang pentingnya program pembinaan hingga dukungan perbankan. Menurutnya, skema pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR) super mikro dapat membantu pelaku usaha menjaga arus kas. Sebab sistem pembayaran hotel umumnya dilakukan secara berkala.
“Pelaku usaha tetap perlu dukungan modal agar produksi berjalan,” bebernya.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto Raharjo menyampaikan, sudah memberikan ruang bagi para pelaku IKM jajanan pasar untuk berkembang. Misalnya dengan mempertemukan mereka dengan Indonesian Chef Association (ICA) DIY pada akhir Mei lalu.
Para pelaku usaha jajanan pasar diberikan pendampingan mulai dari showcase produk, produk tasting, hingga sesi business matching antara pelaku usaha dan pihak hotel. Dia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan kerja sama nyata antara pelaku usaha dengan pemilik hotel.
“Kami ingin kerja sama dapat berkelanjutan untuk penguatan produk lokal Kota Jogja,” terang pejabat yang akrab disapa Totok itu.
Sementara itu, Ketua Indonesian Chef Association Jogjakarta Fajar Subeni menilai kebutuhan hotel terhadap jajanan pasar cukup tinggi.
Sebab sangat dibutuhkan berbagai kegiatan. Bahkan sebenarnya banyak hotel yang memiliki kecenderungan untuk membeli dari pelaku IKM dibandingkan memproduksi sendiri.
“Ini menjadi peluang besar bagi UMKM lokal,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita