Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Jogjakarta Prediksi Bediding Tahun Ini Lebih Dingin dan Panjang, Ini Alasannya...

Iwan Nurwanto • Senin, 1 Juni 2026 | 20:15 WIB
Musim bediding.
Musim bediding.

JOGJA - Fenomena perubahan suhu udara yang dingin atau bediding kini mulai terasa di DIY. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memprediksi bediding pada tahun ini akan lebih dingin dengan durasi lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena suhu dingin memang lumrah terjadi ketika musim kemarau. Hal tersebut disebabkan disebabkan oleh pergerakan massa udara dari Australia yang membawa udara dingin dan kering lalu melewati wilayah Indonesia.

Fenomena yang akrab disebut angin muson Australia itu membuat kandungan air di dalam tanah menipis. Alhasil kandungan uap air pun berkurang. Sehingga berdampak pada kelembapan udara yang rendah atau terasa lebih kering.

Baca Juga: Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Sebut jika Nilai-nilainya Tak Terwujud dalam Kehidupan Nyata, Sejatinya Pancasila Hilang dari Bumi Indonesia

Selain itu, selama musim kemarau tutupan awan juga relatif sedikit. Sehingga pantulan panas yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan. Namun langsung terlepas dan hilang ke angkasa yang memicu suhu dingin.

Menurutnya, kondisi musim kemarau tahun ini yang cenderung lebih panjang dan kering berpotensi membuat fenomena bediding menjadi lebih dingin. Bahkan durasinya juga lebih panjang. Tidak hanya terasa pada malam hari saja. Namun juga hingga pagi dan mendekati siang hari.

“Musim kemarau yang diprediksi lebih kering dari normal berpotensi membuat durasi periode bediding dapat lebih panjang,” ujar Reni saat dikonfirmasi Senin (1/6).

Baca Juga: Dispertapa Kulon Progo Temukan Ratusan Hewan Kurban Terjangkit Cacing Hati Selama Idul Adha

Berdasarkan pemantauan BMKG, di awal musim kemarau seperti sekarang suhu udara saat malam dan dini hari masih tergolong normal. Rata-rata berada di kisaran 22-23 derajat celcius. Suhu terendah tercatat pada tanggal 31 Mei 2026 dengan suhu 21,4 derajat celcius.

Reni mengingatkan, suhu udara yang lebih dingin berpotensi terjadi saat memasuki puncak musim kemarau. Dia pun mengimbau agar masyarakat mulai bersiap dengan menyiapkan pakaian hangat saat beraktivitas di malam hari. “Puncak musim terjadi pada periode Juli hingga Agustus,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengungkap bahwa di awal musim kemarau ada beberapa jenis penyakit yang perlu diwaspadai. Terutama infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan diare.

 

Endang meminta agar kedua penyakit tersebut menjadi perhatian karena tidak jarang mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Upaya pencegahannya dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Perlu untuk mencuci tangan menggunakan sabun, serta konsumsi konsumsi gizi seimbang," bebernya. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#muson australia #suhu dingin #BMKG Jogjakarta #musim kemarau #Bediding