JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat perubahan pola perubahan inflasi pada bulan Mei kemarin. Jika biasanya bahan pangan menjadi pemicu utama, kini cenderung berubah menjadi sektor transportasi. Khususnya pada komoditas oli kendaraan dan bahan bakar minyak (BBM).
Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan, sektor transportasi menjadi pemicu inflasi lantaran dipengaruhi kondisi global. Yakni karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan dampak perang di Timur Tengah.
Pada periode bulan Mei sektor transportasi menyumbang inflasi hingga 0,22 persen. Pemicu inflasi tersebar karena penyesuaian biaya tambahan bahan bakar pada sektor angkutan udara.
Kemudian disusul kenaikan harga bahan bakar non-subsidi seperti Pertamax Turbo menjadi Rp19.900 per liter. Serta penyesuaian harga pada solar dan pelumas juga menambah tekanan.
“Selain transportasi, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya juga terpantau mengalami kenaikan, yang utamanya didorong oleh fluktuasi harga emas perhiasan,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Selasa (2/6/2026).
Meski mengalami perubahan pola inflasi, Mantan Kepala BPS Gunungkidul itu memastikan inflasi di Kota Jogja masih dalam kategori aman. Lantaran angkanya berada di 2,99 persen. Masih di bawah batas aman inflasi yang ditentukan pemerintah pusat di angka 3,5 persen.
Sementara untuk proyeksi di bulan Juni, Joko memprediksi adanya pola perubahan kebutuhan masyarakat karena bertepatan dengan momentum tahun ajaran baru. Komoditas seperti peralatan sekolah, seragam, alat tulis, hingga biaya masuk sekolah berpotensi meroket permintaannya.
“Kami akan memantau apakah ada kenaikan harga pada komoditas tersebut. Namun biasanya perubahannya tidak terlalu drastis,” jelas Joko.
Sementara salah satu warga Kota Jogja, Purwanto mengaku sudah merasakan dampak dari inflasi tersebut. Terkhusus pada komoditas oli mesin kendaraan. Dia mengaku biasanya membeli oli mesin motor di harga Rp 60 ribu. Namun sekarang sudah berada di kisaran Rp 67 ribu.
Warga Kemantren Wirobrajan itu memahami kenaikan komoditas oli mesin kendaraan disebabkan dampak dari situasi global. Namun dia berharap agar situasi tersebut kembali normal.
“Ya harapannya harga oli motor bisa normal, karena sudah jadi kebutuhan bulanan,” bebernya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin